Sejarah mencatat, Surabaya jadi kota pertama di Asia yang mengadakan aksi MayDay  pada 1918. Saat itu, saat banyak buruh pribumi dan non-pribumi, beraksi menuntut kesejahteraan pada pabrik-pabrik milik kolonial. Aksi ini tercatat jadi yang pertama kalinya di Indonesia.

Sejak saat itu, dari 1918 hingga 1926, gerakan buruh rutin digelar. Hari Buruh selalu dibarengi dengan pemogokan dan aksi besar-besaran.

Atas semangat itulah, Surabaya selalu jadi jujukan aksi para buruh se-Jawa Timur. Tahun ini, tepat pada 1 Mei, puluhan ribu buruh se-Jawa Timur tumplek blek di Surabaya. Bahkan, sampai terbagi jadi dua titik: di Tugu Pahlawan dan depan Gedung Grahadi.

Serikat buruh ini mengenakan pakaian yang beragam: mulai dari seragam kerjanya, atribut serikat pekerja, hingga kaos-kaos berisikan suara hati. Mereka berangkat bersama dengan mengendarai motor, menyewa bus pariwisata, mobil pick up, hingga naik truk.

Bendera-bendera dikibarkan sembari long-march di sekitar jalanan protokol. Dari Jalanan Ahmad Yani, Darmo, hingga Basra yang biasanya penuh sesak dengan kemacetan, otomatis lengang saat mereka berkonvoi.

Bersama rekan-rekan seperjuangan AJI Surabaya, saya ikut membawa kertas-kertas berisi tuntutan. Ini dilandasi kesadaran kalau wartawan itu juga buruh. Mari bersolidaritas!

Aksi dimulai dari BRI Tower Basuki Rahmat. Bersama KontraS, KPBI, APBJ, dan juga aliansi-aliansi lainnya, kami berangkat bersama.

kami berkonvoi bersama sebagai tanda bahwa May Day bukanlah hari libur. May Day adalah hari di mana buruh bersama rakyat menyuarakan keadilan. Kami akan terus menuntut upah buruh yang layak, penolakan terhadap pegawai outsourching, wacana kritis terhadap delapan jam kerja, dan tuntutan-tuntutan lainnya.

Melihat fakta bahwa tidak ada satu partai politik pun, baik partai lama maupun partai baru yang mewakili kepentingan rakyat, maka kami, Aliansi Perjuangan Buruh Jawa Timur menyatakan sikap:  “Lawan Rejim Pro Pasar Bebas dan Pelindung Penjahat HAM”.

Pemerintah dalam hal ini, dituntut segera mencabut PP 78/2015 yang menyengsarakan kaum buruh. Upah layak nasional harus segera diberikan. Kriminalisasi pada rakyat yang memperjuangkan hak-haknya demi tegaknya kemanusian juga harus dihentikan.

Selain itu, pemerintah harus mengembalikan subsidi rakyat dan menurunkan harga-harga kebutuhan pokok. Industrialisasi nasional yang kuat dan mandiri juga harus dibangun—salah satu caranya dengan mencegah korupsi dan menyita harta mereka.

Kami juga menuntut nasionalisasi aset-aset bangsa yang dikuasai asing. Izin penguasaan lahan oleh korporasi-korporasi swasta harus dihapuskan. Pemerintah juga harus mencabut ijin penambangan dan pembangunan infrastruktur yang merampas hak hidup rakyat, serta mengusut tuntas pelaku Union Busting.

Kami akan menolak diam—sampai kapanpun, sampai tuntutan terdengar.

***

Tepat pukul 10, massa barisan buruh sudah berada di depan Gedung Grahadi yang sudah dikawal ketat Kepolisian dan TNI. Gedung ini juga sudah dipagari kawat berduri.

Hiburan Jaranan didaulat sebagai pembuka aksi. Satu persatu perwakilan aliansi terus berorasi. Teriakan ‘Hidup Buruh’ tak berhenti bergema.  Lalu munculah gerombolan anak muda berseragam hitam-hitam dengan cadar, sal, slayer, masker, dan apa saja yang bisa menutupi wajah.

Mereka membawa bendera hitam merah, logo circle A, dan juga spanduk-spanduk berisi tuntutan bahwa masyarakat ini sedang berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Punggawa-punggawa anonimus ini seolah ingin bersuara bahwa masyarakat harus dikembalikan pada keadilan manusia yang seutuhnya.

Sayangnya ketika mereka datang, aparat menolak kehadirannya. Sempat terjadi kericuhan, tapi akhirnya mereka pasrah dan mundur.

Aksi belum berhenti. Selepas dhuhur, mereka kembali ke medan laga. Tapi entah apa sebabanya, dua orang mahasiswa perwakilan FMN diciduk aparat dengan tuduhan biang keladi kericuhan.

Dilansir akun Surabaya Melawan, Anindia Sabrina, Departemen Perempuan Front Mahasiswa Nasional (FMN) Surabaya mengatakan, FMN sama sekali tidak melakukan provokasi dalam aksi May Day. Dia mengungkapkan, alasan mengenakan baju serba gelap dan pakai masker sebagai penutup wajah karena takut dipersekusi.

“Kami ada kesepakatan pakai masker karena banyak kejadian persekusi akhir-akhir ini, pengalaman sebelumnya bahkan ada yang dikirim DM  oleh polisi media sosial, takutnya dipersekusi,” ujar Anindia. “Karena pakai atribut serba hitam sama pakai masker, disuruh lepas tidak mau, terus kami dibubarin.”

Anin menceritakan, pada pukul 14.10, dia dan teman-temannya melakukan koordinasi untuk bergabung dalam barisan Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (Kasbi). Tapi saat hendak masuk, barisan tiba-tiba dihalau oleh Polisi.

“Setelah dibubarin itu, kami balik koordinasi sama Kasbi. Saat mau masuk, barisan ditarik dorong sama polisi, lalu berujung dengan penangkapan dua anggota kami,” ujar Anin.

May Day pun berakhir anti-klimaks karena ada satu suara yang dibungkam. Tapi sekali lagi mengutip Wiji Thukul, suara-suara itu tak bisa dipenjarakan. Akan terus bergema, dalam barisan yang menolak diam.