DNK

Mengikuti Ribuan Die Hard Fans Persela Saat Dijamu Bonek di GBT

Mengikuti Ribuan Die Hard Fans Persela Saat Dijamu Bonek di GBT

Dukungan yang tak main-main benar-benar dilakukan para Persela Fans ketika menjalani laga tandang ke Gelora Bung Tomo, Surabaya (11/5). Meski hanya sekadar laga uji coba, ribuan supporter Persela tampak ngluruk ke Kandang Bajul Ijo.

Pertandingan uji coba ini bagi para supporter memang pertandingan persahabatan saja. Berapapun skor yang terjadi tidak akan begitu penting karena yang terpenting adalah seduluran selawase antara pendukung Persela Lamongan—dari L.A Mania maupun Curva Boys 1967—dengan Bonek Mania.

Ini dibuktikan dengan adanya photobooth seduluran Persela dan Persebaya, yang banyak diabadikan lewat swafoto dari setiap yang hadir di pertandingan. Mereka bergandengan tangan dan saling berangkulan, tanda tak ada perselisihan.

Semua tampak guyub dengan semboyan seduluran selawase, menjadi saudara karena sepakbola.

Saya yang kebetulan hadir melihat bahwa kedua supporter seolah telah melupakan kejadian beberapa tahun lalu yang banyak merenggut korban jiwa. Pertikaian Bonek dan L.A Mania telah usai. Kisah kelam masa lalu sudah dikubur dengan semangat persaudaraan.

Ini jelas jadi pemandangan yang menyenangkan. Di luar stadion, mereka terlihat saling duduk melingkar bersama dengan suguhan banyu langit. Sebuah gelas digilir, berputar dan diminum bergantian. Mereka saling tos dengan gelas plastik yang mereka acungkan.

Tak ada iktikad saling ancam, tak ada keinginan saling menyakiti.

***

Ketika mulai memasuki tribun, semangat kebersamaan itu tak henti bergema. Lagu “Di sini Bonek, di sana Lamongan, di mana-mana kita saudara,” ataupun, “Terimakasih Bonek Mania,” saling menyahut dengan “Piye-Piye Piye Kabare, Piye Kabare Bonek Mania.”

Semua disahuti dengan apik kabare—dan ini terus berkumandang sebelum dan sesudah pertandingan berlangsung.

Meskipun patut disayangkan, ketika memasuki tribun GBT, banyak sekali pendukung Persela yang kehilangan ponselnya. Tampaknya, pertandingan persahabatan ini merupakan sasaran empuk bagi pencopet untuk berburu THR.

Bahkan, salah satu anggota Curva Boys 1967 berkata pada saya bahwa lima orang dari rombongan truknya kehilangan hape. Biyuh, jan rejeki nomplok tenan iki maling-malinge.

Pertandingan persahabatan memang berakhir 2-1 untuk kemenangan Persebaya. Gol kemenangan Persebaya dicetak oleh Octavio Dutra dan Damian Lizio di babak pertama. Sedangkan gol yang tidak bisa membawa kemengan Persela dicetak oleh Alex Dos Santos pada babak ke dua.

Fakta uniknya: semua gol yang terjadi diceploskan di gawang sebelah utara.

Memang ampuh tenan ramalan mbah-mbah yang saya temui siang tadi. Beliau berkata bahwasanya hari ini anginnya sedang menuju utara dan timur. Semua gol akan terjadi di gawang utara dan pemenangnya adalah tim dari daerah yang paling timur.

Haha! Ramalan menyenangkan ini membuat sepakbola bukanlah hanya perhitungan statistik pertandingan saja. Lebih dari itu, kleniknya juga bisa jadi hiburan. Meski kalah, para fans Persela tetap bergembira!


***

Selain kekompakan dan unsur klenik tadi, yang menarik adalah fenomena awayday saat ribuan suporter Persela yang datang jauh-jauh ke GBT untuk mendukung tim jagoannya, bergerombol bersama dengan mengendarai motor, mobil, pickup, dan truk.

Pemandangan ini sangatlah indah. Menunjukkan kalau mereka adalah bagian dari supporter tradisional Indonesia. Ibadah puasa ramadhan seolah  sedikit mereka lupakan demi ibadah yang lainnya: ibadah wajib mendukung Persela Lamongan.

90 menit penuh genderang perkusi dari bass drum maupun snare tidak berhenti ditabuh. Teriakan pengobar semangat pun tak berhenti dilantangkan. Saat gol pertama yang dicetak Alex Dos Santos tembus ke gawang, sontak merah suar segera dinyalakan.

Sebuah tanda gol telah dirayakan, dan tentunya, ‘We Want More Oi!’

Selepas wasit meniupkan peluit panjang, anthem Setia Bersamamu bergema. Seluruh pendukung Persela auto bernyanyi bersama. Persela Fans dengan hikmat saling merangkul orang disampingnya. Mereka beradu khusyu’ dengan sebelahnya. Lantang suara yang kadang fals pun tak jadi masalah lagi.

Ratusan ribu rupiah dari kocek mereka pun mereka bakar. Lewat redflare, smokebomb, dan juga kembang api yang dinyalakannya. Bau mesiu yang keluar pun dielakkan. Demi bukti nyata, eksistensi, dan kebanggaan akan simbol kota di dada.

Persela Die Hard Fans pada pertandingan itu seolah memang suda htak sabar dengan Liga 1 yang akan berjalan beberapa hari nanti. Mereka menanti performa habis-habisan Persela, pada 15 tahun eksistensi mereka di kasta tertinggi sepakbola Indonesia.

Jadi, Persela Lamongan, musim nanti kamu jangan main-main, karena dukungan kepadamu tak pernah main-main!

Foto/Dokumentasi: @rizalakhmads


KOMENTAR
Liputan TERKAIT