Di era kiwari yang penuh kehebohan, banyak kata yang tiba-tiba berubah definisinya. Entah sejak kapan kata-kata itu menjadi momok yang menakutkan, hingga dimusuhi oleh banyak khalayak yang sangat nasionalis, nasionalisnya nasionalis. Perubahan definisi kata tersebut menjadi lumrah dan dibiarkan secara terus-menerus, di tengah euforia nasionalisme yang ingin kembali ke pemakaian bahasa Indonesia yang subtantif.

Kata menjadi politis kala digoreng oleh mereka yang mempunyai relasi kuasa. Main obrak-abrik definisi, hingga implementasi dari kata tersebut. Mencoba memakai narasi sejarah, namun banyak dari hal tersebut salah kaprah dan sesat menyesatkan. Kini terasa sudah terlanjur, kepalang tanggung, kata-kata yang secara leksikal memiliki definisi positif, tiba-tiba menjadi kata terlarang yang membahayakan bagi nusa dan bangsa.

Ambil contoh kata “radikal“, banyak di antara kita, sahabat, keluarga, kawan, kolega, guru hingga yang terkasih, salah mendefinisikan kata ini. Tidak hanya itu saja, mereka pun gagal memahami sejarah. Bagaimana kata radikal ini memiliki marwah yang positif, sebagaimana dalam catatan sejarah yang menghiasi historiografi kita. Namun berangsur-angsur kata ini menjadi iblis, yang siap mengoyak keimanan kita. Dilekatkan negatif pada mereka yang dianggap antinasionalisme, memakai kekerasan dan anti standar politis keindonesiaan.

“Radikal” sendiri berasal dari serapan bahasa Perancis radical yang berasal dari bahasa Latin yakni radix, kata ini sendiri bermakna akar dan didefinisikan berkaitan konteks yang mengakar serta mendasar berelasi dengan sebuah perubahan masif.

“Radikal” di Merriam Webster mempunyai makna yang berhubungan dengan akar, fundamental, lalu dapat dikaitkan dengan proses atau perubahan yang sinkronis (proses atau peristiwa perubahan).

Sementara dalam Cambridge, kata “radikal” sendiri bermakna mempercayai atau mengekspresikan suatu kepercayaan yang itu dapat menjadi perubahan besar atau perubahan politik dan sosial yang ekstrem atau mendasar. Jika kita mengulik di KBBI sendiri makna radikal tidak selebay yang mereka ungkapkan, ia lebih menggambarkan pada perubahan yang mendasar atau kemajuan suatu pemikiran dan tindakan.

Dari makna per makna ini dapat didefinisikan jika kata “radikal” sangat baik, tidak ada tendensi negatif. Justru salah memaknai dan mendefinisikan kata radikal akan berimplikasi fatal. Karena akan mengaburkan kenyataan, bahwa kata radikal tak berbahaya bahkan memiliki implikasi progresif.

Namun ada catatan, kata ini akan memiliki definisi yang kontradiktif dengan keyakinan atau ideologi jika dilekatkan pada objek dan subjek yang lain. Misal memakai kata radikal direlasikan dengan objek Islam dan subjeknya ialah mereka yang meyakini Islam sebagai jalan politik. Maka akan ada kecenderungan stigmatisasi bahwa mereka adalah teroris atau berbahaya bagi nasional.

Berbeda jika kita letakkan kata “radikal” dengan subjek, objek, dan keterangan, maka akan jelas posisi kata radikal. Misalnya Islam sebagai objek, subjeknya keyakinan politik Islam dan keterangannya adalah ia meyakini Islamisme, secara lebih spesifik lekat dengan organisasi seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin atau Al-Qaeda, dll.

Dari uraian di atas sudah jelaskan, kata radikal sebenarnya positif secara makna maupun definisi. Dan akan cenderung negatif jika direlasikan dengan subjek, objek, dan keterangan yang berseberangan secara ideologi dengan keyakinan umum. Kondisi inilah yang dilakukan semasa orde baru, kala melakukan kekerasan budaya, dengan menyematkan kata radikal kepada mereka yang dituduh antipancasila dan pemerintahan Suharto.

Nah, siapa juga yang masih salah memahami kata anarkis? Apa beda anarkis dan vandalisme? Tentu ini jadi pertanyaan bersama, bagaimana kita lebih mau belajar dan belajar lagi, khususnya berkaitan dengan literasi itu sendiri. Semoga kita menjadi bangsa yang mau membaca dan tidak bebal.