Sebagai kota hilir mudik masyarakat urban, keterkaitan Surabaya dan seni jalanan sebenarnya sudah terjadi sejak kolonial masih menduduki negeri ini. Pada era kolonial, Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) telah menjadikan tembok-tembok di sepanjang Kota Surabaya sebagai galeri terbuka.

Mereka menuliskan protes, mural yang lekat dengan penolakan terhadap kolonial, dan mengorganisisasi aksi massa secara massif dan kolektif. Kendati grafiti serya mural lahir dari dataran Amerika dan digagas oleh kulit hitam, Indonesia sudah melakukan praktik seni jalan sejak era kolonial.

Wajar saja jika hari ini Surabaya lekat dengan grafiti dan melahirkan nama-nama yang berhasil mengokupasi gelanggang seni jalanan tanah air.

Apakah karya seorang street artist jika sudah dipamerkan di galeri konvensional masih menjadi seni jalanan?

Salah satunya Pino, seniman jalanan asal Kota Pahlawan yang namanya tengah moncer. Dalam proses kekaryaan, sudah lebih dari satu dekade ia membombardir tembok-tembok kota dan mancanegara.

Untuk menandai konsistensinya sebagai street artist selama 14 tahun, pada 29 Juni 2018 hingga 6 Juli 2018 dia menggelar pameran tunggal bertajuk Diversion di Qubicle Centre, Jalan Untung Suropati, Surabaya.

“Memang kerap menjadi pertanyaan. Apakah karya seorang street artist jika sudah dipamerkan di galeri konvensional masih menjadi seni jalanan? Justru ini tantangan bagi aku. Karena sebenarnya banyak street artist yang pameran di jalanan. Bahkan sekelas Bansky pun pernah demikian,” kata Pino.

“Tapi, yang menarik adalah bagaimana aku menyajikan karya street art di pameran, di galeri konvensional, tanpa kehilangan identitasnya. Sebisa mungkin aku membuat karya ini sama dengan apa yang biasa aku buat di jalan. Cuma medianya berbeda. Itu adalah tantangan menurutku,” sambungnya.

Sebagai ruang publik dan galeri terbuka, tembok dan jalanan menjadi milik siapa saja. Siapa pun berhak mengokupasi, tentunya dengan berbagi ruang. Sebab, jalanan adalah tanah tak bertuan.

Sebagai galeri terbuka, di jalanan, siapa pun adalah penonton.

Tapi tidak pada street art. Tentu bukan rahasia jika pertarungan galeri jalanan lebih terbuka. Sebagai seorang seniman yang hidup lebih dari satu dekade di jalan, karya Pino kerap ditumpuk, dirusak, hingga dihapus.

“Menurutku ini adalah risiko. Dan persaingan di sini tidak akan kita dapatkan di galeri konvensional. Tumpuk menumpuk karya sebenarnya hal yang biasa. Tapi kita harus ingat, kita hidup di tanah Jawa. Istilahnya harus tau tepo sliro. Attitude dijunjung tinggi di sini. Sebisa mungkin kami mendukung karya kawan lain. Tembok kota juga masih banyak yang kosong. Biasanya, mereka yang suka numpuk karya orang itu cuma usil. Cuma pengen cari sensasi. Caper lah istilahnya,” tegas Pino dengan enteng.

Sebagai galeri terbuka, di jalanan, siapa pun adalah penonton. Kesempatan itu kemudian diolah para seniman untuk menjadikan jalanan sebagai kanvas beton dan ruang eksplorasi.

Tak jarang, mereka juga menggunakan tembok-tembok kota sebagai ruang protes dan aspirasi. Baik terhadap kritik, keluh kesah, maupun pelepas lelah setelah delapan jam bekerja sebagai buruh kelas menengah.

Tiap seniman memiliki sikap politis masing-masing. Pino pun menjadikan ajang menggambar di jalan sebagai refreshing.

“Memang karya-karya ini saya buat untuk senang-senang saja. Art for fun. Dan menurut saya, itu adalah pilihan sadar saya. Lebih baik seperti ini daripada kritik cuma setengah-setengah. Sebagai arek Suroboyo, kalau mau kritik kenapa tidak to the point saja? Ini menurut saya saja sih,” ucapnya.

Tak hanya aktif sebagai perupa yang menjadikan tembok-tembok kota sebagai kanvas, Pino juga menjadi organisator. Pada September nanti, ia  menggelar Yard Fest Vol.2. Sebuah perhelatan akbar yang akan mempertemukan para seniman jalanan di Kota Pahlawan. “Nanti juga akan ada seniman dari mancanegara dan street artist potensial dari tanah air,” tutup Pino.