Kelasku tepat di pojokkan sebelah barat lantai 2. Karena tempatnya berada di pojokkan, ruang kelasku agak gelap. Tapi untungnya, ada cahaya dari jendela yang menuju ke belakang sekolah.

Udara di kelasku juga cukup dingin dibanding kelas yang lain. Saat istirahat atau waktu-waktu luang, biasanya kami duduk di luar kelas.

Suatu hari saat ada kegiatan PMR (Palang Merah Remaja). Aku menyempatkan kembali ke kelasku untuk mencari barangku yang ketinggalan di laci meja. Saat masuk ke kelas, terasa cukup sejuk dengan angin yang berhembus dari jendela.

Aku memeriksa laci mejaku dan aku menemukan barangku itu. Saat mau kembali keluar kelas, aku melihat ada sesuatu di white board. Aku melihat ada pantulan bayangan seseorang perempuan dari white board kelasku itu.

Pantulan di white board itu cukup jelas menunjukkan ada seorang perempuan berambut pirang sepunggung memakai gaun putih. Dia terlihat senyum ramah ke arahku.

Aku melihat di sekitarku tidak ada siapa-siapa hanya ada aku di kelas saat itu. Ternyata perempuan itulah yang berada di kelasku itu.

Sosok perempuan itu terlihat sangat ramah. Dia terlihat seperti nonik (wanita belanda). Jadi aku tidak merasa takut dengan sosok penghuni kelasku yang ini. Sosok perempuan itu selalu terlihat berdiri di belakang kelas dan tersenyum manis sambil membawa payung putih yang terbuka.

Mulai dari itu aku sering kembali ke kelasku saat pelajaran selesai untuk melihat sosok nonik di kelasku itu. Meski aku berkali-kali ke kelas saat pelajaran selesai, nonik yang ada di kelasku itu selalu memperlihatkan dirinya melewati pantulan white board.

Padahal penghuni kelasku yang sebelumnya bisa menampakkan sosoknya secara langsung. Entah kenapa nonik ini tidak mau menampakkan wujudnya secara langsung.

***

Suatu hari saat aku mengikuti pelajaran di kelas. Mendadak temanku yang berada di depanku marah-marah. Dia bilang kalau aku menendang kursi dan kakinya.

Aku yang tidak tahu apa-apa dan merasa tidak melakukannya, tidak terima temanku marah-marah begitu. Kemudian kami kembali mengikuti pelajaran lagi.

Setelah temanku yang merasa kursi dan kakinya ditendang, kali ini giliran aku yang merasakan itu. Saat aku melihat di bawah bangku, aku melihat ada sesuatu yang panjang, berwarna merah muda, bergerak di bawahku.

Aku yakin itu bukan ular atau semacamnya, itu mirip seperti ekor tikus. Lagi pula, mana ada tikus yang memiliki ekor sepanjang itu. Benda itu melintas di bawah bangkuku dan bergerak ke depan.

Tidak lama kemudian temanku yang ada di depanku marah-marah lagi. Kali ini aku diam saja karena aku tahu apa yang melakukan itu.

Aku lihat di papan terlihat nonik itu berdiri di deretan bangku paling belakang, seperti biasa dia tersenyum manis. Tapi, ada yang beda. Aku melihat ada sesuatu yang ada di bawahnya dan melingkar di tubuhnya. Kemudian ada bayangan hitam yang ada di leher nonik itu.

Sepertinya benda yang aku lihat tadi itu adalah peliharaan si nonik. Tapi aku tidak tahu apa peliharaannya itu. Benda itu seperti ekor tikus tapi sangat panjang.

Sebagian besar tubuh peliharaannya itu sepertinya berbentuk ekor, hanya sebagian kecil saja dari tubuhnya itu berbentuk tubuh dan kepala yang mirip ular.

Baru kali ini nonik muncul saat pelajaran masih berjalan. Sepertinya nonik memang sengaja muncul untuk menunjukkan peliharaannya itu padaku.

Sebelumnya aku belum pernah melihat peliharaan nonik itu di kelas atau di sekitar kelasku. Kemudian aku memperhatikan di sekitar kelasku, ternyata ekor peliharaannya nonik itu melingkari seluruh kelasku.

Ekornya melintas dari bangku satu ke bangku yang lainnya, tidak ada bangku yang terlewatkan oleh ekor makhluk itu.

Pemandangan yang misterius itu tak pernah aku tahu maknanya. Hingga bertahun-tahun kemudian. Bahkan setelah aku lulus, aku tak tahu apa tujuan dan maksud nonik gaib itu. Juga kenapa peliharaannya seperti menguasai seisi ruang kelas.

Yang aku tahu, nonik tak pernah lagi menemuiku. Dan aku pun mulai melupakannya. Dan menganggapnya cuma sebagai cerita tentang yang tak kasat mata di SMA Antartika.