Sebagai mahasiswa baru, aku ingin banyak terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan di kampus. Aku ingin punya banyak pengalaman agar kehidupanku di kampus lebih bermakna. Karena itu, begitu aku masuk ke sebuah perguruan tinggi yang legendaris di Surabaya, aku langsung bergabung dalam beberapa organisasi kemahasiswaan.

Salah satunya adalah organisasi keagamaan. Organisasi ini tetap aku pilih di antara aktivitas lainnya karena bagiku mengenal teman-teman yang satu akidah sangat penting. Apalagi di organisasi seperti ini, pasti para anggotanya adalah orang-orang saleh.

Rasulullah s.a.w pernah mengatakan bahwa mereka yang berteman dengan orang saleh bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk. Kalaupun tidak bisa membeli minyak tersebut, paling tidak akan ketularan bau harumnya—meski belakangan saya sadar bahwa yang terlihat saleh secara tampilan atau ibadah belum tentu saleh secara pemikiran.

Tanpa menaruh rasa curiga, saya beraktivitas di organisasi tersebut. Kami dibagi dalam kelompok pengajian kecil yang biasa disebut halakah atau liqo. Meski, beberapa kali kadang kami juga dilibatkan dalam pengajian bersama dengan peserta yang lebih umum.

Pada awal halakah, topik yang dibicarakan lebih banyak tentang keimanan dan akidah. Cara penyampaian yang menyenangkan, penuh guyonan, dan sangat cair membuat aku betah. Aku senang karena kegiatan ini membuatku tidak larut dalam pergaulan negatif di kalangan mahasiswa.

Sekali lagi, aku tak sedikit pun menaruh rasa curiga. Namun saat semua sudah mulai terbuka, aku dibuat bingung dengan sikap teman-teman satu pengajian. Mereka tidak mengikuti upacara bendera.

Bahkan, temanku yang takziah alias nyekar ke makam ibunya juga dilarang. “Ha? Opo sing salah? Kan iku makam ibuku dewe. Aku kirim dungo. Salahe nandi?” kata temanku itu sambil menyantap pecel paling murah di dekat kos-kosan.

Saat itu aku ingat betul. Aku memasuki tahun kedua berorganisasi. Pertemanan yang semula mengkaji agama secara santai, penuh guyonan nan cengengesan, tiba-tiba menjadi spaneng belakangan.

Waktu itu aku tengah makan di kantin. Tiba-tiba, teman satu organisasiku datang. Tapi kali ini dia tidak menyapa. Aneh. Biasanya dua orang teman ini adalah orang yang grapyak.

Aku berpikir positif. Mungkin mereka lelah setelah seharian berkuliah. Namun salah satu diantara temanku ini menepuk pundakku, saat aku tengah lahap-lahapnya nyaplok sego pecel iwak powerbank.

Tentu aku sedikit njingkat! Jangkrik, ngageti ae. Tanpa babibu, mereka ini membuka pembicaraan tidak seperti biasanya.

“Eh, kamu tau gak sih kalau demokrasi ini menciderai keinginan kita untuk membentuk negara khilafah?” Mak jeder! Aku hampir saja menyembur remahan peyek pecel ini wajah temanku ini.

Lapo moro-moro ngomong ngono? Gak ngenak-enaki wong mangan ae,” begitu kataku.

Ia menjelaskan panjang lebar bahwa Indonesia ini merupakan darul harbi. Aku yang waktu itu masih ngaji Islam anyaran, tidak tahu apa maksudnya. Yang aku tahu dari sederet kata darul, adalah darul ulum, sebuah TPA kecil di samping rumah tempatku mengaji.

Lalu aku kembali bertanya, “Artinya apa darul harbi?”

Dia pun menjawab, “Itu berarti bahwa Indonesia ini adalah medan perang, yang harus kita perangi. Apa yang kita perangi? Pola pikir demokrasi itu sendiri,” cetusnya

Aku  pun kaget bukan main. Kenapa mereka menjadi seradikal ini? Dan ini bukan hanya terjadi di dua orang teman yang baru saja menghampiriku. Tapi beberapa lain juga berlaku sama. Lebih-lebih saat kita tengah melakukan rapat mingguan.

Aku merasa aneh. Bahkan, belakangan mereka justru banyak biro-biro ta’aruf antar anggota organisasi. Ini adalah titik puncak kesadaran bahwa aku tengah berada di lingkungan yang salah. Mereka pun tidak lagi berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan keseharian, melainkan kajian-kajian tentang jihad dan darul harbi malah dipertebal.

Pernah pada suatu waktu, aku ditawari ta’aruf oleh salah satu tetua dari organisasi tersebut. Ia juga mengajakku menikah sekonyong-konyong. Gila! Ini adalah hal konyol. Aku merasa berada dalam bahaya.

Mereka juga kini menguasai masjid-masjid kampus. Jika bukan golongan mereka, setelah sholat pasti ditanya-tanya. “Sholatnya sudah kan? Mas ini Islam apa?”

((((Islam Apa))))

Memangnya, sekarang agama kayak kopi sachet? Karena hidup perlu banyak rasa. Ada-ada aja.

Sejak saat itu, aku sudah tidak lagi pernah mengikuti rapat. Beberapa dari kawan lain juga ada yang memilih mundur, tapi justru kami dianggap sebagai orang yang berhenti berjuang. Kami dianggap futur. Putus dari jalan dakwah.

Bahkan parahnya, dulu teman-teman senasib seperjuangan, mengangap kami sebagai kafir, atau Islam KTP. Hanya karena perbedaan sikap.

Tapi ya sudahlah, aku tidak ambil pusing. Mereka bukan satu-satunya lembaga yang mengajarkan Islam. Mereka juga bukan satu versi kebenaran tentang Islam.

Aku tetap belajar Islam melalui forum-forum yang lebih jelas. Di masjid, di pengajian besar. Yang mengajarkanku tentang kedamaian dalam Islam. Bukan Islam yang mengkafirkan seisi negara hanya karena menganut demokrasi.

Justru dengan demokrasi, Indonesia melindungi semua umat beragama. Seperti Rasulllah yang melindungi banyak umat di Madinah.

Saya tidak tahu dari jenis Islam apa mereka ini. Yang jelas, saya bersyukur Islam yang saya anut tidak menciptakan kerusakan. Tidak menyekat-nyekat masjid pada identitas politik tertentu meski sama-sama Islam. Tidak menaruh curiga pada sesama saudara seiman.

Pengajian yang saya ikuti kini jauh lebih membahagiakan. Wajah-wajah pesertanya juga lebih banyak senyum. Tidak seperti teman-teman seorganisasi saya dulu itu yang spaneng dan seperti kurang piknik kronis.

Wallahualam Bis Showab.

Seperti diceritakan Annelies, sebut saja demikian, kepada Reno Surya.