Di benak warga Surabaya, peristiwa pengeboman setahun lalu itu tentu masih membekas. Bukan karena itu merupakan bencana kemanusiaan yang sepertinya berlandaskan sentimen agama, melainkan karena ini pertama kalinya kita menjumpai pelaku bom bunuh diri sekeluarga.

Yep, satu keluarga: ayah, ibu, dan anak-anak.

Tidak hanya tiga gereja di Surabaya yang diserang, selang beberapa hari kemudian, masyarakat digemparkan lagi oleh berita penemuan bom di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, lalu disusul aksi bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya.
Pelakunya lagi-lagi sebuah keluarga.

Kita masih terus bertanya-tanya, mengapa seorang ayah bisa mengajak keluarganya–termasuk anak-anak–untuk melakukan tindakan seekstrem itu? Dari penjelasan Abu Fida, mantan napiter yang kini aktif menjadi pembicara terkait pengalamannya dahulu, kita paham bahwa penggerak utama pelaku adalah ideologi.

Tapi kemudian pertanyaan “kenapa” itu belum bisa terjawab sepenuhnya. Kita semua punya ideologi yang kita pegang dalam hidup. Tapi sebagian besar dari kita tidak sampai memilih menghabisi nyawa sendiri dan juga nyawa anak-anak kita untuk ideologi tersebut.

Memiliki keimanan yang tangguh adalah satu hal, dan menghabisi nyawa orang lain adalah lain cerita.

Ketiga Faktor
Menurut Margaretha, Dosen Psikologi UNAIR yang mengajar Psikologi Forensik, ada 3 faktor utama yang dapat membuat seseorang melakukan tindak kejahatan sekelas pengeboman.

“Yang pertama, faktor penyebab atau faktor kausal. Inilah yang menjadi alasan mengapa peristiwa itu terjadi.

“Kedua, faktor pendukung atau faktor resiko. Tanpa adanya faktor pendukung, faktor penyebab tadi belum tentu bisa terlaksana. Semakin banyak faktor resiko, semakin mungkin peristiwa itu terjadi.

“Lalu yang ketiga, adalah trigger atau faktor pemicu. Faktor ini yang membentuk momentum tindak kriminal.”

Masalahnya, dalam kasus pengeboman yang menyerang Surabaya, kita masih menebak-nebak apa penyebab pasti yang menjadi kesamaan motif semua pelaku. Faktor-faktor pendukung itu pun tidak bisa dicari kesamaannya antara yang satu dengan yang lain.

Yang jelas, ada satu pandangan bahwa ada ketidakadilan dalam masyarakat. Pendapat ini sejalan dengan teori bahwa anggota JAD menyerang pihak-pihak yang dianggap musuh berbahaya. Perbedaan keyakinan (Golongan Nasrani) dinilai sebagai ancaman bagi ideologi keislaman, sedangkan kepolisian diserang karena menjadi ancaman secara hukum.

Para pelaku mempercayai secara mutlak bahwa apa yang ia lakukan itu adalah benar. Ini didasari oleh tumbuhnya kebutuhan akan kehidupan kekal di surga, yang mereka percayai bisa tercapai dengan cara melakukan tindak kejahatan tadi. Kebutuhan itulah yang diciptakan oleh para pelaku doktrin.

Korban Anak-Anak
Bagi orang dewasa, peristiwa sekacau pengeboman jelas menimbulkan trauma tersendiri. Tapi bagaimana dengan anak-anak?
Salah satu penyintas anak-anak dari pengeboman di gereja yang ditangani Margaretha adalah anak-anak usia 6-7 tahun, sebut saja Niko. Semula, dia tidak menyadari apa persisnya yang terjadi ketika gerejanya diserang.

Tetapi, ibunya tahu betul, bahwa ada bom, dan yang terserak itu adalah potongan-potongan tubuh manusia. Timbul kecemasan dalam diri sang ibu, yang kemudian ditampilkan dalam bentuk percakapan atau ekspresi dengan orang-orang dewasa lainnya.
Kecemasan itu kemudian diserap oleh Niko, dan tingkat stresnya semakin tinggi.

