DNK

Alasan Kenapa Kita Tidak Perlu Takut Menulis soal HAM: Perbincangan dengan Dandhy Dwi Laksono

Alasan Kenapa Kita Tidak Perlu Takut Menulis soal HAM: Perbincangan dengan Dandhy Dwi Laksono

Kamu tentu mengenal Dandhy Dwi Laksono sebagai seorang wartawan senior dan pendiri rumah produksi WatchdoC. Ia dikenal dengan produk jurnalistik berupa buku atau film dokumenter, dengan pendekatan khas jurnalisme investigatif.

Bersama WatchdoC, ia bersama rekannya membuat banyak video dokumenter yang berisi pembelaan pada kaum marjinal. Di antaranya Jakarta Unfair, Samin versus Semen, Kala Benoa, Asimetris, Belakang Hotel, dan yang lainnya.

Saya tentu tidak akan ujug-ujung membicarakan Dandhy kalau saja AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Surabaya, tidak mengundangnya pada diskusi umum Desember 2018 lalu.

Bertempat di Angkringan Mbah Cokro, acara tersebut dihadiri oleh puluhan mahasiswa di Surabaya. Meskipun sudah lewat tahun, tapi perbincangan dengan Dandhy sayang untuk saya pendam sendiri.

Mengambil tema ‘Jurnalisme Dan Hak Asasi Manusia’, diskusi ala warung kopi ini cukup mengena. Dandhy dalam diskusi ini menjelaskan, mengidentikkan HAM dengan kasus Munir, Widji Thukul, ataupun Marsinah, selalu membuat HAM jadi isu yang menakutkan untuk ditulis.

Ini membuat HAM berjarak dari masyarakat. Padahal, HAM semestinya dekat dengan masyarakat dan harusnya dituliskan secara populer dengan bahasa ringan dan tidak terlalu berat.

Saya pun berkesempatan mengobrol dengan Dandhy usai acara diskusi. Lelaki gempal asal Lumajang ini pun dengan ramah menjawab sejumlah pertanyaan saya.

Agak konyol memang generasi sekarang baru membicarakan itu. Tapi ada banyak banyak cara untuk menulis isu-isu sensitif. Lebih baik menuliskannya secara populis, atau dibawa ke ilmiah sekalian.

Saya: Sebenarnya apa sih yang salah dengan menulis HAM dalam masyarakat itu?

Dandhy: Ya karena ada masalah yang serius dengan literasi kita. Doktrin-doktrin yang dikasih kita itu terlalu numpuk hingga kadang ada keos di cara berpikir kita.

Seperti contoh menetralkan doktrin khilafah dengan konsep NKRI harga mati. Itu kan kesalahan cara berpikir. Itu yang membuat banyak masalah jadi gontok-gontokan tiada akhir seperti akhir-akhir ini.

Demikian juga dengan LGBT, narasi-narasi yang dibuat orang-orang menolak LGBT itu seperti tidak menghargai HAM. Padahal Indonesia sendiri memiliki sejarah punya budaya tentang hubungan sesama jenis.

Nah, saya juga pernah menulis masalah LGBT ini, mas. Tulisan itu juga mendapatkan banyak komentar negatif di Facebook. Lalu bagaimana cara menyikapinya?

Itu hal biasa sih dalam budaya persekusi yang ada dalam budaya kita. Dimulai pada Orde Baru kemudian menjalar sampai sekarang pasca reformasi. Cara menyikapinya adalah dengan terus belajar dan menuliskannya secara populer.

Nah, saat menuliskannya, kita bisa bermain dengan bahasa. Jangan masuk dengan konsep atau bahkan kata LGBT pun tidak ada dalam seluruh tulisannya.

Kita bisa masuk dengan cerita variasi genetik yang ada dalam alam semesta. Cerita binatang misalnya. Toh, dalam cerita binatang juga mengenal hubungan sejenis. Kambing, kerbau, kucing, atau anjing biasanya juga seperti itu.

Atau kita bisa memulainya dengan sejarah nenek moyang kita yang sudah mengenal lama hubungan sesama jenis. Seperti lengger di Banyumas; Bissu, Calabai dan Calalai di Sulawesi Selatan, Warok dan Gemblakan pada Reog Ponorogo, dan lain-lain.

Agak konyol memang generasi sekarang baru membicarakan itu. Tapi ada banyak banyak cara untuk menulis isu-isu sensitif. Berita seperti LGBT memang riskan untuk ditulis secara gamblang atau blak-blakan.

Lebih baik menuliskannya secara populis, atau dibawa ke ilmiah sekalian.

Menurut mas Dandhy, kenapa media-media baru seperti Tirto, Mojok, Geotimes, atau DNK.id, lebih diminati anak-anak muda di era sekarang?

Karena mereka kecil dan idealis. Itu pasti mempunyai segmen tersendiri dan pasti tidak sedikit. Media-media tersebut pasti dalam tulisannya akan terselip opini yang akan lebih menarik jika dibaca.

Media-media itu pasti melakukan fungsi-fungsi reportase dengan sedikit tambahan opini, meski tidak sepenuhnya isinya opini semua. Karena membuat hardnews itu porsinya media-media besar.

Membuat tulisan hardnews membutuhkan biaya yang besar, jadi media-media alternatif pasti ya melakukan perbedaan dengan caranya sendiri.

Jadi bagaimana yang harus dilakukan wartawan di era milenial seperti ini?

Ya harus banyak belajar dari referensi-referensi yang ada. Mereka harus terus up to date dengan kondisi sosial yang terbaru.

Dengan banyaknya wartawan yang sudah pintar akan mempengaruhi kualitas wartawan itu sendiri. Karena sekarang ini menulis berita sudah tidak jamannya hanya mengutip kutipan dari para ahli.

Wartawan sendiri harus bisa memastikan kebenarannya. Seperti masalah hujan itu loh. Seorang wartawan tidak perlulah bertanya kepada si A atau si B untuk memastikan di luar hujan atau tidak.

Tidak perlulah seorang wartawan memperuncing pertikaian si A yang berpendapat di luar hujan atau si B yang berargumen tidak hujan. Yang diperlukan seorang wartawan hanyalah keluar rumah untuk memastikan hujan atau tidak.

Sebenarnya hanya sesederhana itu, dan nggak usah muluk-muluk ribet masalah teori tentang datangnya hujan itu dari Dewa Zeus atau apalah. Cukup keluar dan lihat sendiri saja.


KOMENTAR
Liputan TERKAIT