Selama dua puluh dua tahun hidup di tengah kota yang sumuk ini, Minggu 13 Mei 2018 merupakan akhir pekan termurung yang pernah saya dapati. Sejenak setelah bom meledak di tiga gereja, jalanan sepi. Surabaya menjadi kota mati dalam sekejap. Lalu lalang kendaraan pun tak juga tampak kendati telah berada di tengah kota. Sedangkan area-area pusat keramian, tampak tak ada kehidupan.

Sebuah aksi teror yang diinisiasi oleh sepasang suami istri mbokne ancok, yang tega-teganya mengorbankan anak-anaknya dengan sebuah titah, tentang jannah dan janji-janji surga, (yang semoga), tidak akan mereka dapati di hari-hari pembalasan.

Namun, ketakutan arek Suroboyo tidak bertahan lama. Tepat pukul 10:00 saya mulai menyalakan kembali televisi. Yang membuat saya merinding, 300 orang berduyun-duyun mengantri di depan loket Palang Merah Indonesia. Mereka ramai-ramai mendonorkan bantuan darah bagi korban tanpa diperintah.

Saya terharu, dan ini adalah kali pertama saya kembali menyeka airmata. Setelah saya melupakan kejadian ditinggal areknya pas lagi sayang-sayangnya, pelupuk mata saya kering. Tapi tidak dengan pagi ini.

Bukan. Bukan ironi tentang pertanyaan-pertanyaan kemana perginya hati mereka sebagai manusia. Tapi, solidaritas dari arek-arek Suroboyo yang militan ini yang membuat saya merinding. Dan sekaligus membuat para teroris kencing berdiri.

Kami tidak takut. Hanya sedikit njingkat mendengar berita kota yang sejauh ini paling aman, diacak-acak berandal kapiran yang gobloknya balapan karo umure.

Harapan dari teroris adalah satu: menyebar ketakutan hingga ke ubun-ubun setiap kepala warga Surabaya. Tapi sayang, aku gak wedi blas, Cak!

Jika di negara lain pasca pengeboman masing-masing warga akan cenderung mengamankan diri di dalam rumah, atau mencoba metode eskapis lainya, arek-arek Suroboyo tidak. Tatkala Densus 88 dan satuan keamanan lain mengerebek tempat tinggal salah satu pelaku, justru warga sekitar kampung Wonorejo tampak santai cengengesan.

Saat tim keamanan tengah merangsek masuk ke wilayah kediaman teroris, para warga bukanya mengamankan posisi. Justru mereka ikut menonton seolah menyaksikan The Avengers secara live. Apa yang mereka harapkan? Menonton pertarungan antara polisi dengan Thanos di depan mata mereka? Atau mereka berharap ada adegan action seperti Rambo di Wonorejo?

Saya tak habis pikir. Mereka tanpa ada rasa was-was. Secuil ketakutan pun tidak hadir malam itu.

Para pedagang-pedagang soto, bakso, siomay yang tiba-tiba hadir di sela-sela penonton juga tak kalah mengejutkanya. Serta, pedagang kacang dan cangcimen juga mak blenduk! Hadir ditengah-tengah seraya menawarkan daganganya, seolah tidak peduli bahwa di sebelah mereka polisi tengah bertaruh nyawa.

Dan nyawa dia pun juga dipertaruhkan dalam satu waktu.

“Awas-awas Ayu Ting-Ting lewat. Mbak-mbak, aku po’o sampean bom like Instagramku,” yang kemudian disusul suitan nyaring, saat ada cabe-cabean yang sedang cenglu melintas di depan mereka. Tak sedikit pun wajah mereka tampak ketakutan.

Padahal, siapa tahu di dalam rumah tersebut sudah dipasang bom waktu yang akan meledak seketika. Tidak ada yang tahu.

Yang saya tahu, mereka tahu betul bagaimana membuat teroris merasa gagal atawa kacrek melakukan aksi di Surabaya. Bukanya ketakutan, justru arek-arek celelekan inilah yang membuat usaha dari para teroris ini terasa sia-sia.

“Aku iki gak wedi teroris’e. Cuman wedi bom’e,” celetuk salah satu pemuda Wonorejo yang disusul tawa berderai dari warga yang sama-sama menyaksikan.