DNK

Sang Kamerad Pemimpin Perang, Soemarsono (1921-2019): Mengampuni Bung Tomo, Membantah Soekarno

Sang Kamerad Pemimpin Perang, Soemarsono (1921-2019): Mengampuni Bung Tomo, Membantah Soekarno

Buku pelajaran sejarah di sekolahan boleh saja menggadang-gadang nama Bung Tomo ketimbang Soemarsono. Padahal, Bung Tomo anak buah Soemarsono.

Revolusi memangsa anak kandungnya sendiri. Hingga berpulang pada Selasa (8/12) di Sydney, Australia, pimpinan pertempuran Surabaya 1945 itu terbuang di negeri orang.

Saya jumpa Soemarsono bulan puasa, Agustus 2010. Ketika itu, usianya 90 tahun. Ia kelahiran 22 September 1921.

Malam itu, pimpinan perang Surabaya tersebut masih terlihat gagah. Bicaranya lugas dan jelas. Lenggang langkahnya kokoh tanpa bantuan tongkat. 

Semangat 45 masih melekat di dirinya. Semangat lebih memikirkan kepentingan bangsa, ketimbang kepentingan pribadi. Dia tak butuh dianugerahi gelar pahlawan.

Tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) bawah tanah ini keluar masuk penjara sekitar tujuh kali. 

Terakhir, lepas dari penjara Orba, beliau angkat kaki dari Tanah Air dan memilih menetap di Sydney. Berkewarganegaraan Australia hingga tutup usia.

Dialah orang yang mengusulkan 10 November jadi Hari Pahlawan.

Bila bertandang ke Museum Pertempuran Surabaya, tuan dan puan akan mendapati plakat nama Soemarsono berjejer bersama nama-nama pejuang kemerdekaan lainnya. 

Sekadar memulangkan ingatan, mari mengenang sepak terjangnya …

Surabaya, 19 September 1945

Kediaman Soemarsono di Peneleh kedatangan dua tokoh pemuda. Roeslan Widjajasastra dan Soekarno (bukan presiden). 

Sedang asyik-asyik ngobrol, tiba-tiba sejumlah pemuda datang tergopoh-gopoh. Mereka membawa kabar, bendera merah putih biru berkibar di Hotel Yamato.

Terjadi perundingan. Dan, “Mari kita turunkan bendera itu!” ajak Soemarsono, yang ketika itu berusia 24 tahun. Dia pemimpin Angkatan Muda Minyak Indonesia.  

Sekitar 15 orang pemuda pun bergerak dari rumah itu. 

Di sepanjang jalan dari Peneleh menuju Tunjungan, belasan pemuda itu berteriak-teriak, "ayok ikut kami, turunkan bendera merah putih biru," kenang Soemarsono dalam buku Revolusi Agustus

Makin lama jumlah mereka makin banyak. Sesampai di muka Hotel Yamato--di zaman Belanda namanya Hotel Orange--jumlah mereka sudah 50-an orang.

Massa bersorak menyeru perintah, “Turunkan bendera!" berkali-kali. 

Karena penjaganya orang Inggris, dan dianggap tak paham bahasa Indonesia, maka massa berteriak, “Put down the flag! Put down the flag!

Tetap saja tak digubris. Saat itulah Mr. W.V.Ch Ploegman, keluar ke halaman hotel sembari mengayun-ayunkan kayu hitam. 

"Dia itu boxer, orangnya gede tinggi kayak Samson. Kita lempari dia dengan batu dan pecahan atap genteng, sambil berlari mundur. Sampai jarak kira-kira 100 meter kita berhenti," kenang Soemarsono.  

Lalu massa bergerak maju lagi sambil berteriak, “Put down the flag!

Dan massa jumlahnya sudah ratusan. Ploegman yang juga maju menantang, tiba-tiba terkapar. Tewas kena tusuk.  

"Tidak tahu siapa yang menusuk. Kalau menurut perasaan saya banyak orang di sekitar itu, termasuk pengendara becak," tutur Soemarsono. 

Sejurus kemudian, tanpa ada yang memberi aba-aba, ada yang berinisiatif mengambil tangga untuk memanjat punggung hotel. 

