Minggu pagi biasanya saya habiskan dengan bercengkerama bersama kasur yang terkenal posesif luar biasa, yang baru melepas saya menjelang siang atau sore. Sayangnya kali ini tidak demikian. Minggu pagi (13/05) ini diawali dengan telepon dari salah seorang kerabat yang langsung menanyakan lokasi saya dengan nada tegas, “Kamu dimana?”.

Saya yang masih setengah sadar berusaha menjawab sedang berada di rumah dan baru bangun tidur. Terdengar embusan napas lega dari seberang telepon dan diikuti perkataan, “Stay safe. Gak usah kemana-mana dulu”. Kemudian sambungan telepon diputus.

Awalnya saya bingung dan sempat kesal. Ya gimana gak kezel, lagi ena-ena tidur, digangguin. Eh ternyata buat dicek lagi di mana. Lah terus masih diatur segala gak usah kemana-mana. HIH! POSESIF AMAT SIH!

But that’s not for long. Handphone saya ternyata juga dipenuhi pesan yang isinya sama, tapi berbeda pengirim. “Are you ok? Stay safe!”

Bingung dengan berbagai pertanyaan dan peringatan yang senada, akhirnya saya mengecek berita terkini dan langsung ngebatin “Ah elah ini ditinggal tidur bentar kok udah ada yang njeblug aja sih!”

Ternyata pagi itu ada serangan bom terorisme. Dan gak tanggung-tanggung, DI SURABAYA! Ledakan terjadi di tiga gereja besar, yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) di Ngagel, Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Arjuno, saat misa pagi. Korban berjatuhan. Ada yang terluka hingga kehilangan nyawa, baik tua maupun anak-anak.

Perasaan saya bingung, kaget, kesal, semua campur aduk jadi satu: KOK BISA SIH?

Saya lahir, tinggal, dan hidup di Surabaya. Dan selama itu juga, kota tersebut terkenal aman dan nyaman. Tidak pernah ada keributan yang gak penting seperti di ibukota. Tidak pernah ada serangan aneh-aneh yang mampir ke sini.

Kalo sekedar demo sih ya ada, apalagi demo buruh. Tapi tetap saja, gak rusuh seperti demo di ibukota. Demonya kalem. Malah saya pernah liat para pedemo berjalan sambil disemangati dan diputerin lagu dangdut dari mobil pick-up yang ngangkut sound system sembari ngiringi perjalanan mereka. Malah koyo jalan sehat kan timbangane demo? Di lokasi demo, banyak di antara mereka yang malah sibuk njajan dan piknik.

“Gak mungkin ah, orang Surabaya kan kasar!”

Nduk, le, wong Suroboyo iki kasar ning ilat tok. Cuma mulutnya aja yang pedas. Aslinya sih ya bhuaaaeeeekkk. Masih bisa kok kita nemuin good samaritan di Surabaya yang tiba-tiba bantuin dorong motor yang keabisan bensin. Atau ngasi tumpangan ke ujung jalan yang onoh karena ngeliat mukamu yang udah bengek jalan kaki dari tadi.

Sikap warga Surabaya yang adem dan ayem itu lah yang mendukung kota tersebut nyaman untuk ditinggali, selain karena tata kota yang juga ciamik tentunya. Umat beragama hidup berdampingan, menerapkan bagimu agamamu, bagiku agamaku dengan baik.

Umat muslim pun berpegang pada duso urusan masing-masing, wes podo ngertine dewe-dewe. Tidak ingin mencampuri dan menggurui terkait dosa dan pilihan jalan hidup orang lain. Makanya, isu keagamaan gak pernah laku di Surabaya.

Mau ngebakar isu ras dan suku? Sama aja. Meski banyak warga keturunan Tionghoa di Surabaya, keberadaan isu demikian cukup rendah. Ya, paling sesekali nggerundel dan ngrasani kelakuan ras dan suku tertentu yang nggatheli. Tapi yowes, cukup jadi bahan rasanrasan dan bahan bercanda pas cangkrukan.

Ya gimana, karakter orang Surabaya cukup cuek. Malas rame-rame gak penting, apalagi bikin capek. Yang penting kehidupan pribadi gak diusik dan masih tetap bisa menjalani hari dengan nyaman. Sisanya sih ya mbuh, sekarep! Mau ada demo jungkir-balik di Monas dan kota lain, Surabaya bakal tetap absen.

Nah, ini kok ya ada yang berani-beraninya ngebom tiga gereja di Surabaya? Bagi arek Suroboyo, ini bukan serangan terhadap gereja aja, tapi serangan bagi Kota Surabaya!

Gimana enggak, kami warga Surabaya sering mengelu-elukan betapa aman dan nyamannya tinggal di sini. Kota yang damai. Kota yang layak huni dengan berbagai keteraturan yang terbentuk. Namun, semua itu dicoreng dalam sekejap melalui serangan Minggu pagi. Seakan-akan bilang, “Kota yang kalian anggap aman itu gak ada apa-apanya. Tuh buktinya tetap bisa dapat serangan kan?”.

KHAN TAEK!

Kota kesayangan yang selama ini sama-sama dijaga kok ya ada yang mau mengacak-acak. Kurang ajar tho ini namanya!

Jadi, para teroris sekalian, hati-hati aja ya. Kalean gak usah cem-macem. Arek Suroboyo sekarang dalam keadaan siaga. Jangan sampai kalian membakar semangat Arek Suroboyo lagi dan mengulang perang 10 November yang mengantarkan Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Camkan itu!