Sebagai mahluk sosial, manusia punya kecenderungan untuk berkelompok demi memenuhi kebutuhan masing-masing. Tak bisa dipungkiri, kita nggak bisa urip dewean, masih butuh uluran tangan orang lain.

Contoh gampang dari budaya hidup berkelompok itu adalah grup WhatsApp. Tujuannya: mengumpulkan beberapa individu dalam suatu kelompok agar bisa memberi informasi secara masif dan efektif kepada beberapa kepala. Nggak perlu japri siji-siji lek onok kabar gaswat nan pelik.

Jadi nggak heran kalau onok opo-opo, kalean pasti bilang, “coba cek grup onok info nggak cuk!” Sampek wes ngelontok nang ndas kalimat iku.

Dan sebagai individu, manusia membutukan waktu untuk pergi sejenak dari kelompok, punya waktu sendiri, me time lah istilahe. Apalagi kalau dirasa kelompok tak memberikan apa yang dicarinya atau terlalu ramai sehingga ujungnya ya chaos semata.

Hal itu pula yang membuat beberapa orang left grup dari WhatsApp dan ini menimbulkan prasangka cenderung negatif jika tidak disertai penjelasan ke anggota grup lain alasan meninggalkan grup.

Tapi, kadang beberapa hal memang nggak perlu dijelaskan, tapi harus dimengerti. Huwenak. Dan tulisan ini berusaha menebak atau memberi gambaran alasan mengapa beberapa orang memutuskan left grup, sehingga tak perlulah menganggap mereka egois atau apa, siapa tahu yang salah malah anggota dalam grup itu sendiri.

Sing Rame Iku-Iku Ae

“Jancuk lapo ae se rame grup iki!” umpatmu. Sebenere wajar seh kalau grup rame, malah kalau sepi koyok kuburan nggak enak. Tapi lain soal kalau yang rame itu orang-orang tertentu, arek-arek iku ae sing ngerameni. Kamu pun kadang mbatin, kengangguren ta kok sik rame nang grup, nggak nduwe kesibukan ta coookkk!

Sebenere gapapa sih kalau mereka mau rame, tapi mbok ya sadar anggota grup lain yo podo tenang nggak bikin keributan. Kalau mereka pengen rame, bikin grup sendiri ae jembhot, mawas diri lah daripada jatuhe annoying, heboh sendiri.

Malah males kan anggota lain muncul, salah-salah isok left grup, sumpek nguwasi wong iku-iku muncul. Argggh!

Nggak Dihargai

Ini nyambung sama alasan pertama. Sebenere grup iku bukan pengen yang itu-itu aja sing muncul. Tapi kadang ada anggota di grup nggak dihargai. Tiap berusaha ngasih info atau ngelucu, diread doang. Ini membuat si anu malas muncul lagi mikir, “Nggak dihargai lek aku muncul nggak ditanggapi, fak!”

Ok, mungkin kamu sibuk atau ada alasan lain tapi kan nggak semua orang mikir gitu, apalagi kadang sekian banyak anggota grup itu harusnya paling satu-dua yang nanggepi. Iki nggak, blas nggak ditanggapi. Itu yang jadi penyebab sing muncul iku-iku ae.

Dan, yang nggak dihargai males muncul dan berakhir left grup. Huhuhuhu..

Kakean Grup

Sama seperti pertemanan di dunia maya atau nyata, kebanyakan grup tentu menjadi suatu kepastian. Grup alumni, grup kerja, dan keluarga pasti kamu masuki—belum ditambah grup-grup lain. Ini menjadikan kamu harus memilih mana yang diprioritaskan. Apalagi notifikasi bakal berbunyi terus-menerus, memoripun bakal tergerus.

Hmm. Kamu pun memilih sekiranya mana grup yang sepi atau nggak terlalu pernting. Jika dihapus nggak menimbulkan masalah berarti. Misal grup panitia 17-an, atau grup Alumni Bukber yang hanya rame pas kate wayah acara. Left aeeee..

Grup Isine Nggak Penting

Sing terakhir, kadang isine grup nggak selalu penting. Koyok guyonan tok, padahal wayahe kerjo kabeh. Atau malah debat politik yang nggak ada ujunge padahal pemilu wis mari. Atau, saking pentingnya, jadi malah  bikin pening karena yang dibahas serius seperti masalah agama. Hmm..

Langkah terakhir yo mending milih ae grup yang sekiranya nggak bikin kamu merasa insecure atau wonge asik-asik ae. Toh, kamu bisa alasan minta maaf, keluar grup gara-gara memori full. Semoga mereka percoyo,cuk!

Intinya, ikut dan nggak ikut grup itu pilihan, toh grup WhatsApp berada di dunia maya. Yang paling penting adalah kamu jangan putus hubungan karo manusia dunia nyata. Hihihi..