Negara kita akhir-akhir ini memang senang bikin kejutan. Kali ini kejutannya berhubungan banget dengan para jomblowan jomblowati se-Indonesia Raya, termasuk saya. Yep, masalah bimbingan pranikah.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Bapak Muhadjir Effendy mengumumkan bahwa mulai tahun 2020, untuk dapat menikah, calon pengantin harus mengikuti pendidikan pranikah dan mendapatkan sertifikat nikah.

Bahasan tentang pernikahan akan selalu menjadi salah satu trending topic. Seperti konten-konten yang beredar di media sosial, kalau hubungannya sama jodoh dan nikah pokoknya yang kasih likes pasti banyak.

Bonus demografi tidak hanya memberi banyak generasi milenial yang butuh lapangan kerja, tapi juga generasi milenial yang butuh pasangan hidup. Eeeeeeeaaaaaa. Pengumuman baru tentang sertifikat nikah ini, tentu saja membuat resah milenial butuh pasangan ini. Sertifikat mulai ramai diperbincangkan para jomblo yang mikir, “Woalahh, sangu rabi ae susah, kok nambah sertifikat nikah, ribet”.

Nah, kita coba berpikiran positif dulu. Bapak Muhadjir ternyata lebih menekankan pada pelatihan atau pendidikan pranikah, masalah nanti ada sertifikat atau tidak itu adalah soal teknis, Gaes. Pendidikan pranikah ini diharapkan bisa menjadi bekal sebelum menikah.

Mantan Mendikbud ini juga berharap program ini bisa membantu menekan angka perceraian di Indonesia. Program ini juga mendapat respon positif dari Komnas Perempuan, yang mengharapkan adanya materi tentang kesetaraan gender. Maaammmaaammmm tuh patriarki.

Para jomblo jangan kaget dan reaktif dulu, pendidikan pranikah itu sebenarnya sudah ada di Indonesia lho. Teman kerja saya yang beragama Katolik, harus mengikuti bimbingan pranikah selama 3 bulan. Mulai dari bagaimana mengenal pasangan masing-masing sampai tujuan jangka panjang masing-masing.

Seperti ta’aruf  kalau dalam Islam, tapi bukan sekadar ta’aruf membeli kucing dalam karung yang ujug-ujug nikah tapi beberapa bulan kemudian galau di media sosial terus cerai lho ya.

Bahkan, salah satu stand up comedian ternama Ernest Prakasa menyebutkan bahwa dalam materi pranikah yang diikutinya, dijelaskan bahwa perempuan itu juga butuh orgasme lho, bukan hanya lelaki. Sungguh sebuah tambahan pengetahuan yang tidak biasa.

Kementerian Agama sebelumnya memang juga mulai melaksanakan program Bimbingan Perkawinan Calon Pengantin. Salah satu tim pakar dalam program ini adalah Mbak Alissa Wahid, putri Gus Dur. Program seperti ini memang masih dilaksanakan di beberapa KUA saja karena kurangnya dana.

Dari komentar-komentar di cuitannya Mbak Alissa juga saya tahu bahwa sebenarnya di KUA memang ada bimbingan pranikah, tetapi belum semuanya mengacu pada program bimbingan pranikah terbaru tersebut.

Malah dari beberapa cerita pengikut Mbak Alissa dan Mbak Tunggal Pawestri, konselor di KUA malah bertanya tentang apakah sebelumnya sudah melakukan hubungan seksual? Sebuah pertanyaan yang menurut saya terlalu kepo tentang privasi seseorang.

Program Bimbingan Perkawinan Calon Pengantin ini juga menjelaskan tentang 5 (pilar) rumah tangga dalam Islam sesuai dengan Al-Quran, seperti yang dibahas dalam buku Qira’ah Mubadalah karangan Faqihuddin Abdul Qodir.

Kelima pilar tersebut adalah : mitsaqan ghalizhan (komitmen pada ikatan janji yang kokoh sebagai amanah Allah Swt, zawaj (prinsip berpasangan dan berkesalingan), taradhin (perilaku saling memberi kenyamanan/kerelaan), mu’asyarah bil ma’ruf (saling memperlakukan dengan baik) dan musyawarah (kebiasaan saling berembuk).

Ternyata Islam juga mendukung kesetaraan gender dalam pernikahan lho.

Di Provinsi DKI Jakarta sendiri, malah sudah diterapkan Sertifikat Layak Kawin bagi calon pasangan pengantin. Sertifikat Layak Kawin ini merupakan hasil pemeriksanaan medis sebelum menikah. Paket pemeriksaaan ini termasuk konseling, pemeriksaaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan imunisasi di Puskesmas.

Program ini memang masih belum banyak sosialisasi sehingga masih membingungkan masyarakat terutama dalam hal prosedur dan biaya. Tapi, secara umum, program ini layak diapresiasi.

