Ini Kegagalan Beberapa Negara yang Asal Ikut-ikutan Lockdown

 Ini Kegagalan Beberapa Negara yang Asal Ikut-ikutan Lockdown

Belakangan ini wacana lockdown (karantina wilayah secara total) kerap jadi bahasan publik terkait situasi tanggap darurat pandemi virus corona di Indonesia. Ada yang usul Indonesia perlu menerapkan lockdown seperti di Wuhan, China. Ada pula yang menolak lockdown tapi lebih setuju menerapkan Social Distancing (pembatasan jarak sosial) seperti yang sering disampaikan Presiden Joko Widodo. Warga Jawa Timur juga tak lepas dari wacana perlu-tidaknya lockdown. Dulur-dulur Jawa Timur mau ikut-ikutan latah minta lockdown seperti di Wuhan apa tidak?

Jika menyimak jejak aspirasi yang berkembang di Jawa Timur, sudah ada kelompok masyarkat yang usul terang-terangan meminta lockdown, seperti yang disampaikan oleh ulama-ulama Pulau Madura yang tergabung dalam organisasi Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura (Bassra). Mereka menerbitkan surat edaran bernomor 17/BASSRA/A/III/2020 yang isinya meminta empat pimpinan kepala daerah di Madura menempuh sistem ‘Lockdown’ untuk menetralisasi dan mencegah tersebarnya virus corona di Pulau Garam.

Ada pula warga kampung yang diam-diam melakukan penutupan jalan di daerahnya untuk mencegah penularan virus corona, seperti yang ditunjukkan warga Perumahan Araya, Malang, dengan menutup akses jalan sejak 30 Maret 2020. Hal serupa juga dilakukan oleh warga perbatasan di jalan sirip Trenggalek-Tulungagung di Desa Malasan, Trenggalek, Jawa Timur, pada Senin 30 Maret 2020.

Pertanyaanya, apakah kebijakan lockdown pasti akan mampu mengatasi wabah virus corona seperti yang dilakukan di Wuhan? Jika menyimak langkah sejumlah negara yang latah meniru pelaksanaan lockdown yang diterapkan China di Wuhan, faktanya banyak yang menemui kegagalan. Mari kita telusur satu per satu negara yang menerapkan lockdown berikut bukti-bukti data statistik mengenai perkembangan kasus positif virus corona dari hari per hari.

Berikut daftar negara yang menerapkan lockdown:

Provinsi Hubei – China (Lockdown mulai : 23 Januari )

Grafik harian virus corona di China
Grafik harian virus corona di China

Kasus Virus Corona pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Hubei. Lockdown yang dilakukan di Hubei sangatlah ketat dan transportasi umum sampai ditutup.  Banyak cerita dari lockdown Wuhan, mulai dari masyarakat saling memberi semangat dari jendela apartemen mereka, hingga pembangunan rumah sakit kilat untuk merawat pasien.

Italia (Lockdown mulai : 9 Maret )

Grafik harian virus corona di Italia
Grafik harian virus corona di Italia

Perdana Menteri Italia melaksanakan lockdown sebagai ekspansi kebijakan yang awalnya hanya berlaku di daerah Lombardia. Kebijakan lockdown nasional ini membatasi gerak masyarakat antar daerah. Ruang publik Italia pun menjadi sepi, termasuk titik-titik wisata. Sekolah dan universitas juga tutup, selain itu masyarakat di supermarket harus memberi jarak ketika mengantre.

Prancis (Lockdown mulai : 14 Maret) 

Grafik harian virus corona di Prancis
Grafik harian virus corona di Prancis

Perintah lockdown diumumkan oleh Perdana Menteri Edouard Philippe. Sekolah, toko-toko dan layanan hiburan seperti kafe dan bioskop juga diminta harus tutup. Keputusan itu diambil pemerintah Prancis ketika jumlah pasien terinfeksi di negara itu sudah hampir menyentuh lima ribu orang. Namun, pantauan France24 masih ada saja masyarakat yang bandel dan tetap pergi ke kafe, padahal Virus Corona bisa menular melalui kontak dekat.

Spanyol (Lockdown mulai : 16 Maret )

Grafik harian virus corona di Spanyol
Grafik harian virus corona di Spanyol

Spanyol menjadi negara Eropa terkini yang memilih lockdown. Pergerakan masyarakat dibatasi dan layanan bisnis tutup sementara. Berbeda dengan Prancis, masyarakat di Spanyol terpantau lebih siap melakukan lockdown. Kesiapan masyarakat Spanyol terbukti dengan heningnya suasana di jalan-jalan Barcelona dan Madrid. Kebijakan lockdown Spanyol akan berlangsung dalam dua minggu ke depan.

Irlandia (Lockdown mulai : 12 Maret)

Grafik harian virus corona di Irlandia
Grafik harian virus corona di Irlandia

Perdana Menteri Leo Varadkar menetapkan lockdown di Irlandia dengan memerintahkan sekolah dan universitas supaya tutup, dan melarang perkumpulang yang pesertanya lebih dari 100 orang. Namun, aturan Irlandia tidak ketat seperti di Hubei. Berdasarkan laporan The Irish Post, batasan acara 100 orang adalah untuk kegiatan dalam ruangan, sementara untuk kegiatan luar ruangan batasnya 500 orang.

