Duet Maut Terakhir Djaduk dan Butet

 Duet Maut Terakhir Djaduk dan Butet

Kabar kedatangan Teater Gandrik ke Surabaya memang sangat mengejutkan. Tidak adanya promo di media-media besar seperti pada beberapa tahun lalu, membuat banyak orang tidak tahu pementasan ini.

Ini berbeda dengan lawatannya 2012 lalu, yaitu mengambil lakon “Gundala Gawat.” Saat itu, promonya memang sangat ugal-ugalan. Koran terbesar di Jawa Timur bahkan sampai membuat headline satu halaman penuh untuk promosi.

Sontak pementasan Teater Gandrik saat itu sangat ramai penonton. Meski harga tiketnya sangat tidak bersahabat dengan kantong orang Surabaya yang memang malas mengeluarkan uang lebih hanya untuk menonton teater.

Setelah pementasan itu, bisa dibilang jagat teater di Surabaya seperti mati suri. Hampir tidak pernah ada pementasan teater berkelas yang menggebrak.

Namun di penghujung 2019 ini, rindu warga Surabaya yang akan pementasan teater bisa terobati. Salah satu teater terbaik dan masih eksis di tanah air, yakni Teater Gandrik, pentas di Surabaya.

Butet Kertaradjasa dan kawan-kawan kembali di Surabaya setelah enam tahun berselang. Gerombolan teater dengan guyonannya yang khas itu tampil selama dua hari (6-7/12) di Ciputra Hall, gedung teater yang sangat mewah di tengah perumahan elit Surabaya.

Selama dua hari, masyarakat Surabaya melepas kerinduannya akan perhelatan teater yang megah. Teater Gandrik kali ini membawakan lakon berjudul “Para Pensiunan.” Naskah ini merupakan hasil saduran dari karya Alm. Heru Kesawa Murti tahun 1986 yang berjudul “Pensiunan.”

Setelah melalui serangkaian proses, akhirnya naskah ini ditulis kembali oleh Agus Noor dan Susilo Nugroho, dan berganti judul menjadi “Para Pensiunan.”

Gaya Teater memang Gandrik dikenal sangat akrab di mata penontonnya. Menghadirkan humor-humor cerdas, namun tanpa kehilangan nilai kritisnya. Teater ini memang telah lama menjadi bagian dari perkembangan teater Indonesia.

Gaya pementasan teater ini khas dengan gaya sampakan. Pementasannya menyatu dengan hati penontonnya. Ceritanya juga sangat menarik dan tentunya membuat orang terpingkal-pingkal.

Sinopsisnya begini: Pada 2049 nanti, pensiunan jenderal, politisi, hakim, dan lainnya, dibuat tidak tenang dalam proses menunggu matinya.

Ini karena ada Undang-undang Pemberantasan Pelaku Korupsi (Pelakor). Peraturan ini secara konstitusional mengharuskan siapa pun yang mati, wajib memilki Surat Keterangan Kematian yang Baik (SKKB).

Akibat tidak mempunyai SKKB ini, banyak jasad pensiunan menjadi tidak bisa dikebumikan. Jasad-jasad pelaku korupsi ini pun lantas harus berguna bagi masyarakat. Tubuh-tubuh tak bernyawa itu pun lantas dicacah menjadi makanan ternak maupun sebagai pupuk untuk tumbuhan.

Karena susahnya mendapatkan SKKB, maka cara-cara licik pun dilakukan oleh para politisi. Mereka bahkan sampai membujuk, menjebak, atau menyuap para penjaga kubur.

Lalu muncullah Doorstoot yang diperankan Butet Kertaradjasa. Ia adalah politisi kelas kakap semasa hidupnya.

Karena terlalu rumit pada masa pemakamannya, lantas Doorstoot pun bangkit dari kematiannya. Ia mendatangi kolega, instansi yang berwenang, dan juga penjaga kubur agar segera dipulihkan nama baiknya serta mendapatkan SKKB.

UU Pelakor tentunya juga sangat merepotkan mereka yang belum mati. Mereka menjadi cemas, saat mati tidak bisa disembahyangkan ataupun dikuburkan. Mereka takut ketika tidak dikuburkan, jasad-jasad mereka tidak bisa diziarahi oleh anak-cucunya kelak. Bahkan, ketika menjadi isu politik, banyak kepentingan politisasi keadaan ini.

Wow! Ini adalah sebuah teater panjang selama lebih dari 2,5 jam yang menarik!

Ditambah lagi yang menjadi sutradara pada pementasan ini adalah Djaduk Ferianto, yang telah meninggal beberapa hari lalu.

Pada akhir pementasan, dengan cengengesan, Butet Kertaradjasa pun mengucapkan terima kasih kepada sutradara yang tidak kelihatan, yaitu Alm. Djaduk.

Pementasannya kali ini juga seolah tanpa cacat. Semua perfect dengan tata lampu serta suara yang mumpuni. Ditambah lagi dengan tim artistik yang membuat panggung menjadi sangat ciamik.

Naskah cerita pun juga bisa menjadi refleksi banyak orang sekarang ini. Tentang korupsi yang rasanya tetap merajalela, keruwetan birokrasi, serta mental-mental bobrok politisi.

Praktik memperoleh kekayaan dengan cara yang busuk seperti politik ini memang menjadi gambaran, bahwa budaya Indonesia memang busuk sehingga butuh pencerahan. Dan dalam hal ini, pencerahan yang paling pas adalah seni teater.

Pementasan Gandrik ini seolah ingin menyampaikan sebuah pesan, bahwa hidup sebenarnya hanya menunda pensiun. Meski tidak semua pensiunan itu bisa menikmati masa tuanya dan menunggu mati dengan tenang.

Semua penonton setelah melihat pementasan ini pun menjadi kagum dan terkesima. Mereka pulang dengan kesegaran yang memuncak, untuk menatap hari esok yang lebih baik lagi.

Artikel terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *