Dear sobat muslim yang suka banget nitip dipanggil namanya dari tanah suci tapi tak juga segera mendaftar, tak terasa bulan haji telah lewat. Para jamaah haji 2019 berturut-turut sudah kembali ke tanah air. Tiba waktunya kita menyambut kedatangan mereka sembari kembali bertanya pada diri sendiri, kapan mau daftar haji? Oh, sudah? Alhamdulillah…

Bagaimanapun juga, tak bisa disangkal haji memang ibadah yang mahal. Jika ibadah lain yang dirukunkan hampir tidak membutuhkan uang untuk melaksanakannya (syahadat, sholat, puasa), tidak demikian dengan haji. Kita tidak bisa menunaikan ibadah haji bila tak punya cinta, eh… uang.

Ya memang sih, zakat juga butuh uang. Tapi kan bisa menyesuaikan dengan besarnya penghasilan. Sementara haji tidak, karena besaran biayanya sudah ditetapkan oleh penyelenggara. Pun besarnya biaya-biaya lain yang mengiringi yang hampir tak bisa dihindari.

Tapi ya tidak apa-apa. Mahal itu kan di mata manusia, khususnya orang-orang seperti saya yang sering lebih mengkhawatirkan kemaslahatan duniawi daripada meyakini kuasa Dia Yang Maha Kaya. Nyatanya dari tahun ke tahun ada saja cerita-cerita heroik tentang mereka yang sanggup menunaikan ibadah haji meskipun keadaan ekonominya amat terbatas.

Guru ngaji ibu saya yang berangkat tahun ini misalnya. Ya cuma petani saja. Pada waktu mendaftar 8 tahun yang lalu rumahnya masih beralas tanah dan berdinding bambu. Tapi nyatanya ya ada saja tuh uangnya.

Ngomong-ngomong sebenarnya berapa sih biaya yang dibutuhkan untuk berangkat haji itu?

Tahun ini ongkos naik haji reguler yang dikelola negara melalui depag mencapai 36.500.000 rupiah. Sebesar 25.000.000 sudah disetorkan selama masa tunggu, sehingga para calon jamaah tinggal melunasi sebesar 11.500.000 rupiah menjelang keberangkatan. Dari dana tersebut, terdapat alokasi dana living cost yang dikembalikan kepada para calhaj untuk dikelola sendiri sebesar 1500 real atau kurang lebih 6.000.000 rupiah.

Dengan skema dana talangan, 8 tahun yang lalu calon jamaah haji yang memiliki dana sekitar 18 juta rupiah bisa mendaftar haji. Sebesar 10 juta-nya bisa dibayarkan 2 tahun kemudian. Sisa 11,5 juta-nya baru ditagih 6 tahun kemudian. Untuk pendaftar sekarang pelunasannya malah bisa 3x lipat lebih lama. Lha wong masa tunggu di Jawa Tengah saat ini saja sudah mencapai 25 tahun.

Beberapa waktu lalu kabarnya dana talangan haji sudah dilarang oleh pemerintah dengan alasan membuat masa tunggu jadi sangat panjang karena jadi banyak yang daftar. Tapi kok informasi di Google masih banyak yang menyediakan.

Bahkan dengan produk-produk perbankan tertentu para bakal calon haji ini bisa memperoleh dana talangan hingga 25 juta rupiah dengan jangka cicilan 5 tahun. Ibarat kata, nggak punya uang pun bisa mendaftar. Ayok daftar. Jangan sampe keduluan Ade Armando yang berubah pikiran.

Nah, itu semua tadi adalah rincian biaya resmi untuk menunaikan ibadah haji tahun ini. Apakah bisa kita menyelesaikan semua urusan ibadah haji dengan dana sebesar itu saja? Jawabnya, dengan pengalaman para haji dan hajjah tahun ini, bisa. Dana living cost 1500 real itu cukup untuk hidup dan memenuhi aneka kebutuhan termasuk membayar dam.

Tapi begini. Saya jadi teringat guru ekonomi SMA, Bu Rum. Waktu itu beliau menceritakan tentang pengalamannya menunaikan ibadah haji.

“Tidak ada yang tau saya berangkat. Tetangga kanan kiri juga tidak. Bahkan teman-teman guru juga baru tau setelah saya berangkat. Hanya kepala sekolah yang tau karena saya harus mengajukan cuti. Wong ibadah itu kan urusan saya sama Tuhan.

