Jefri Nichol (semoga saya nggak salah ketik) adalah pemuda 20 tahunan yang sekarang sedang digilai banyak remaja cewek di seantero nusantara. Perannya di Dear Nathan—sebuah film romansa yang entah—memang belum saya tonton. Tapi yang jelas, bagi sebagian besar perempuan yang pernah saya dekati, film ini amatlah keren, memukau, dan mengharukan.

Saya sampai berkaca-kaca. Film rekomendasi yang saya pamerkan pada si perempuan saat pedekate seperti Kill Bill, The Shining, sampai Killing Me Softly nggak pernah digubris. Malah mewek nonton Dear Nathan di SCTV.

Jefri Nichol ini menurut saya nggak terkenal-terkenal banget. Saya nggak pernah tahu dia nongol di manapun. Tapi di sebuah Togamas daerah Diponegoro, saat saya mengajak salah seorang perempuan untuk sok-sokan date snob dengan pamer bacaan kiri, yang ada si cewek malah menunjukkan salah satu buku hardcover. Isinya: foto-foto Bung Jefri. Yaela..

Semua itu kini tinggal kenangan. 23 Juli kemarin, Jefri digelandang pihak kepolisian pasca terpergok menyimpan narkoba jenis genjes. Dalam tes urin, Jefri resmi dinyatakan positif memakai narkoba, dan ini mungkin jadi kabar duka untuk semua perempuan yang pernah saya dekati.

Saya mengecek ponsel, barangkali ada yang ingin menyampaikan tangis dan dukanya pada saya atas penangkapan Jefri. Saya siap menemani. Nyatanya nggak ada. Yang ada malah ribuan chat kemproh dari Mahmud Nurhadi, rekan sekantor keparat yang gemar mengirim link bokep dan stiker mesum.

Jefri lahir di Jakarta, 15 Januari 1999. Usianya masih sangat belia, kira-kira kalau kuliah masih semester empat menuju ke lima. Inez Kriya, salah seorang rekan editor sempat nyeletuk pas dengar kabar penangkapan Jefri: “halah akeh kok arek kuliahan nyimeng!”

Tapi faktanya, Jefri ini bukan anak biasa. Doi artis dengan sejuta fans dan pesona. Instagramnya jelas punya follower lebih banyak dari akun-akun gorengan politik manapun. Ratusan ribu manusia mungkin masih peduli berita pertemuan rekonsiliasi atau apalah, tapi jutaan lainnya—terutama kaum hawa—sedang memantengi Insert atau Silet atau Lambeh Turah demi terus memantau kabar Jefri, sang idola.

Masalah genjes jelas selalu jadi pro-kontra. Ada yang mendukungnya supaya dilegalkan, ada pula yang menolak. Genjes atau baks atau cimeng atau ijo atau apapun itu yang akrab di telingamu, dari telaah medis memang punya banyak manfaat. Selain sarana rekreasional, mariyuana juga berfungsi mengobati beberapa gangguan kesehatan.

Masalahnya, entah karena sebab-musabab apa, tumbuhan bertuah ini masih dianggap narkoba. Maka dari itu, BNN nggak segan menangkapi siapapun yang punya hubungan dengan genjes-menggenjes ini. Termasuk artis-artis yang harusnya jadi contoh bener buat publik seperti Jefri Nichol.

Gofar Hilman dalam obrolannya dengan Bob Mandela dan Rio Tantomo di portal podcast Amvibe, sempat menyebut bahwa Indonesia belum siap dengan legalisasi ganja. Gofar yang berprofesi sebagai penyiar di Hardrock FM Jakarta, punya cerita tentang ini.

Saat itu, Gofar siaran mengundang Dhira Narayana dari Lingkar Ganja Nusantara (LGN). Tanpa diduga, saat memberikan statementnya, Dhira berkata sesuatu yang kontroversial, menghubung-hubungkan ganja dengan agama tertentu, bahwa salah satu nabi juga sempat memakai ganja.

Sontak, Gofar langsung ditelepon bosnya dan menyuruhnya untuk menghentikan siaran. Sejak saat itu, Gofar merasa bahwa Indonesia belum siap dengan legalisasi ganja.

“Harusnya disampaikannya dengan pelan-pelan, nggak dengan ungkapan kontroversial. Masyarakat juga belum bener-bener paham dan nerima. Sebagai aktivis harusnya bisa kompromi,” ujar Gofar.

Cerita Gofar ini juga mengingatkan saya pada salah seorang kawan baik saya yang sekarang mengadu nasib di Jakarta. Di suatu pesta permabukan, saya sempat berucap ngawur, “Harusnya genjes legal yo.”

Tapi kawan saya ini malah membantahnya.

“Indonesia iki sek nggak siap. Bayangno ae lek legal, yaopo nasibe wong mbecak lek sampek ngijo sisan!”

Saya tertegun.

Jefri Nichol jelas bukan yang terakhir. Ke depannya pasti akan ada lagi dan ada terus. Permasalahan ganja belum final, masih simpang siur, dan harus segera ditemukan titik tengahnya—ben podo enake.