Menjelang Kongres PSSI yang akan dilangsungkan November nanti, berbagai polemik terus berkembang. Apakah PSSI akan terus bobrok seperti ini, atau berubah total hingga memberikan perubahan yang lebih baik?

PSSI sejauh ini memang dipimpin orang-orang itu saja. Orang-orang tua yang nyaman duduk di kursi EXCO atau komite-komite yang ada. Mereka seperti tidak melakukan regenerasi pada orang-orang muda untuk memberikan sesuatu pada PSSI.

Tahun ini, posisi Indonesia di FIFA berada pada urutan 167 dari 210 negara. Angka ini turun tujuh tingkat dari tahun 2018. Jebloknya ranking Timnas Indonesia di kancah sepak bola Internasional juga jadi pekerjaan rumah bagi PSSI.

Menuju perhelatan Kongres Luar Biasa PSSI 2 November mendatang, tiga calon ketua umum PSSI dan beberapa perwakilan ASPROV juga eks CEO mengutarakan beberapa solusi untuk menaikkan posisi Indonesia di FIFA.

Hal ini tersaji dalam panggung diskusi nasional sepakbola bertajuk “#PSSIHarusBaik2: Berubah atau Bubrah” yang dihelat di Graha Pena (23/10). Acara ini bisa dibaca sebagai PSSI Harus Baik jilid 2 atau PSSI harus baik-baik.

Ada dua sesi diskusi pada #PSSIHarusBaik2 ini. Sesi pertama diisi oleh Syauqi Soeratno (ASPROV DIY), Ahmad Riyadh (ASPROV Jatim), dan Viola Kurniawati (eks CEO PSS Sleman). Sesi pertama dipandu oleh Miftakhul Fahamsyah, wartawan Jawa Pos yang juga penulis buku Mencintai Sepakbola Indonesia Meski Kusut.

Sesi kedua diisi Vijaya Fitriyasa (Owner Persis), Sarman El Hakim (Ketua Umum Masyarakat Sepak Bola Indonesia (MSBI), dan Arif Putra Wicaksono (CEO Nine Sport). Diskusi kedua yang dipaparkan para calon Ketua Umum PSSI ini dipandu Mohammad Ilham.

Program Filanesia (Filosofi Sepakbola Indonesia) yang di-launching 2018 lalu menjadi topik bahasan pada sesi pertama. Bagaimana program-program jangka panjang dari PSSI ini bisa memperbaiki kinerja PSSI. Setidaknya bisa mengangkat ranking PSSI jadi lebih tinggi lagi.

Syauqi lebih mendominasi pada perbincangan kali ini. Dia yang pernah menjabat di PSSI ini menjelaskan, perlu sekali untuk melakukan Youth Development pada generasi muda.

“Football is reflection for aid society. Perlu ada roadmap sepakbola kedepan. Karena menurutnya, dana PSSI ini sebenarnya ada dan cukup mampu jika dikelola dengan baik,” ujarnya.

Yang menarik pada diskusi pertama ini adalah, adanya seorang difabel yang berbicara tergopoh-gopoh karena semangatnya yang sangat tinggi. Namanya Sandi, pecinta sepakbola asal Sidoarjo yang datang menggunakan kursi roda. Dia berharap lebih pada para sosok-sosok penting yg menjabat di kursi penting PSSI ini.

Sesi kedua dibuka dengan penjabaran Sarman El Hakim, calon ketua PSSI tentang pengalaman-pengalamannya melihat sepakbola di luar negeri. Ditambah Owner Persis Solo, Vijaya Fitriyasa yang menjelaskan bahwa posisi Indonesia bisa naik dengan dua pendekatan.

“Pembinaan kompetisi lokal dan mendorong pemain kita untuk main di liga-liga kompetitif seperti di Eropa,” ungkapnya.

Terkait kompetisi lokal, Vijaya beranggapan bahwa penting menaikkan kualitas liga. Dimulai dari manajemen yang tidak boleh sembarangan.

“Masing-masing liga harus punya operator berbeda,” tegasnya.

Komisioner PT. Minerba Trada Utama itu juga menyatakan timnas perlu memperbanyak pertandingan persahabatan atau friendly match.

“Nanti tinggal lapor ke FIFA dan bisa dianggap sebagai match FIFA,” tukas Vijaya.

Solusi lain datang dari Arif Putra Wicaksono. CEO Nine Sport tersebut mengungkapkan Indonesia perlu Sekolah Sepak Bola (SSB) kelas dunia.

“SSB banyak tapi sistemnya jelek,” ujar Arif. Baginya, skema sister club, antara klub lokal, dan luar juga diperlukan.

“Nantinya klub luar harus mengirimkan satu technical director untuk membangun infrastruktur dan satu manajer untuk membantu manajemen,” jelasnya.

Karenanya, pria yang pernah mendatangkan AS Roma dan Juventus tampil di Indonesia itu melihat klub lokal banyak yang bermasalah dengan urusan manajerial.

Jika Vijaya dan Arif mengedepankan pentingnya pembinaan dan kompetisi lokal,  Sarman El Hakim, berbicara akan pentingnya Indonesia menjadi tuan rumah FIFA World Cup.

“Bukan peserta, tapi penyelenggara,” ujar Sarman. “Tujuannya, untuk ‘menjual’ Indonesia agar lebih dikenal di mata internasional.”

Melihat penjabarannya, saya sepertinya lebih mendukung Arif untuk menjadi Ketua PSSI. Penjabarannya yang menarik dan membuat semangat anak mudanya sepertinya bisa memberikan angin segar pada PSSI.

Ini karena bisa dibilang, PSSI sekarang ini dipimpin oleh orang-orang tua yangg menjengkelkan. Tapi saya melihat aura yang cerah di mas-mas berkepala plontos yang datang memakai hoodie loreng bertuliskan Ultras 2.0 ini.

Kabar gembiranya, lepas dari diskusi ini, Indonesia akhirnya berhasil menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2021 setelah bersaing dengan Brazil dan Peru. Penetapan host World Cup U-20 sudah diumumkan di FIFA Council, Shanghai, China, 24 Oktober ini.

Tapi yang pasti, semoga PSSI segera menjadi baik!