Film The Bajau yang diputar serentak di beberapa kota akhirnya sampai juga di Surabaya, tepatnya di Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Ampel. Pemutaran film garapan WatchDoc Documentary ini diinisiasi oleh PMII UINSA.

Hujan deras yang mendera Surabaya nyatanya tak menurunkan semangat anak-anak muda untuk menonton film ini. Sekitar 50-an orang hadir dalam pemutaran yang dilanjut dengan diskusi. Ada pula donasi yang nantinya akan diberikan kepada orang-orang Suku Bajo yang ada di film tersebut.

The Bajau menceritakan bagaimana kehidupan Suku Bajo saat ini. Bisa dibilang, Suku Bajo adalah satu dari sedikit komunitas masyarakat di Indonesia yang hidup di atas laut. Mereka menjadikan laut sebagai kampung halaman dan perahu sebagai tempat tinggal. Hidup berpindah-pindah di atas sebuah perahu.

Suku Bajo sendiri tersebar di Asia Tenggara, tetapi yang cukup menyedihkan adalah kehidupan mereka tidak serta merta diakui. Padahal di Gorontalo, Suku Bajo dapat ditemukan di Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Pohuwato.

Dalam film tersebut, dijelaskan perbedaan antara suku Bajo yang ada di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara. Suku Bajo di Gorontalo, masih bisa menikmati tangkapan ikan yang melimpah. Sementara di Sulawesi Tenggara, air laut tercemar dan terumbu karang yang rusak akibat pertambangan nikel membuat tangkapan ikan lebih sulit.

Dua keluarga Bajo di perairan Sulawesi ini  memang menjalani kehidupan yang berbeda. Meski keduanya telah memiliki identitas dan bermukim di daratan, namun satu keluarga yang lain masih memilih menjalaninya hanya sebagai formalitas dan tetap menghabiskan hidup di perahu dalam ekosistem laut yang relatif masih terjaga.

Pemerintah, dalam beberapa dekade terakhir, memang mengirim orang Bajo ke daratan. Tujuannya, supaya mereka memiliki identitas, akses bantuan, pendidikan dan lain-lain. Padahal jika ditelaah, Suku Bajo sudah punya tradisi, identitas, dan jati diri di lautan sejak nenek moyang mereka.

Dalam film ini, digambarkan pergeseran kehidupan keluarga Bajo semenjak 13 tahun silam pasca dimukimkan dan dipaksa menjalani peradaban darat. Nasib Suku Bajau yang berada di perairan Konawe, mulai kehilangan sumber mata pencaharian mereka akibat aktivitas pertambangan yang destruktif.

Air laut yang mulai keruh, membuat habitat ikan dan terumbu kurang semakin berkurang dan perlahan rusak. Hingga kemudian, mereka memilih masih tetap bertahan dengan kondisi seadanya, mencari penghidupan dari laut.

Hal ini semakin miris ketika pada 2014 lalu, aparat pemerintah menangkap 500 warga Suku Bajo di Kalimantan Timur. Mereka dianggap suku ilegal: Nelayan asing tanpa identitas kewarganegaraan yang mencuri ikan di perairan Indonesia.

Jika hal ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin para Suku Bajo ini akan memilih hidup di daratan dengan segala macam logika peradaban kontinental yang tak cocok bagi mereka.

Ini merupakan paradoks. Peradaban negara kita dulunya berjaya dari maritim. Sekarang, Suku Bajo malah dipaksa ikut menjalani logika peradaban kontinental.

Dengan alasan “memberikan kehidupan yang lebih baik”, pemerintah negara-negara Asia Tenggara mulai memukimkan mereka di daratan agar memiliki identitas dan kewarganegaraan.

Itulah secuil gambaran film The Bajau, yang diproduksi Rumah Produksi WatchDoc Documentary–yang diprakarsai wartawan senior, Dhandy Dwi Laksono. Film berdurasi 80 menit ini menyajikan rekaman tentang jejak peradaban maritim di Indonesia yang masih tersisa–tak tahu sampai kapan.