Perlu diingat bahwa cara orang dewasa menyalurkan emosi sangat berbeda dengan anak-anak. Jika orang dewasa bisa secara gamblang mengekspresikan perasaan, pada anak-anak belum tentu demikian.

Niko, dalam kondisi stres, mengalami gangguan tidur, hilangnya nafsu makan, dan ketakutan. Margaretha kemudian melakukan pendekatan psikologis untuk membantu Niko mengatasi ketakutannya, dengan membuatnya bercerita. Tentu ini tidak dilakukan dengan cara bertanya langsung, tetapi dengan membuat kondisi nyaman di sekeliling Niko, seperti melakukan kegiatan menggambar dan mendengarkan cerita.

Dari metode ini, Niko bisa mempelajari bahwa ketakutannya adalah hal yang wajar, tapi ia kini sudah berada di tempat yang aman. Tokoh dalam cerita yang digunakan sebagai media terapi juga bisa menginspirasinya untuk menjadi berani dan kembali beraktivitas seperti biasa.

Peran orang tua dan lingkungan juga sangat penting bagi proses penyembuhan pasca trauma. Yang menjadi catatan bagi kita juga adalah, bahwa menganggap seorang penyintas sebagai “mantan korban” juga ternyata berdampak buruk karena stigmatis. Margaretha menganalogikannya seperti “Kita pernah sakit (fisik). Ketika kita sudah sembuh, apakah kita masih dipanggil sebagai pasien?”

Ketika orang sudah melalui sebuah kejadian traumatis dan bisa mengatasi ketakutannya serta kembali berfungsi seperti sedia kala, maka ia bukan lagi korban, melainkan penyintas.

PR Bagi Masyarakat

Dalam masyarakat kita, ada semacam sikap “merasa paling benar sendiri” yang masih sangat kental. Ini juga bisa menjadi faktor pendukung yang menumbuhkan resiko-resiko aksi kejahatan serupa berulang. Beberapa kelompok meyakini bahwa mereka paling baik dibanding kelompok lainnya.

Sikap-sikap narsisme akut ini, menurut Margaretha, menyebabkan seseorang mampu bertindak keji dan menganggap korbannya layak diperlakukan demikian karena mereka jauh lebih rendah dibanding dirinya.

Kita sudah harus mulai menerima bahwa masyarakat Indonesia terdiri dari banyak perbedaan, dan kita bukan yang paling mulia. Pandangan seperti ini bisa menghentikan perkembangan faktor-faktor resiko tadi, dan menjadikan kita keluar dari sikap narsisme akut.

Karena bisa jadi, kita juga yang menyebabkan bibit-bibit kebencian itu muncul dengan menolak perbedaan dari kelompok-kelompok minor. Memaksakan semuanya harus sama seperti kita, sama saja seperti merenggut kebebasan individu untuk menjalani hidupnya dengan damai.

Tentu saja perlu digarisbawahi bahwa pengakuan tentang adanya perbedaan ini ada batasnya. Jika kita melihat adanya kecendurungan yang sudah melenceng dari ideologi tertentu, seperti yang terjadi pada kelompok teroris, kita tidak bisa terus-menerus mentoleransi. Itulah yang disebut Margaretha sebagai “sikap abu-abu”.

Dilihat dari sudut pandang lain, para pelaku pengeboman itu juga bisa
jadi merupakan “korban” indoktrinasi yang menyesatkan. Sayangnya, mereka
tidak berhasil menemukan lingkungan yang mampu menyelamatkan mereka
untuk kembali ke jalan yang benar. Mereka menjadi korban dari penyimpangan yang ditoleransi.

Meskipun ancaman kejahatan bisa saja terjadi lagi, kita bisa mencegah faktor-faktor pendukung tadi. Dengan menumbuhkan sikap toleransi, kepekaan terhadap sesama, mengasah hati, dan tentu saja, berani melawan terorisme semacam ini.

Penyebaran kesesatan berpikir ini juga dapat dicegah dengan menunjukkan
sikap tegas bahwa perilaku demikian tidak akan didukung di Indonesia,
sehingga para pencari mangsa itu tidak menemukan celah untuk mengacaukan
kita. Untuk anak-anak muda, Margaretha berpesan, “Banyak-banyaklah
membaca, banyak-banyak bergaul. Intinya, memperluas wawasan.”