Kalaupun memang gratis, dan akan berlaku di seluruh Indonesia, saya akan sangat senang karena cukup mengurangi budget pernikahan saya untuk cek kesehatan. Lumayan kan, kalau di laboratorium swasta, premarital check up harganya jutaan.

Kalau kita lihat, bimbingan pranikah ini sifatnya memang masih bergantung pada lembaga keagamaan ataupun pemerintah daerah setempat, belum menyeluruh ke semua penduduk Indonesia yang akan menikah.

Program ini berniat sungguh mulia, untuk menyeragamkan bimbingan pranikah kepada seluruh daerah di Indonesia.

Mungkin sebagai orang yang punya kemudahan dan keinginan akses informasi, kita merasa “Ngapain ih sertifikasi gitu, pelatihan gitu, kan ribet, nikah tinggal nikah aja”. Tapi kita jangan lupa, Indonesia itu luas dan beragam tipe orangnya, mulai dari yang malas membaca sampai memang tidak punya dan tidak bisa beli bahan untuk dibaca, program bimbingan pranikah ini niatnya memberikan informasi yang menyeluruh bagi seluruh rakyat Indonesia tentang mempersiapkan pernikahan.

Karena “wedding is one day, marriage is a journey”, menikah itu niatnya untuk seumur hidup, bukan hanya sekadar pesta pernikahan sehari atau tujuh hari tujuh malam.

“Nikah kan gitu doank, tinggal dijalanin aja.”

Tinggal dijalanin, rupamuuuu. Tidak jarang kita dengar gosip, nikah baru berapa bulan, eh sudah cerai. Fenomena itu tidak hanya terjadi di dunia selebritas, tapi faktanya juga terjadi di sekitar kita juga. Akhir-akhir ini banyak pembunuhan atau penganiayaan terhadap suami/istri sendiri, bahkan berita tentang seorang ibu membunuh anaknya karena baby blues.

Belum lagi fenomena kekerasan seksual dalam rumah tangga yang seperti gunung es, baru terlihat sebagian. Beberapa kejadian di atas merupakan salah satu dampak kurangnya pemahaman tentang pernikahan, yang salah satunya bisa dikurangi dengan pendidikan pranikah.

“Nek takdire pisah, mbok sekolah pranikah lak yo, tetep pisah.”

Mboh karepmu, namanya kan berusaha. Kejadian buruk memang tidak dapat dihindari tapi kan bisa dipelajari dan disiapkan to.

Saya pernah mengikuti seminar pranikah yang dilaksanakan oleh salah satu makerspace di Surabaya. Seminar ini bukan bercerita tentang enaknya nikah atau pahala nikah seperti seminar-seminar yang banyak jamaahnya itu. Seminar yang diikuti kurang dari 20 orang ini menakut-nakuti kita tentang pernikahan; Membahas persiapan nikah dari 3 aspek, psikologi, kesehatan reproduksi dan keuangan.

Secara psikologi, seminar ini membahas tentang persiapan kita mengarungi bahtera rumah tangga yang dinamis. Si Mas yang dulu perhatian, kok tiba-tiba jadi cuek pas nikah.  Kok jadi emosi terus kalau ngobrol dan ke mana harus menyalurkan emosi tersebut. Kalau penyaluran emosi ga benar, bisa-bisa anak yang jadi korban.

Karena, menikah sebenarnya bukanlah solusi masalah, tetapi menambah masalah. Kalau mau dewasa kan harus bersiap menghadapi masalah, bukan lari dari masalah.

Secara kesehatan, menikah itu harus siap secara kesehatan alat reproduksi. Di Jawa Timur sendiri ternyata masih banyak perkawinan anak.

Perkawinan anak di Jawa Timur banyak dipicu oleh adanya Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Masih banyak anak yang menikah di bawah usia standar, di mana organ reproduksinya belum berfungsi secara maksimal, yang pada akhirnya banyak mengakibatkan kematian ibu.

Tidak hanya tentang perkawinan anak, bahasan reproduksi ini juga termasuk saran untuk tidak kejar target punya dua anak dalam waktu 2 tahun. Rahim juga butuh istirahat, gurlz.

Nah, yang terakhir adalah aspek finansial yang sering menjadi penyebab utama perceraian. Mulai dari mengatur keuangan untuk persiapan pernikahan sampai ketika sudah menikah.

Sebelum menikah, tantangannya adalah menyatukan dua keluarga dalam pesta pernikahan sesuai keinginan dan budget. Setelah menikah tantangannya adalah menentukan tujuan keuangan dan juga transparansi penggunaan dana bersama, tentunya. Udah pada paham belum dengan harta bersama dan harta pribadi?

Jadi, masih merasa bimbingan pranikah itu ribet dan tidak penting?

Tentu saja penting, tinggal nanti nih pemerintah mau menerapkan program dan sistemnya bagaimana. Yang penting, calon pengantin mendapatkan ilmu yang benar tentang pernikahan dan program ini tidak jadi alasan untuk menambah pungutan dan mengembangbiakkan calo.