Teman-teman pegiat literasi di seluruh Indonesia…

Seandainya Anda belum tahu, saya ingin meringkas kabar literasi ini, dan tolong disebarkan ke teman-teman pegiat literasi di seluruh Indonesia.

Sudah dua bulan ini, beberapa  pegiat literasi di Yogya getol melawan pembajakan. Mereka melaporkan pembajakan ke kepolisian. Tentu kita tahu, pembajakan merugikan dunia literasi dalam logika yang sangat sederhana.

Salah satu jangkar literasi adalah penerbitan berikut stakeholders-nya. Pembajakan buku merugikan penerbit sebab mereka tidak perlu membayar royalti, membayar pekerja (desainer sampul, penyunting, penerjemah, pemeriksa aksara, penata letak, dll).

Beberapa bilang bahwa pembajakan itu wujud demokratisasi wacana dan literasi di Indonesia. Tapi logika itu mudah dibantah. Dan mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pembajakan hanya bisa dilakukan secara massif oleh mafia dan orang yang punya banyak uang. Di negeri ini sebagaimana di banyak negeri lain, orang yang punya uang cenderung menggenggam kekuasaan sekalipun bertindak (baca: berbisnis curang).

Di Yogya, para pegiat literasi ini mengalami teror dari mafia pembajak buku. Teror secara fisik maupun psikologis. Tapi mereka melawan. Mereka mencoba mengatasi rasa takut sebab harus ada yang bergerak untuk menuntaskan masalah pembajakan buku ini langsung di ujung produksinya, yang mana dikuasai oleh para pelaku kaya dan punya banyak uang.

Kalau pembajakan tidak dihentikan, penerbit-penerbit menengah dan kecil dijamin bakal mudah gulung tikar. Kalau mereka gulung tikar, berarti akan berimbas pada insan literasi lain, dan sekian banyak penulis tak terfasilitasi. Produksi buku menjadi sangat sedikit dan makin tak variatif. Imbasnya berlanjut ke toko buku fisik maupun maya. 

Harus ada yang mencoba menghentikan apapun risikonya. Kini hal itu sudah ditempuh oleh 12 penerbit dari Yogya. Pihak kepolisian sudah menerima delik aduannya. Proses sudah dimulai.

Memang pembajakan buku bukan hanya terjadi di Yogya. Mesin-mesin cetak besar pembajakan buku ada di banyak kota di Indonesia: Jakarta, Malang, Surabaya, Semarang, Solo, dll.

Yogya mungkin mengawali dengan harapan ini akan menjadi gerakan nasional. Lalu apa yang bisa kita lakukan? 

1. Berserikat. Bikin paguyuban atau apapun di kotamu. Lapor ke polisi jika menemukan ada indikasi mesin pembajakan dan penjualan buku bajakan.

2. Putus mata rantai distribusi buku bajakan. Laporkan ramai-ramai toko-toko online yang menjual buku bajakan baik di market place maupun yang berjualan lewat media sosial.

3. Kampanyekan gerakan antipembajakan kepada kawan-kawan kita, keluarga kita, kolega kita, kepada generasi penerus. Ajak mereka untuk membiasakan membeli dan membaca buku asli non-bajakan. Bangun kesadaran bersama bahwa industri buku di Indonesia sangat strategis bagi perkembangan dunia literasi di Indonesia.

Tidak semua poin di atas bisa kita kerjakan semua. Tapi rasanya, poin kedua dan ketiga bisa kita kerjakan.

Para pembajak buku di Yogya sudah mulai mengurangi jumkah buku bajakan. Sebagian dari mereka minta ada ‘musyawarah’. Mereka berjanji tidak akan mengulangi perbuatan mereka, tentu dengan permintaan bahwa surat di kepolisian dicabut.

Kawan-kawan pejuang antipembajakan di Yogya sedang memikirkan hal ini apakah solusi yang baik atau tidak. Tapi apapun itu, sudah mulai ada dampak positifnya. Hanya, jika di Yogya mulai terjadi perbaikan, apakah di kota lain juga? 

Dukungan kita semua diperlukan. Semoga senantiasa kita ingat, di balik sebuah buku yang kita baca, ada penulis yang bekerja keras memeras kreativitas mereka, ada sekian pekerja lain yang melakukan hal serupa, dan ada pihak penerbit yang ‘mempertaruhkan’ uang mereka. Banyak yang bangkrut. Tapi banyak juga yang bertahan dalam kesulitan.

Langkah kecil para pegiat buku Yogya ini semoga menjadi tonggak bagi tersingkirnya praktik gelap pembajakan buku di Indonesia. Itu semua tak akan bergerak ke mana-mana, tanpa andil Anda.

Dukung dan sebarkan! 

17 September 2019

Syarikat Buku Yogya