Adanya pengkastaan dan stereotipe terhadap musik kesukaan memang menjijikkan. Membuat manusia jadi terkotak-kotak hingga tidak bisa guyub antara satu dengan lainnya. Lingkar pertemanan pun jadi tampak bersekat gara-gara musik. Lak yo taek cok!

Misal, musik punk selalu identik dengan kelas pekerja, musik hardcore untuk anak-anak muda yang mencari jati diri, musik british bagi mereka yang keren banget, dreampop untuk anak hypebeast, dan juga stereotip-stereotip lain yang semakin ke sini tambah koyok tembelek kingkong.

Nah, mencoba melawan stereotipe itu semua, hadirlah sebuah genre dangdut yang disebut koplo wave. Dangdut, selain menjadi genre musik asli Indonesia, kini juga bisa jadi musik yang menyatukan segenap pemuda-pemudi tanggung.

Pelopor dari gerakan ini bisa dibilang adalah Feel Koplo, duo asli Bandung yang hobinya menggubah segala genre musik menjadi dangdut. Feel Koplo ini jadi semacam DJ Dangdut yang hobinya mengubah semua lagu supaya bisa dijogetin.

Saya menemui mereka Jumat lalu (13/9) di acara salah diskotik paling tenar di Surabaya Town Square, sebut saja Foreplay. Acara itu diinisiasi merk whiskey terkenal dari Tennessee—you know what lah para pemabok!

Feel Koplo tampil tengah malam sehingga tentunya, saya masih ada waktu ngobrol dengan mereka sebelumnya—sambil incip-incip minuman biar rileks dan akrab.

Datang langsung dari Bandung, mereka adalah Maulfi Ikhsan dan Tendi Ahmad. Dalam pertunjukan, mereka biasanya dibantu oleh Kiwil yang menjadi roadmanager sekaligus merangkap pemandu sorak penonton.

Grup ini berdiri sejak November 2018. Ikhsan sendiri dulunya merupakan seorang pemukul kendang grup orkes asal Bandung, Symphoni Polyphonic Geng (SPG). Ketika memutuskan ingin membuat grup DJ Dangdut, diajaklah Tendi yang memang jagoan untuk masalah meremix lagu menjadi ngoplo.

Nama Feel Koplo sendiri merupakan pelisetan dari Pil Koplo. Agar lebih unik dan lebih ngindie, nama pil diganti dengan feel.Bukan bermaksud untuk mengajak semua orang mengonsumsi pil ekstasi itu, tapi yang mereka cuman ingin “mengedarkan” musik dangdut koplo untuk semua kalangan.

Feel Koplo pun akhirnya memutuskan untuk menggemparkan panggung musik Indonesia dengan musik dangdut versi rekayasa digital atau yang biasa dikenal dengan metode remix. Kampanye awal mereka tentu saja lewat kanal digital YouTube.

Ikhsan bercerita kalau doi memang nge-soul banget dengan musik dangdut. Sejak kecil, ia akrab dengan lagu-lagu dari Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, Rita Sugiarto, hingga Meggy Z. Tapi karena lingkungan pertemanannya kurang ndangdut, bakat dangdut terpendamnya pun kurang tereksplor.

Jadi, Feel Koplo ini bisa dibilang jadi pelampiasannya selama bertahun-tahun menggeluti musik dangdut.

Feel Koplo memang dikenal suka mendangdutkan semua lagu, baik lagu-lagu dalam negeri, maupun luar negeri. Dari lagu indie masa kini, maupun lagu klasik jaman lampau. Di kanal YouTube mereka, ada lagu-lagu dari Fur, Rex Orange County, John Mayer, The Panturas, .Feast, hingga Closehead. Semuanya digubah aransemennya jadi dangdut nyel.

Dalam penampilan di Foreplay, Feel Koplo membuka panggung dengan lagu “Seven Nation Army” milik The White Stripes. Sebagaimana DJ pada umumnya, mereka membuka pertunjukan dengan alunan gitar yang khas, seperti lagu aslinya. Tapi di tengah lagu, suara gendang langsung muncul dan suara sound yang tebal tiba-tiba nggeloyor. Haha jancuk!

Penonton pun tak kuasa menahan goyang. Miras produk asing yang ditenggak hingga menimbulkan reaksi kimia yaitu mabuk ini sontak membuat penduduk Foreplay berjoget dengan amat khusyuk.

Dari yang berjoget seperti ibu-ibu senam PKK, hanya menggoyangkan ibu jari saja, hingga goyang ke kanan-kiri ala orang Marauke. Foreplay jadi lautan joget penuh gairah dari para orang-orang malam yang matanya tinggal segaris ini.

Mereka tampil lumayan lama, sekitar satu jam dengan setlist lagu-lagu terkini yang berdentum kencang hingga membuat diri ingin berajeb-ajeb ria. Selain doyan mengkoplo musisi yang saya sebut di atas, mereka juga handal membawakan lagu-lagu The Upstairs, Chrisye, Iwan Fals, Reza Artamevia, Tangga, NDX AKA, dan banyak lagi.

Penampilan mereka ditutup dengan lagu “Kemesraan”, yang membuat saya kaget, mengapa penampilan ini cepat berlalu. Saya pun lantas kembali menghampiri mereka dan ngobrol-ngobrol lagi—tentunya ditemani snack, rokok, dan minuman surga.

Ikhsan bercerita bahwa ke depannya, mereka akan membuat lagu dangdut sendiri. Jadi dalam tahap pengkaryaan, mereka tidak melulu mengcover. Feel Koplo juga sedang mengurus semua perijinan dari lagu-lagu yang coba mereka remix ini. Ini supaya ke depannya tidak jadi masalah sensitif karena urusan royalti.

“Ketika semua ini sudah clear, lagu-lagu dari Feel Koplo bisa diputar di Spotify dan dinikmati seluruh warga Indonesia,” tutur Ikhsan.

Lewat caranya sendiri, Feel Koplo terbilang cukup jenius. Lewat musiknya, mereka seakan berseru pada seluruh telinga ekslusif untuk joget bareng.

Feel Koplo setidaknya telah mengembalikan dangdut sebagai musik segala umat. Movement yang mereka buat setidaknya telah melunturkan kasta dalam musik—karena kita semua toh sejatinya sama di hadapan dangdut; sama-sama joget!