Pada suatu malam yang teler pekan lalu, teman-teman saya dari luar kota merasa perlu menutup malam penuh kesia-siaan itu dengan sebuah kenikmatan yang haqiqi: ena-ena di Dolly.

Saya, yang seumur hidup bahkan lihat gambar cewek bertelanjang tangan saja langsung semaput, agak ragu. Tidak percaya. Bingung.

Apa benar kita bisa ena-ena di Dolly? Benarkah ena-ena di Dolly sekarang bisa dilakukan lagi? Bukankah ena-ena nuk Dolly tak bisa dilakukan mengingat emak-e arek-arek Suroboyo sudah menutupnya empat tahun lalu?

Tapi, demi menuruti teman-teman yang penasaran setengah hidup dengan salah satu tetenger Surabaya itu, saya pun manut. Saya antarkan mereka ke sebuah gang yang konon sudah ada sejak zaman noni-noni nongki cantik pakai Klederdracht di Jalan Toendjoengan.

Kami memasuki Jalan Girilaya saat jarum jam tergelincir beberapa menit dari tengah malam. Suasana jalan sepi. Tak ada lagi dentuman musik yang bikin kuping kopok. Tak ada juga lelaki brengosen kekar yang sedang karaoke. Apalagi dikaraoke. Semua etalase tutup. Penjual kondom dan obat kuat berganti jadi penjual cireng, sempol, dan dadar gulung sewuan.

Mobil kami melintas mulus dengan kecepatan sedang-sedang saja. Di dalam mobil, dua pemuda berjibaku dengan halusinasi dalam kepala mereka. Antara menahan bumi datar yang beputar dadakan dan membayangkan gadis cantik sekelas noni Belanda yang akan meladeni mereka.

Lelaki pertama sebut saja namanya Marko Simic. Singkatannya, Kosim. Lelaki kedua adalah Jared Wozniack. Panggilannya, Jarwo.

Saya yang cuma anak bawang (goreng) hanya membisu. Ya, kadang juga batuk-batuk karena asap rokok begitu pekat di dalam mobil.

Kali pertama memutari Jalan Girilaya, tidak ada yang awe-awe. Melintas untuk kali kedua, ada tiga lelaki yang awe-awe. Mereka berdiri di sebuah gang yang tulisan namanya tertutup gelapnya malam. Mereka tahu kebutuhan kami.

Si Kosim beruntung dapat cewek cantik. Sedangkan Jarwo dapat cewek yang tampak seperti bintang Korea Song Hye-kyo. Tapi hanya kalau dilihat dalam keadaan mabuk. Semua perempuan dibanderol Rp 200 ribu. Lumayan untuk menutup malam yang tidak berfaedah. 

Kami diajak menuju penginapan yang berliku setelah melintasi gang-gang sempit. Di sebuah kamar berukuran kurang lebih 3 x 3 meter, kami dipersilakan melakukan adegan ena-ena. 

Malang bagi Jarwo. Ternyata efek Jagermeister oplosan Kratingdaeng yang diminum sejam lalu memudar. Song Hye-kyo perlahan menghilang. Berganti perempuan dengan rahang yang kekar, urat-urat menonjol, mata pelolong, plus suara yang ngebas. Tangannya yang tadi terlihat lentik putih kok jadi penuh akik?

Ya Tuhan, itu bukan Song Hye-kyo. Ini lebih mirip Tessy! 

Jarwo komplain bukan main. Dia merasa ditipu. Bahkan, dia mengancam akan mengirim surat pembaca. Dia juga akan mengunggah pengalaman buruknya di Insta Story! Beberapa bajer sudah disiapkan agar orang-orang kapok ke gang Dolly.

”Nek gelem yo ayo. Nek ra gelem yo yowes to, Mas,” kata Tessy gadungan itu memelas. Tangannya membenarkan letak kutang yang sempat diodol-odol Jarwo. 

Jarwo yang merasa mirip Ji Chang Wook bergeming. Dia tidak sudi main dengan stok afkiran tersebut.

”Yaudah lah, Mas. Aku bayar Rp 200 ribu aja ga pake main. Itung-itung menyantuni janda. Kan dapat pahala ya Mas?” kata Ji Chang Wook asal Medan itu kepada saya yang masih pusing gara-gara minum es limun beruap.

Begitu kami tiba di mobil, semua penumpang sudah waras. Kosim tidur sampai ngiler-ngiler. Tapi, Ji Chang Wook masih dongkol. Malam tanpa faedah itu tak bisa ditutup dengan jackpot. ”Sialan Kosim dapat barang bagus,” katanya. 

Belakangan, Ji Chang Wook tak mau lagi membahas hal tersebut. Dia juga mengurungkan niat untuk komplain ke media sosial. Sebab, dia dapat informasi kalau prostitusi di Dolly banyak bekingnya. ”Bahkan dari pejabat pemkot sendiri lho!” katanya.

Buru-buru saya menutup mulutnya. Diam, Lae! Kamu mau kami dibenci fanboy emak-e arek-arek sak Suroboyo tah? Ji Chang Wook ketawa. Jagermeister kembali dioplos Kratingdaeng. ”Surabaya keras. Atau kamu yang terlalu lemah?” katanya.