Denmark (Lockdown mulai : 14 Maret)

Pemerintah Denmark resmi menutup seluruh perbatasannya pada Sabtu siang, 14 Maret. Semua jalur, baik itu darat, laut, udara, ditutup oleh negara Nordik ini. Ketika Denmark lockdown, sudah ada sekitar 800 orang yang positif Virus Corona. PM Metter menyadari adalah keputusan berat, tetapi ia tidak ingin jumlah pasien Virus Corona di negaranya bertambah. Lockdown di Denmark berlangsung hingga 14 April mendatang.

Filipina: (Lockdown mulai : 15 Maret)

Filipina masih negara berkembang, tetapi negaranya berani mengambil kebijakan lockdown. Daerah yang terdampak kebijakan ini adalah Metropolitan Manila alias ibu kota Filipina. Kebijakan ini kemudian meluas di senantero Pulau Luzon. Masyarakat Filipina pun ditegaskan agar tidak pergi keluar rumah dulu. Sekolah sudah diliburkan, sementara perkantoran, terutama sebagian besar layanan pemerintah, rencananya akan ditangguhkan. Manila yang biasanya macet pun menjadi lenggang. kebijakan ini rencananya berlangsung hingga pertengahan April mendatang.

Malaysia (Lockdown mulai 18 Maret)

Malaysia resmi menutup seluruh jalur menuju Negeri Jiran itu atau melakukan lockdown sejak Rabu (18/3/2020) sebagai imbas dari wabah virus corona atau Covid-19. Upaya menutup seluruh pintu negara tetangga itu semula dilakukan selama dua pekan, namun diperpanjang sampai 14 April 2020. Seperti dilansir Reuters dan Channel News Asia, Senin (30/3/2020), otoritas Malaysia memperpanjang pemberlakuan larangan perjalanan dan pergerakan, atau yang secara resmi disebut Perintah Pengendalian Pergerakan (MCO), di seluruh wilayahnya hingga 14 April mendatang. Otoritas Malaysia juga menutup sekolah-sekolah dan bisnis-bisnis yang tidak essential selama MCO diberlakukan. Di bawah MCO, setiap warga Malaysia dilarang keluar rumah jika bukan untuk keperluan penting..

Belgia (Lockdown mulai : 18 Maret)

Belgia mengikuti jejak negara tetangga di Eropa seperti Italia dan Prancis untuk memberlakukan kebijakan pembatasan perlintasan (lockdown) terhitung sejak Rabu (18/3) siang. Aturan ini berlaku hingga 5 April mendatang untuk menekan penyebaran virus corona. Perdana Menteri Belgia, Sophie Wilmes mengatakan warga yang diizinkan keluar rumah hanya petugas medis, pekerja di sektor makanan dan apotek, atau warga yang hendak berolahraga sendiri tanpa berkelompok.

India: (Lockdown mulai 24 Maret 2020)

India jadi salah satu negara berkembang yang mengimplementasikan kebijakan karantina wilayah selama 21 hari sejak Selasa (24/3/2020). Sayangnya, upaya penekanan penyebaran virus corona itu malah berujung tragis. Alur rantai pasokan berantakan, para pekerja informal kehilangan pekerjaan, tunawisma kelaparan. Bahkan, penduduk yang mengandalkan upah harian di Delhi dan Mumbai masih harus keluar rumah sehingga terpaksa berjalan dari kota ke desa karena tak punya makanan dan uang lagi. Pada akhirnya, Sekretaris Kabinet, Rajiv Gauba menyampaikan, tak ada rencana perpanjangan kebijakan lockdown di India, seperti dilansir dari Channel News Asia.

Kegagalan Lockdown di Beberapa Negara

Dari sekitar 10 negara yang telah menerapkan lockdown, baru China yang terbukti meyakinkan berhasil menekan angka penyebaran virus corona. Sementara negara lain yang meniru langkah China belum menunjukkan tanda-tanda berhasil menekan penyebaran virus corona seperti yang dilakukan di Wuhan, China. Jadi wajar saja, ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump hendak ikut latah ingin menerapkan lockdown di Newyork, langsung ditentang oleh gubernur New York. Yang pasti, Italia dan Spanyol yang ikut-ikutan menerapkan lockdown kini malah memiliki jumlah kasus positif virus corona melebihi China dengan total kematian jauh di atas kematian akibat virus corona di China.

Celakanya, India yang baru saja ikut-ikutan menerapkan lockdown pada 24 Maret lalu, justru menimbulkan kekacauan sosial karena diwarnai mudik massal dan banyaknya kerumunan warga akibat dilanda kepanikan terkait pelaksanaan lockdown. Yang menyedikaan, pemudik India sampai harus jalan kaki ratusan kilometer untuk pulang kampung. Lebih celaka lagi setelah penerapan lockdown, kasus virus corona di India malah melonjak tajam. Artinya, dalam waktu singkat India langsung menemui kegagalan menerapkan lockdown.