"Bukan satu orang saja, tapi dua, tiga orang sampai lebih dari sepuluh orang yang naik ke atas, naik lagi terus sampai ke tempat bendera itu, lalu dirobek birunya dan berkibarlah sang merah putih dengan megah," kenang Soemarsono.

Dua hari kemudian. Dalam sebuah pertemuan, organisasi-organisasi pemuda di Surabaya sepakat bersatu membentuk Pemuda Republik Indonesia (PRI). Soemarsono dipilih jadi ketua.  

 

.

Surabaya, 23 September 1945

Roeslan Abdulgani, pimpinan Angkatan Muda Indonesia (AMI) memfasilitasi pertempuan pemuda Surabaya di Gedung Nasional Indonesia (GNI), Jl. Bubutan. PRI, pimpinan Soemarsono diundang.  

Dalam pertemuan itu, Roeslan Abdulgani menyatakan, "Saya memang sudah terlampau tua untuk memimpin pemuda, saya usulkan kepada saudara-saudara, karena ada calon yang lebih cocok dengan saudara-saudara, ya ini Soemarsono. Apakah saudara-saudara bisa menerima?" 

Semua serentak menerima usul tersebut. Sejak itu, organ-organ pemuda Surabaya lebur ke dalam PRI. 

Soetomo alias Bung Tomo, anggota Angkatan Muda Indonesia (AMI) diangkat menjadi Ketua Bidang Penerangan PRI. 

"Itu sebabnya dia setiap malam bicara di radio," tulis Soemarsono dalam buku Revolusi Agustus. 

Bung Tomo sebaya dengan Soemarsono. Sebagai wartawan, dia mendirikan Radio Pemberontakan yang mulai mengudara sejak pertengahan Oktober 1945. 

Pengalaman jurnalismenya bermula pada 1937 di harian Soeara Oemoem, Surabaya.  

Setahun kemudian menggarap mingguan Pembela Rakyat sebagai redaktur, sembari menjadi wartawan aktif dan mengelola rubrik Pojok di harian Ekspres, Surabaya. 

Semasa pendudukan Jepang, Bung Tomo bekerja untuk kantor berita Domei

Radio Pemberontakan, “Mula-mula bergelombang pendek 34 meter," tulis Soeara Rakjat, edisi 15 Oktober 1945. 

Kemudian, sebagaimana buku Pertempuran Surabaya, berkat dorongan dari pemimpin RI di Surabaya, Bung Tomo memperkuat pemancarnya sehingga dapat ditangkap di luar negeri. 

Dari Jalan Mawar, “Suara Bung Tomo yang khas itu merupakan magic voice yang dapat membakar semangat dan naluri untuk berjuang," tulis buku Pertempuran Surabaya

Siaran-siaran Bung Tomo di Radio Pemberontakan  berhasil membakar semangat rakyat Surabaya. Namanya pun melambung. Sang wartawan mendadak terkenal. 

Surabaya, 12 Oktober 1945

Bung Tomo mendirikan Barisan Pemberontakan Rakjat Indonesia (BPRI). 

Begitu mengumumkan BPRI, Bung Tomo ditangkap kelompok pemuda. Ia dianggap mengkhianati PRI. 

Oleh para pemuda yang meringkusnya, Bung Tomo digelandang ke markas PRI yang menempati gedung bekas Belanda di Jalan Wilhelminalaan.

Sejak PRI bermarkas di sana, papan nama jalan itu diganti jadi Jalan Merdeka.

Bung Tomo dihadapkan ke Soemarsono.  

"Saya kaget juga," kenang Soemarsono, yang ketika itu pucuk pimpinan PRI. "Waktu itu, kalau pemuda sudah bertindak kayak begitu, ya bisa selesai." 

Menurut cerita Soemarsono, di markas PRI, selain dirinya ada sejumlah pimpinan pemuda, seperti Bambang Kaslan, Supardi, Roeslan Widjajasastra.  

"Soetomo itu jongkok di muka saya. Minta supaya ditolong untuk dikasih hidup, sebab pemuda pada waktu itu memang sikapnya beringas," tutur Soemarsono. 

Kepada para pemuda bersenjata itu, Soemarsono menerangkan bahwa Bung Tomo tidak menyalahi apa pun.  

Kata Bung Son, demikian dia karib disapa… 

Dia mendirikan organisasi BPRI maksudnya bukan untuk memecah belah, tapi mengorganisasi yang belum terorganisasi oleh pemuda…misalnya tukang becak…

Bung Tomo selamat. Dia dilepas kelompok pemuda yang meringkusnya. Dan, “Kembali sebagai Ketua Penerangan PRI, tapi juga Ketua BPRI," ungkap Soemarsono. 

***

SEJAK penghujung September hingga awal Oktober 1945, "Tentara Jepang menyerahkan 80.000 karabijn dan 60 pesawat terbang di lapangan terbang Morokrembangan," kenang Soemarsono, dalam Revolusi Agustus.  

Sejak itu, rombongan-rombongan pemuda sudah mulai tampak hilir mudik menenteng senjata. Ini pemandangan baru di kota itu.  

Karena tak satu pun yang pandai menerbangkan pesawat, melalui siaran radio, Soemarsono selaku pucuk pimpinan Pemuda Republik Indonesia (PRI), menyeru; revolusi kemerdekaan Indonesia butuh pilot! 

"Datang Suryadharma, waktu itu belum jadi Laksamana Udara… Dia datang bercelana pendek saja dan pakai kaos lengan panjang," tutur Sumarsono. 

Setiba di dalam Markas Besar PRI, Soemarsono bertanya. "Cuma you saja? Ini ada 60 pesawat…" 

Suryadharma yang dimaksud, agaknya punya nama panjang Surjadi Suryadharma, yang belakangan dinobatkan sebagai Bapak AURI. Dia pendiri AU dan Kepala Staf Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara pertama. 

***

Soemarsono, pimpinan PRI sedang bersama Dr. Mustopo, ketika utusan dari Jakarta datang ke Surabaya, di penghujung Oktober 1945.  

Menteri Negara Sartono, Salyo Hadikusumo selaku Menteri Keamanan ad interim pengganti Suprijadi (pemimpin pemberontakan Peta di Blitar) yang menghilang, membawa pesan; 

Itu pasukan Sekutu akan mendarat di Surabaya supaya diterima dengan baik.  

Kedatangan ribuan pasukan Sekutu di bawah pimpinan Mansergh dan Mallaby, sebagai komite pembebasan tawanan perang Sekutu dan urusan memulangkangkan serdadu Jepang yang kalah perang ke negaranya.

Setelah tiga hari pasukan pemenang perang dunia kedua itu di Surabaya, para pemuda mulai curiga, mengingat tempat-tempat penting yang menjadi kedudukan mereka, seolah mengepung kota Surabaya. 

"Timbul pikiran pada kami, ini seolah-olah kita sedang masuk perangkap, padahal kami menerima mereka dengan baik," tulis Soemarsono.

Surabaya, 28 Oktober 1945

Benar saja. Pertempuran pun meletus. Rakyat Surabaya dengan gagah berani meladeni sang juara dunia yang secara teknik dan persenjataan lebih segala-galanya. 

Di hari ketiga, pasukan republik di atas angin. Ibarat orang bertinju, juara dunia terpojok di sudut ring.  

Pimpinan Sekutu mengadu ke bos besarnya, D.C. Hawthorn yang berkedudukan di Singapura. Mendengar laporan anggotanya, dia langsung meluncur ke Jakarta.  

Bung Karno, Bung Hatta dan Menteri Penerangan Amir Sjarifudin diajak Pak Bos Sekutu itu ke Surabaya untuk menghentikan pertempuran. 

"Saya waktu itu ikut bertempur di pinggir kota, di Wonokromo," kenang Soemarsono yang ketika itu berusia 24 tahun. 

Sedang seru-serunya bertempur, datang orang yang mengabarkan bahwa Soekarno konvoi keliling Surabaya menyeru agar pertempuran dihentikan.  

"Saya mencoba masuk kota, maksudnya mau menghalangi gencatan senjata itu," akunya.  

Di Ngagel ia berpapasan dengan konvoi Bung Karno.  

Dalam sebuah obrolan dengan saya, tempo hari, Soermarsono masih ingat, "Bung Karno berteriak-teriak menggunakan pengeras suara memerintahkan agar pertempuran dihentikan." 

Soemarsono ke tengah jalan menghadang konvoi.  

