Ada sebagian manusia di dunia ini yang sepanjang hidupnya tak pernah melihat mereka yang tak terlihat. Tetapi, bagaimanapun juga, kisah misteri tentang suatu tempat selalu mengisi di sela–sela realita kehidupan.
Bahkan cerita yang berkembang pun terlampau banyak.

Kisah semacam ini tak luput dari kampus UBAYA Surabaya. Sebagian besar mahasiswa masih enggan dan denial jika ditanya tentang kejadian yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah yang menyelimuti kampus ini.

Tapi, bagaimana jika hal itu pernah dialami langsung oleh mereka yang benar–benar sudah melihat?

Misalnya, seorang mahasiswi yang malam itu buang air kecil di toilet Gedung Psikologi. Setelah selesai pipis, dia pun mulai bercermin. Memastikan make-up di wajah tak luntur sebelum selesai jam kuliah.

Ketika bercermin, dalam sekejap tubuhnya seperti dipasung. Matanya seakan dipaksa melihat ke dalam sana, di pojok kanan bawah. Dari dalam cermin, dua anak kecil laki–laki dan perempuan sedang melihat mahasiswi itu dengan tatapan marah. Paras wajah mereka pucat pasi.

Mahasiswi itu berusaha keras menutup mata karena ketakutan mulai merasuk dalam pikirannya.

Ketika merasa tenang dan sudah mampu menguasai perasaan takut, dia memberanikan diri untuk membuka mata secara perlahan. Kemudian bergegas keluar dari toilet.

Di pintu keluar, tubuh dua anak kecil yang dilihat di dalam cermin tersebut tergantung. Kepalanya terikat kencang oleh seutas tali. Lidahnya menjulur keluar, matanya melotot. Sekumpulan belatung merayap dan menggerogoti dua tubuh anak kecil itu dari telapak kaki hingga kepala. Sontak, mahasiswi itu menjerit histeris.

Pada hari–hari berikutnya, cermin di toilet lantai 4 salah satu gedung ini sengaja tidak dipasang lagi oleh pengelola kampus. Konon, kejadian serupa sering menimpa kalangan civitas akademika.

Suatu sore di Gedung Farmasi menjadi hari yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Ada hal yang harus dilakukan salah satu mahasiswa sebelum beranjak pulang. Yaitu, membereskan alat praktik laboratorium ke tempat asalnya.

Saat sedang sibuk dan berkutat dengan peralatan lab, masuklah orang yang dia kenal untuk membantunya. Teman satu kos.

Semerbak aroma wangi bunga melati hadir di antara mereka. Perdebatan berhenti. Mereka berdua sekencangnya berlari dari tempat itu.

Dia merasa lega karena ada yang membantu meringankan pekerjaannya. Tak lama, pekerjaan itu pun kelar. Bersama dengan teman satu kos, mereka beranjak pergi dari lab. Sang teman berkata untuk jalan terlebih dulu ke kos. Dia pun melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga di kampus.

Berselang lima menit, dia berpapasan dengan teman sekosnya yang mengarah ke atas. Mahasiswa itu sedikit bingung ketika melihat temannya lagi dari arah bawah. Padahal, baru saja dia dibantu merapikan pekerjaannya. Dan, temannya kan masih di lantai atas. 

Terus yang ngewangi tadi itu sapa sakjane?

Temannya itu ngeyel bahwa dia baru aja datang ke kampus. Debat kusir pun tak terhindarkan. Tiba-tiba, semerbak aroma wangi bunga melati hadir di antara mereka. Perdebatan berhenti. Mereka berdua sekencangnya berlari dari tempat itu.

Ada lagi kejadian di halte 2 kampus UBAYA. Malam itu, sudah biasa bagi pak satpam untuk monitoring area di sekitar kampus. Dia melihat seorang mahasiswi duduk di halte sendirian.

Sebenarnya, pak satpam sering melihatnya di sana. Baik pagi, siang, sore, maupun malam. Dia tahu bahwa gadis itu bukan menunggu bus kampus maupun mobil jemputan. Sepertinya, gadis itu hanya duduk-duduk di sana. Sebagai petugas keamanan kampus, dia merasa harus memastikan bahwa mahasiswi itu tidak apa-apa.

Jarum jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Pak satpam menghampiri si gadis dan bertanya sedang menunggu siapa. Si gadis hanya merespons dengan sebuah senyum simpul.

Petugas keamanan itu kemudian duduk di sebelahnya dengan maksud menemani. Selama itu pula, si gadis tetap seperti sibuk sendiri dengan handphone-nya. Entah berapa lama kemudian, gadis itu berpamitan pulang dan mengucapkan terima kasih karena sudah ditemani.

Keesokan paginya, ketika berjalan di lorong kampus, petugas keamanan ini seketika terhenti di depan mading. Dia mendapati sebuah berita duka. Ada seorang mahasiswi yang koma selama seminggu dan tadi malam dinyatakan meninggal akibat penyakit yang diderita. Dia ingat betul wajah yang terpampang di berita duka tersebut.

Jika diingat lagi, selama seminggu, petugas keamanan ini melihat si gadis duduk di halte 2 UBAYA. Waktu kematiannya tepat satu jam sebelum dia duduk di sebelah almarhumah.

Menurut beberapa sumber, seminggu sak marine kejadian itu, pak satpam minta dipindah ndek tempat lain.

Masih banyak cerita lagi yang beredar di kalangan kampus. Tapi, beberapa sumber memilih bungkam demi nama baik instansi pendidikan.

Apapun itu, setiap kampus hampir selalu punya kisah hantunya sendiri. Mereka yang tak terlihat itu selalu ada dalam setiap sendi kehidupan manusia. Tinggal pada pilihan kita yang melihat atau kita yang dilihat?