Berdasarkan kisah pribadi dan cerita orang-orang sekitar.

Kembang Kuning mungkin adalah tempat tergelap dan terkelam di malam Kota Surabaya. Di sana, bersemayam orang-orang terpinggirkan yang mencari suaka akan kehidupan yang ideal. Orang-orang marjinal yang tersisihkan akan kehidupan, seolah mencari kehidupan baru di sana.

Berbicara tentang Kembang Kuning, tentu saja berbicara tentang area pemakaman yang luasnya kira-kira lima kali Stadion Gelora Bung Tomo. Dalam area pemakaman yang sangat luas itu, terdapat kuburan yang bermacam rupa. Ada makam untuk orang Islam, China, dan Belanda. Ada pula krematorium untuk orang-orang yang saat meninggal ingin dikremasi.

Selain itu, kawasan tersebut juga memiliki sisi religi yang menjadi daya tarik masyarakat. Saat memasuki kawasan Makam Kristen Kembang Kuning, di sebelah selatan jalan, terdapat gang kecil di sekitar pemukiman.

Kalau kamu menyusuri gang menanjak tersebut sejauh 100 meter, maka kamu akan menemukan makam Mbah Karimah, Ibunda dari Sunan Ampel. Sampai saat ini, makamnya sering diziarahi orang-orang. Pada hari-hari tertentu seperti haulnya, ribuan orang bahkan berziarah bersama.

Di sekitaran area tersebut, juga terdapat Masjid Rahmat yang memiliki kharisma tersendiri karena disebut sebagai masjid tiban, yaitu masjid yang turun dari langit.

Selain pesona religi, ada pula Pemakaman Belanda (Evereld) yang mempunyai daya tarik tersendiri. Makam ini terletak di ujung di area pemakaman yang luasnya hanya selemparan batu.

Berbeda dengan kondisi Makam Belanda di kawasan Peneleh yang kotor, kumuh, tidak terawat, dan bau, Evereld ini tampak bersih, rapi, teratur, dan terawat dengan baik. Bahkan, Evereld ini juga terkesan eksklusif karena tak setiap orang bisa memasukinya tanpa izin dari Konsulat Belanda.

Hanya pada hari dan kegiatan tertentu saja kita bisa memasukinya. Pemakaman Belanda ini bisa dibilang merupakan pemakaman paling eksklusif di Surabaya.

Sementara itu, pemakaman Kristen, Katolik, dan etnis Tionghoa merupakan area pemakaman paling dominan di sini. Banyak sekali pemakaman ini di kiri kanan jalan, jika kita melewati area jalan umum Kembang Kuning.

Pada area jalan yang naik turun ini, kita akan melihat bahwasannya di tengah pemakaman, juga ada warung kopi, warung soto, mie ayam, warteg, dan juga rumah-rumah kardus semi permanen.

Tidak ada rasa sungkan, tabu, maupun risih ketika menjalankannya di tempat orang-orang mati dikuburkan. Yang penting hasrat bisa terpuaskan.

Malam Hari di Kembang Kuning

Bisa dibilang, di pemakaman ini terdapat banyak sekali orang yang tinggal dan menggantungkan hidupnya. Ketika malam hari, areal pemakaman tidak seseram dan sesakral biasanya. Pemakaman ini justru menjadi riuh, seperti pasar malam.

Malam hari di Kompleks Pemakaman Kembang Kuning, tak ubahnya seperti pasar malam bagi kaum menengah ke bawah. Bukan pasar malam yang dipenuhi dengan bianglala, komidi putar, tong edan, maupun anak-anak yang berkeliaran dengan membawa harum manis. Pasar malam ini adalah pasar prostitusi liar dari kelas ekonomi menengah ke bawah.

Semakin malam hingga menjelang subuh, kehidupan di Kembang Kuning justru menjadi semakin ramai. Bakul nasi goreng, soto ayam, hingga tahu tek, mulai ngider ke sana kemari. Di tengah kegelapan pemakaman, kita akan melihat adanya cahaya dari warung-warung kopi yang terletak di tengah makam.

Orang-orang mabuk setelah menenggak miras yang dijual di eks lokalisasi Dolly pun mulai berdatangan kemari. Mereka biasa berkumpul di tengah bunderan Kembang Kuning, yang di tengahnya ada semacam tugu.

Bau alkohol beserta gerak-gerik sempoyongan dari para lelaki berusia matang mengindikasikan bahwa kebanyakan orang-orang itu sedang dikuasai oleh alkohol.

Para lelaki yang datang saat malam hari ke Kembang Kuning memang bisa dibilang para hidung belang. Mereka mencari pelampiasan akan hasrat birahinya. Entah dengan perempuan—atau para waria.

Para kupu-kupu malam di sini memang kebanyakan adalah jebolan dari Gang Dolly. Apalagi, banyak dari perempuan-perempuan itu sudah berusia lanjut. Mereka yang merasa kehilangan mata pencaharian setelah lokalisasi Dolly tutup, akhirnya turun gunung ke Kembang Kuning.

Kegiatan mursal di komplek pemakaman ini memang dikhususkan untuk segala penyuka hobi esek-esek kelas bawah. Mereka menjalani prosesi persetubuhan dengan latar pemakaman umum, bisa dengan alas rerumputan atau kadang menggunakan tikar yang dibawa sendiri.

Tidak ada rasa sungkan, tabu, maupun risih ketika menjalankannya di tempat orang-orang mati dikuburkan. Yang penting hasrat bisa terpuaskan.

Dalam lokasi tersebut, juga ada pemetaan untuk pembagian esek-esek. Sebelah barat adalah lokasi untuk yang mencari perempuan. Sedangkan di sisi timur ke arah Masjid Rahmat, merupakan lokasi mangkalnya para waria.

Sementara di sebelah timur dari arah jalan yang mendaki itu, jika kita sering melewatinya, kita pasti akan disapa oleh para perempuan setengah lelaki.

Karena itu tak heran, di pemakaman ini sering terlihat bekas kondom, tisu magic, dan obat kuat yang tercecer. Piranti pemuas birahi ini biasa dibeli dari sekitaran Jalan Diponegoro.

Tutupnya lokalisasi Dolly memang belum bisa menutup segalanya. Karena seperti yang diyakini Silampukau dalam “Sang Pelanggan”, pelacur dan mucikari akan hidup abadi. Esek-esek akan selalu ada, sebagaimana yin-yang, baik dan buruk yang akan selalu beriringan.

Menurut penjelasan orang sekitar, lokasi Kembang Kuning juga sering jadi tempat pelarian Daftar Pencarian Orang (DPO) Kepolisian. Komplek Pemakaman Kembang Kuning yang sangat luas merupakan tempat ideal untuk melarikan diri dari kejaran polisi. Maka dari itu pada hari-hari tertentu, kadang aparat sering menyisir lokasi makam untuk mengecek keadaan.

Kambing-kambing yang berlarian di petak makam-makam itu pun sebenarnya adalah milik orang-orang yang punya pangkat di Kepolisian. Ini memang belum bisa ditelusuri kebenarannya. Tapi ketika saya bertanya kepada orang-orang sekitar, mereka mengiyakannya.

Orang-orang di Kembang Kuning memang seolah mengiyakan apa yang ditulis Pram pada buku Bukan Pasar Malam. Di sana, terdapat kegetiran hidup manusia yang terangkum dalam novel realisme garis keras tersebut.

Renungan tentang jiwa manusia akan eksistensi yang rapuh memang membuat kita tersentuh, sebagaimana kata Pram:

Ya, mengapa kita ini harus mati seorang diri? Lahir seorang diri pula? Dan mengapa kita ini harus hidup di satu dunia yang banyak manusianya? Dan kalau kita sudah bisa mencintai seorang manusia, dan orang itu pun mencintai kita, mengapa kemudian kita harus bercerai-berai dalam maut. Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasar malam..

Kembang Kuning dan segala cerita yang menyelimutinya barangkali merupakan kisah paling kelam dari Surabaya. Di sana, terdapat setumpuk permasalahan urban yang sepertinya tidak mudah untuk diselesaikan hanya dalam satu malam.