"Ini kita sudah dalam keadaan unggul kok diberhentikan?" katanya dengan nada marah.  

"Bagaimana kok Bung tidak bicara dengan kami yang mimpin pertempuran ini? Kami yang bertanggungjawab. Korban pun sudah banyak dan sebentar lagi kita akan menang, kok Bung berhentikan?" 

Bung Karno dan Bung Hatta saat itu diam saja. Lalu Amir Sjarifudin keluar dari mobil dan langsung rangkul-rangkulan dengan Soemarsono. 

"Saya sudah kenal Amir Sjarifudin sejak zaman Gerindo. Ini pimpinan saya, Amir Sjarifudin ini kelompok saya," terangnya. 

Sambil merangkul, Amir berbisik, "Ini sudah didiskusikan oleh kawan-kawan, oleh kami, sudah keputusannya begini." 

Soemarsono patuh. Padahal, sebagaimana dikisahkannya, tiga jam saja utusan dari Jakarta itu telat datang, maka Sekutu dipastikan akan mengibarkan bendera putih.  

Soemarsono diajak Amir ikut ke mobilnya. Mereka lalu ke Jalan Mawar, ke gedung tempat Bung Tomo biasa siaran. Meski terus menerus gerendengan, pemimpin pemuda Surabaya itu akhirnya setuju gencatan senjata. 

Hari itu juga, 30 Oktober 1945, perundingan diadakan di kantor Gubernur Jawa Timur.

Dalam perundingan itu Mallaby meminta sekitar 5.000 tentaranya yang hilang dikembalikan. 

“Saya jawab, kami kehilangan 20.000 orang. Apa bisa minta kembali. Perundingan itu tidak memuaskan pihak Sekutu. Makanya, 10 hari kemudian, 10 November 1945 Sekutu menyerang kita dengan kekuatan penuh dari udara, laut maupun darat. Sadis sekali!” 

Dari caranya bertutur tak sedikitpun terbesit agar dirinya diakui sebagai pahlawan. Dia bercerita layaknya seorang kakek mengantar tidur cucunya. 

***

Saat pertempuran 28 hingga 30 Oktober 1945, mulanya Sekutu berada di atas angin. Secara posisi, pasukan pemenang perang dunia kedua itu sudah mengepung Surabaya.  

Secara teknik dan pengalaman, jangan ditanya. Juara dunia, kawan. Dalam hal persenjataan apalagi. Pendeknya, saat pertempuran bermula, pihak Indonesia kalah segala-galanya.  

Namun...Arek Suroboyo berhasil membalik keadaan.  

"Sadar kalau sudah dikepung dan kepepet kami ya melawan," ungkap Soemarsono, pimpinan Pemuda Republik Indonesia (PRI). 

Apa jurus yang dipakai?  

"Menurunkan Kaisar dari kuda tunggangan," Soemarsono membuka sebuah rahasia.  

"Itu ukurannya (berani, Red.)! Kalau berjuang tidak dimulai dengan berani, tidak ada perjuangan," tulis Soemarsono dalam Revolusi Agustus. 

Soemarsono menceritakan, dalam pertempuran tiga hari (28-30 Oktober 1945) itu, pemuda Surabaya bertempur dengan semangat romantik heroisme. 

Panser, tank Inggris itu dihantam pakai granat, tapi tidak mempan. Dikasih jeglongan atau parit penghalang juga tak apa-apa.

Lalu dihampiri oleh pemuda dan naik ke atas tank, di atas panser itu. Sesudah itu dimasukkanlah granat itu. Sampai begitu. Yah dia mati juga.

"Itulah yang bisa mengubah keadaan. Di Surabaya pemuda-pemuda kita memang ikhlas, romantik, romantik heroismenya sangat tinggi," tuturnya. 

Surabaya, 10 November 1945

Sekutu balas dendam. Melalui radionya, sebagaimana disarikan dari buku Pertempuran Surabaya, Bung Tomo terus menerus menyeru…

Saudara-saudara… banyak teman kita yang telah gugur. Tetapi percayalah! Mereka ini, daging darah, tulang-tulang mereka ini akan menjadi rabuk dari suatu negara merdeka di kelak kemudian hari. 

Saudara-saudara…kemakmuran dan keadilan yang merata akan menjadi bagian anak-anak mereka di kelak kemudian hari.

Maka, saudara-saudara…teruskan perjuangan! Kita mati, kita lenyap dari dunia ini, tetapi masa depan akan penuh dengan kemakmuran dan keadilan…

Saudara-saudara…marilah, kemenangan pasti akan di pihak kita. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdekaaaa!!!

Di lain waktu, untuk memberikan kekuatan batin, melalui siarannya, Bung Tomo meminta para ulama untuk berdoa.  

Gara-gara mendengar siaran radio Bung Tomo itu, di sejumlah tempat digelar ritual-ritual sakral. Bahkan di Blauran Gang V, disediakan "sesuatu" yang dipercaya membuat kebal.  

Rakyat juga menyediakan makanan dan air di tiap pintu rumah karena mendengar seruan Bung Tomo. 

Di kemudian hari, ketika perang usai Bung Tomo pernah menjabat Pemimpin Radaksi Kantor Berita Antara di Surabaya. 

Namun apa hendak di kata, karena mengkritik pemerintah, dia sempat pula mendekam dalam penjara Orde Soeharto. 

Ketika Sekutu pesta pora membalaskan dendamnya pada rakyat Surabaya, Soemarsono bersama sejumlah pimpinan perjuangan sedang berada di Yogyakarta. Menghadiri Kongres Pemuda.

Para delegasi Surabaya sudah tiba di Yogya sejak 9 November malam. 

Kongres sedianya digelar 10 November. Tapi, Surabaya bergolak. 

Nah, hari itu juga, M. Kalibonso, dari Pemuda Republik Indonesia (PRI) siaran di Radio Pemberontakan-nya Bung Tomo di Jl. Mawar. 

"M. Kalibonso memanggil para anggota PRI yang sedang menghadiri Kongres Pemuda di Yogyakarta kembali ke Surabaya," dicuplik dari buku Pertempuran Surabaya, berdasarkan wawancara dengan M. Kalibonso, di Jakarta, 28 Oktober 1974. 

"Karena mendengar keadaan genting, saya kembali ke Surabaya bersama Widarta dan yang lain, termasuk seorang sopir," kenang Soemarsono.

Sesampai di Surabaya, sebagaimana ditulis dalam buku Pertempuran Surabaya, Ketua PRI, Soemarsono datang ke Sepanjang bersama Koenkijat dari BBI, Barisan Buruh Indonesia. 

Sekadar catatan, sejak awal November 1945, sebagian markas TKR Jawa Timur dipindahkan ke Kletek, daerah Sepanjang. 

Dalam sebuah wawancara dengan R. Koenkijat, di Surabaya, 27 Januari 1975, sebagimana termuat dalam buku Pertempuran Surabaya, dikisahkan, kedatangan dirinya dan Soemarsono untuk membicarakan koordinasi dengan pimpinan TKR di Sepanjang.  

"Akhirnya, pada 15 November diadakan pertemuan koordinasi di markas Angkatan Laut di Milkerij di desa Morgorejo, Wonocolo," tulis buku yag diterbitkan Balai Pustaka itu.

Menurut Soemarsono, peristiwa 10 November 1945 di Surabaya adalah hukuman dari tentara imperialis atas pertempuran yang meletus beberapa hari sebelumnya. “Itu balas dendam yang keji.”

Setelah Indonesia merdeka, Soemarsono mengusulkan tanggal 10 November ditetapkan jadi Hari Pahlawan. Dan langsung disetujui Bung Karno. 

Secara resmi, Bung Karno juga pernah memberinya pangkat mayor jenderal (tituler). Tahun 1948 ketika meletus peristiwa Madiun Affair, ayah dari 6 anak ini menjabat posisi Gubernur Militer Madiun. 

Perjuangan Soemarsono, bersama para kusuma bangsa mempertahankan kemerdekaan tidak sia-sia. 27 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia. 

Meski apa boleh buat. Di alam Indonesia merdeka, Soemarsono terbuang jauh ke negeri seberang. Dan kemarin, 8 Januari 2019 dia berpulang di negeri orang. 

Saat bersua, Agustus 2010 tempo hari dia ada berkata, “Saya cinta Surabaya. Saya cinta Indonesia. Setiap rindu Tanah Air, saya ke Indonesia.”