“Ndak ada tu hukumnya harus mengadakan walimatus safar sebelum berangkat. Harus bikin bancakan manaqiban tiap malem Jumat. Itu kan masyarakat kita saja. Biaya-biaya untuk hal-hal seperti itu besar juga lho. Bisa senilai ongkos naik haji satu orang sendiri itu.”

Kira-kira begitu cerita Bu Rum tentang pengalaman beliau menunaikan ibadah haji. Ya waktu itu saya sih ndlongop saja diceritain wong ya masih SMA. Kalau sekarang beliau cerita begitu sama saya, pasti saya jawab begini:

“Ndak bancakan, ndak manaqiban tiap malam Jumat memang ndak papa, Bu. Saya juga tidak. Cuma kalo ndilalah selama naik haji itu ada musibah, jangan tanya kayak apa pedesnya mulut tetangga yang nyukurin musibah kita. ‘Nah, kecelakaan kan! Yo kuwi akibate nek ora ngumumi adat. Ora bancakan, ora manaqib. Karo Gusti Allah kok pelit.'”

Bayangkan mendengar hal-hal seperti itu pas nyeri sakit habis kecelakaan pun belum hilang dan sedang berusaha sekuat tenaga supaya bisa menjalani hidup seperti biasa. Rasanya antara ingin menangis karena sakit hati sekaligus ingin mencakar wajah orang yang ngomong.

Pada umumnya, para calon haji mengadakan walimatus safar sebelum keberangkatan. Bagaimana bentuknya tentu akan mempengaruhi besar biayanya. Dalam hal ini, menurut saya pribadi, lakukan saja sesuai dengan kemampuan. Apalagi kalau tinggal di desa, hal-hal seperti ini rawan sekali jadi bahan pembicaraan lambe bodol.

Misal, ada tetangga yang bikin walimatus safar dengan sajian katering lengkap seperti orang mantu, dengan undangan hingga 500 orang, sementara kita mampunya cuma ngundang orang satu RT, lalu besoknya kita dengar sedang dibanding-bandingkan, ya jarkan saja. Anggap saja pancen tonggo iki cocote pero. Uang juga bukan uang dia saja kok ramene ra karuan.

Sebenarnya kan ide walimatus safar itu untuk berpamitan. Karena dianggap perjalanan haji itu perjalanan yang berat, jauh, dan suci maka sewajarnya orang yang mau pergi, berpamitan pada sanak saudara, kerabat, tetangga.

Mohon maaf bila ada kesalahan, mohon didoakan semoga semua lancar tanpa ada halangan suatu apa. Tapi dengan alasan sibuk (dan malas) dan sebagainya, akhirnya tata krama pamitan ini jadi malah dibalik, yang mau dipamiti yang disuruh datang.

Mengirim bingkisan semisal kue pada sanak, kerabat, dan tetangga dengan menyertakan di dalamnya tulisan yang menjelaskan perihal keberangkatan haji kita sekaligus permohonan maaf dan doa, bisa menjadi salah satu pilihan model pamitan haji. Relatif lebih ringan juga biaya dan tenaganya dibanding mengadakan pesta di rumah.

Lalu, oleh-oleh haji untuk mereka bagaimana? Tasyakuran kepulangan? Bukankah yang ini justru ada anjurannya dari Rasulullah? Ya lagi-lagi kuncinya ukur saja sesuai kemampuan. Tidak perlu dimampu-mampukan.

Hidangannya kalau cuma air zam-zam, kacang arab yang sekilo 35 ribuan itu, sama kurma curah ya memangnya kenapa. Biar saja tetangga yang sana kirim oleh-oleh set gamis dan kerudung lengkap dengan jajanan khas Arab untuk tetangga sekampung, kenapa juga kita harus sama begitu.

Kalau di kota mungkin lebih enak ya. Orang-orang sudah tidak terlalu ribut mengurus hal-hak seperti ini. Kalau di desa ya lain lagi. Ya memang hidup di desa mau naik haji atau tidak, kuncinya memang cuma satu. Abaikan saja mulut-mulut bodol tetangga.

Tapi di luar itu semua pertanyaan pentingnya, kapan mau daftar haji? Nggg, sebentar dulu…