Di malam tahun baru nanti, entah itu di timeline medsos atau grup WhatsApp-mu, pasti ada beberapa postingan yang mengarah pada perdebatan klasik: tahun baru haram!

Kamu yang seharusnya menyambut tahun baru dengan optimisme, mungkin akan mbatin ‘lapo seh wong-wong iki,’ dan kemudian akan melempar argumen bantahan.

Atau bisa saja kamu akan melempar dukungan, menyerang kembali semua orang yang pro tahun baru, dan menyeru bahwa tahun baru memang benar-benar haram. Tentu saja disertai argumen dan bantah-bantahan sembari mengutip ayat-ayat.

Alhasil, itu akan jadi debat pertamamu di 2019. Energimu sudah habis duluan bahkan sebelum fajar menyingsing di pergantian tahun.

Dan kejadian itu akan terus berulang; saat kembang api dan mercon mulai meriah, saat itulah pasukan debat kusir akan semakin menggila.

Bisakah semua ini diakhiri? Saya sih pesimis. Mungkin perdebatan macam begini sudah masuk dalam rundown tahun baruan yang tanpa sadar disepakati banyak orang. Karena itu sebelum perdebatan dimulai, terlebih dulu saya akan memberi sedikit pandangan.

Supaya lebih meyakinkan, dalam hal ini saya berkesempatan untuk berbincang bersama Muhammad Ridwan Aziz, Ketua PC Lembaga Takmir Masjid Nahdatul Ulama (LTMNU) Surabaya dan Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW DMI) Jawa Timur.

Ridwan, yang aktif ngopeni masjid-masjid di Surabaya, akan berbagi pandangan soal malam perayaan tahun baru dan bagaimana nantinya masjid—sebagai tempat yang seharusnya jadi pusat umat muslim dalam berkegiatan—bisa menarik massa anak muda untuk merayakan tahun baru di sana.

“Sebagai umat Islam dalam menyikapi Tahun Baru Masehi, sikap saya biasa-biasa saja. Ini karena kita sebagai umat Islam, punya penanggalan sendiri yaitu tahun Hijriyah, atau yang lebih dikenal dengan 1 Muharram. “

“Umat Islam sendiri dalam menyikapi tahun baru Masehi, biasanya di masjid-masjid khususnya di Kota Surabaya, mengadakan pengajian umum, khataman Al-Quran, istighosah, atau pembacaan sholawat nabi,” ujar Ridwan.

Kalau misal kamu merasa jenuh dengan perayaan tahun baru yang mentok hanya bakar-bakaran, lalu lanjut kolaps sampai pagi, masjid menyediakan jalan penyembuh sekaligus sarana introspeksi.

Ridwan selanjutnya menjelaskan, tujuan acara yang digelar di masjid itu bisa sebagai sarana syiar Islam, mendekatkan diri kepada Allah, dan mengurangi agar para jamaah, khususnya generasi muda, tidak larut dalam acara konvoi di perkotaan yang biasanya diselingi main mencon, petasan dan lain-lain.

Soal halal/haramnya tahun baru, Ridwan punya pendapat yang sangat bijak.

“Masalah kelompok yang masih berpendapat merayakan tahun baru itu haram, itu boleh-boleh saja wong namanya pendapat. Bagi saya, orang orang yangg mengatakan begitu itu masih belum paham betul tentang bagaimana beragama yang baik.”

“Intinya adalah batasanya: sepanjang apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan syariat Islam, ya tidak apa-apa tahun baruan,” ujarnya.

Selanjutnya menurut Ridwan, masjid juga seharusnya bisa jadi alternatif perayaan tahun baru yang lebih bermakna.

Kalau misal kamu merasa jenuh dengan perayaan tahun baru yang mentok hanya bakar-bakaran, lalu lanjut kolaps sampai pagi, masjid menyediakan jalan penyembuh sekaligus sarana introspeksi.

Sayangnya, tidak semua anak muda tertarik. Pun juga saya—yang kadang lebih memilih berkumpul dengan keriaan tahun baruan. Ridwan memberi jawaban menarik sehubungan ketertarikan muda-mudi pada acara di masjid.

“Untuk lebih menarik agar remaja itu lebih senang ke masjid daripada keluar rumah, ya diadakan kegiatan yang sekiranya remaja tertarik. Seperti renungan malam, problem solving remaja yang narasumbernya (bisa) dari para aktivis lokal yang cantik dan ganteng.”

“Acara makan bersama ala pondok pesantren juga bisa menarik massa muda-mudi, untuk tahun baruan di masjid,” ujar Ridwan.

Jadi, tidak ada paksaan di sini. Kamu boleh tahun baruan di manapun, terserah.

Semua pilihan tentu ada konsekuensinya. Yang penting tahun baruan nanti bisa damai dan aman. Yang pro yang monggo, kontra ya monggo. Nggak perlu saling ganggu dan maido!