Kenapa India langsung menemui kegagalan? Karena India tidak setangguh China saat menerapkan lockdown di Wuhan. China punya sumber daya ekonomi kuat, sumber daya sosial budaya juga kuat. Sementara sumber daya poltik (meski dianggap ketinggalan zaman karena hanya menerapkan partai tunggal dan dianggap anti demokrasi), terbukti mampu mengelola masalah dengan baik dan berhasil menemukan solusi yang hasilnya dapat dilihat oleh dunia internasional.

China bisa berhasil menerapkan lockdown bisa dimaklumi karena perekonomian China memang kuat. Bahkan, mungkin lebih kuat dari AS. Jika tak percaya silakan cek sendiri siapa saja yang berkuasa dalam perusahaan multi nasional di tingkat global.  Wuhan sendiri dikenal sebagai tempat berkumpulnya para penguasa dunia; dari 500 perusahaan terbesar di dunia setidaknya terdapat 230 yang berinvestasi di sana.

Itulah bedanya China dengan negara-negara lain yang latah ikut-ikutan melakukan lockdown tapi tidak memiliki kesiapan sumber daya dalam mengelola krisis virus corona. Kalau cuma latah asal mengumumkan lockdown seperti di India, dampaknya malah bisa fatal karena kepanikan warga dan banyaknya titik kerumunan warga yang hendak mudik massal justru bisa mempercepat rantai penularan virus corona.

Pendek kata, keberhasilan menekan angka penyebaran virus corona tidak bergantung pada penerapan lockdown atau tanpa lockdown, tapi bergantung pada kerja sinergis multi pihak dalam memutus rantai penularan di tengah masyarakat. Buktinya, Korea Selatan sudah berhasil menekan penularan virus corona meski tanpa melakukan lockdown, tapi cukup melakukan Social Distancing seperti yang diterapkan di Indonesia saat ini.

Grafik bukti keberhasilan Korea Selatan atasi virus tanpa lockdown
Grafik bukti keberhasilan Korea Selatan atasi virus tanpa lockdown

 

Kunci Keberhasilan Korea Selatan dan China Menekan Virus Corona

Kunci keberhasilan China dan Korea Selatan dalam menekan penyebaran virus corona sebenarnya cukup sederhana, yakni butuh kedisplinan tinggi dan komitmen dari warga dalam membangun kerja sama multipihak (masyarkat, swasta dan negara) dalam memutus mata rantai penularan virus corona. Perlu dicatat, selain ditopang perekonomian kuat, keberhasilan China mengatasi wabah pandemi virus corona juga tak lepas dari kerja sinergis antar elemen bangsa di China. Di tengah-tengah kebijakan lockdown yang belum pernah terjadi sebelumnya di Wuhan itu, semua orang berusaha untuk bekerja bersama, masing-masing berkontribusi sesuai bagiannya dengan disertai ketulusan, keberanian, integritas dan kasih sayang.

Dalam “pertempuran sengit” melawan virus corona di wuhan tersebut, ada orang-orang yang menggemakan spirit “kebersamaan” di tengah kepanikan dan ketidakpastian. Ada juga orang yang berpacu melawan kematian untuk menyelamatkan nyawa. Ada pula orang-orang yang membangkitkan harapan dan keberanian meskipun ada kesulitan demi kesulitan.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apakah Indonesia memiliki sumber daya sehebat China? Dari sisi kekuatan ekonomi jelas sangat jauh beda. Karena itu, sangat tepat jika Presiden Joko Widodo tidak ikut-ikutan latah menerapkan lockdown seperti di Wuhan, melainkan melakukan pembatasan sosial berskala besar. Kepala Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan, pemerintah tidak akan menerapkan opsi lockdown karena kebijakan lockdown yang sudah diterapkan oleh beberapa negara lain nyatanya menimbulkan dampak baru. Menurut Doni Monardo, pemerintah memperhitungkan dampak dari berbagai aspek agar tak gagal seperti negara lain.

Akhir kata, sangat tepat jika Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan tidak akan pernah ada karantina wilayah atau lockdown di wilayah Jawa Timur. Menurut Khofifah, lockdown berarti sama sekali tidak ada mobilitas, kecuali TNI dan Polri yang mengirimkan logistik. Karantina wilayah juga berarti tidak ada orang yang keluar rumah.

Bagaimana dulur-dulur Jawa Timur, apakah masih mau latah ikut-ikutan lockdown hingga tak bisa keluar ruamh? Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saja batal melakukan lockdown setelah mendapat protes dari Gubernur New York Andrew Cuomo. Alasannya, jika lockdown diberlakukan di New York, maka perekonomian AS akan runtuh dan pemulihannya dapat memakan waktu “berbulan-bulan hingga hitungan tahun.” “Sektor finansial akan lumpuh,” ungkap Cuomo.

Dulur-dulur tidak mau sektor finansial di Jawa Timur jadi lumpuh bertahun-tahun akibat lockdown bukan?

 

Artikel terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *