Reyog Jazz Ponorogo 2019, sebuah pertunjukan jazz diselingi suguhan reyog yang cukup menarik, digelar Sabtu (12/10) di Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Ini adalah pagelaran kedua, setelah sukses pada 2017 lalu dan terbuka untuk masyarakat luas.

Toh Ponorogo sekarang sudah sangat mudah dijangkau dengan dibukanya Tol Trans Jawa. Hanya perlu waktu tempuh sekitar dua jam, dari Bandara Juanda di Surabaya ataupun Bandara Adisoemarmo di Solo, serta 30 menit perjalanan darat dari Madiun yang dilintasi kereta api.

“Reyog Jazz Ponorogo kembali kami gelar karena merupakan sarana efektif untuk memperkenalkan Ponorogo lewat keelokan jazz berpadu dengan keindahan telaga di atas bukit. Dengan kemudahan akses dan pembenahan infrastruktur menuju lokasi, kami mengundang para wisatawan untuk datang dan menikmati jazz berpadu dengan tradisi reyog yang hanya ada satu-satunya di Indonesia,” ujar Bupati Ponorogo, Drs. H. Ipong Muchlissoni.

Sementara founder sekaligus Festival Director, Agus Setiawan Basuni yang juga Managing Director WartaJazz mengungkapkan, “Jazz telaga berpadu keunikan reyog dan musisi pendukungnya jadi tambahan agenda dalam untaian jazz festival di Indonesia.”

Reyog Jazz memberi memberi kesan yang menarik. Selain karena diisi line-up jazz terbaik di Indonesia, pemandangan indah dari Telaga Ngebel ditambah sejuknya lereng Gunung Wilis, menambah suasana kenikmatan pertunjukkan ini.

Penonton yang ingin hadir menonton pun cukup mudah, cukup mengunduh undangan secara gratis lewat situs Reyog Jazz dan membayar retribusi masuk Telaga Ngebel sebesar Rp8.000/orang.

Sebagaimana acara yang berlokasi di tempat sakral, Reyog Jazz ini pun dibuka dengan selametan yang dihadiri oleh para pemuka adat sekitar. Acara ini memohon doa kepada Yang Maha Kuasa agar diberi kelancaran dan tak ada ganjalan sedikit pun.

Acara pun dilanjut dengan jalan-jalan ke Mloko Sewu, yang tentunya memberi referensi destinasi wisata yang ada di sekitar Ngebel.

Setelah itu, kita pun kembali ke kawasan Telaga Ngebel, tempat di mana dilaksanakannya pagelaran ini. Di sekitaran kiri kanan acara, banyak sekali orang berpakaian reyog.

Acara pun dibuka dengan pertunjukan Reyog Ponorogo. Sanggar Singo Budoyo Desa Sahang menjadi pembuka. Seperti pada pagelaran reyog pada umumnya, mereka tampil full team dengan Jathil, Warok, Barongan, Klono Suwandono, dan Bujang Ganong.

Acara semakin meriah dengan para penampil jazz lokal dari Ponorogo, Madiun, dan sekitarnya.

Setelah Magrib tiba, penampil selanjutnya adalah Aditya Ong Trio. Mereka tampil di temeram senja Ngebel dengan membawa aransemen jazz untuk lagu Jawa, seperti “Cublak Suweng”, “Bengawan Solo”, dan “Gundul Gundul Pacul.”

Si jelita Sierra Sutedjo menjadi penampil selanjutnya. Tidak seperti biasanya, ia tampil cukup sederhana, tidak dengan full band. Meski begitu, ia tetap bisa membius penonton dengan lagu-lagunya. Terlebih dengan hits “The Only One”, yang tentunya asoy untuk dinyanyikan bersama.

Dilanjut dengan Batur yang membawa irama jazz berisi pemain-pemain dari luar negeri. Musikus mancanegara dan musikus lokal bersatu. Ada drummer Yvon Thibeault (Kanada), gitaris Andro Yopi Kristian (Indonesia), bassist Brandon Aartsen (Indonesia), dan penyanyi asal Rusia Gala Ga. Kesemuanya tergabung dalam Batur Band.

Selanjutnya yang paling ditunggu adalah Sang Diva, Krisdayanti. Tampil bersama Denny Chasmala, perempuan kelahiran Batu, Malang ini tampil anggun dengan dress berwarna merah. Perlu diketahui, ini merupakan penampilan pertama KD setelah menjadi anggota DPR.

Pada lagu pertama “Mahadaya Cinta,” Mbak KD tampil blusukan ke penonton dari kursi kehormatan bersama jajaran staff Kabupaten Ponorogo.

Lagu keduanyalah yang cukup aneh. Mbak KD justru menyanyikan lagu “Sayang” milik NDX AKA. Meski tidak seberapa hafal lagu ini, penampilannya cukup menghibur para penonton yang datang. Mbak KD seolah hanya ingin tampil dengan menyentuh akar rumput.

Dilanjut dengan lagu ‘Pilihlah Aku’ yang membuat kita bereuni dengan lagu-lagu pop era 2000an. Istri Raul Lemos ini melanjutkan dengan medley “Cobalah Untuk Setia”, “Menghitung Hari”, “Yang Kumau”, “Mencintaimu”, sampai “I’m Sorry Goodbye.”

Penampilan KD dengan pakaian merah ini memang bisa ditafsirkan sebagai agenda politik dan sebagainya. Tapi terlepas dari itu semua, Mbak KD memang  menawan dan entertainer sejati. Salut!

Setelah itu, tampil kelompok Ber6 yang memang terdiri dari enam personel dipimpin Denny Chasmala (gitar), bersama tiga gitaris yakni Andre Dinuth, YankJay, Zendhy Kusuma. Hadir pula Yandi Andaputra (drum) serta Franky Sadikin (bass).

Tampil juga dalam panggung ini, Bupati Ipong Muchlissoni dengan suaranya yang cukup serak. Beliau membawakan lagu-lagu seperti “Musnah”, “Entah Apa yang Merasukimu”, “Rumah Kita”, dan “Bongkar.”

Penampil pamungkas yang paling ditunggu tentunya adalah Fariz Rustam Munaf alias Fariz RM. Legenda ini tampil dengan formasi Fariz RM Anthology, bersama menggandeng Adi Darmawan, Eddu Syakroni, dan Iwan Wiradz.

Fariz RM tampil tepat pada pukul 00.13 dengan membawakan tujuh buah lagu adalannya. Di antaranya adalah “Penari”, “Sungguh”, “Kurnia dan Pesona”, “Nada Kasih”, “Sakura”, dan “Barcelona.

Performanya cukup stabil, padahal usianya tahun ini menginjak 60 tahun. Om Fariz bisa tampil selama hampir satu jam dengan suara vokal yang masih prima dan permainan kibor yang ciamik.

Meski agak sedikit kecewa kenapa lagu “Selangkah ke Seberang” tidak dibawakan, tapi mereka cukup terhibur dengan penampilannya. Om Fariz memang seperti tidak bisa tua. Semangatnya membuat penonton tetap bergoyang sambil menyanyikan lagu-lagunya.

Fariz menjelaskan, dirinya sangat senang bisa tampil pada gelaran Reyog Jazz kali ini. Bahkan di hari yang sama, Om Fariz sebenarnya juga menolak panggilan tampil di Jatim Fair.

“Sudah 43 tahun berkarir di dunia musik, baru kali ini saya bisa tampil di Ponorogo yang merupakan daerah budaya Indonesia yang ikonil dengan kesenian reognya. Terus terang saya merasa bahagia saat diajak tampil di daerah yang punya bobot kultural atau budaya yang tinggi,” jawabnya.

Hajatan jazz ini memang resmi berakhir. Ponorogo yang dikenal sebagai Kota Reyog, dengan Telaga Ngebel yang sangat cantik, memberi kesan yang mendalam akan acara ini. Keren dan berkesan. Kami menunggu lagi Reyog Jazz 2020!

Foto/Dokumentasi: Mifta Iskandar