Menikmati jazz tidak harus melulu dengan duduk di gedung  opera ataupun restoran mewah. Di era sekarang, banyak tawaran menikmati musik jazz di alam terbuka.  Seperti di Reyog Jazz Ponorogo, dimana rencananya akan digelar di sebuah lokasi berpemandangan indah, Telaga Ngebel.

Acara ini digelar Pemkab Ponorogo bekerjasama dengan WartaJazz, dari 11 hingga 12 Oktober dan terbuka untuk masyarakat luas.

Kabupaten Ponorogo sudah lama dikenal dengan julukan Kota Reyog atau Bumi Reyog. Daerah ini merupakan daerah asal dari kesenian Reyog yang telah mendunia. Selain itu, Ponorogo juga dikenal sebagai Kota Santri karena memiliki banyak pondok pesantren, salah satunya Pondok Modern Darussalam Gontor.

Tak hanya itu, Ponorogo juga punya ragam kuliner khas seperti sate gule kambing, sate ayam, sampai sego pecel.

Ponorogo sendiri saat ini memang sangat mudah dijangkau dengan dibukanya Tol Trans Jawa. Hanya sekitar dua jam, baik dari Airport Juanda Surabaya ataupun Adisoemarmo Solo, serta 30 menit saja perjalanan darat dari Madiun menggunakan kereta api. Ini jelas mendukung pergelaran Reyog Jazz tahun ini.

Untuk venue, Telaga Ngebel sendiri terletak di kaki gunung Wilis. Berada sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Ponorogo. Kalau dikelilingi, bisa sampai sekitar lima kilometer. Pemandangannya, terutama di pagi hari (sunrise) dan menjelang senja (sunset), bisa sangat cantik dan jadi buruan para penggemar fotografi.

“Reyog Jazz Ponorogo kembali kami laksanakan, karena merupakan sarana yang efektif memperkenalkan Ponorogo lewat keelokan jazz berpadu keindahan telaga diatas bukit. Dengan kemudahan akses dan pembenahan infrastruktur menuju lokasi, kami mengundang para wisatawan untuk datang dan menikmati jazz, berpadu dengan tradisi reyog satu-satunya di Indonesia”, ujar Bupati Ponorogo, Drs. H Ipong Muchlissoni.

Sementara itu, Agus Setiawan Basuni managing director WartaJazz mengungkapkan, jazz telaga dipadukan dengan keunikan reyog dan musisi pendukungnya bisa jadi tambahan agenda dalam untaian jazz festival di Indonesia.

Apalagi, penonton yang ingin hadir menonton, cukup mengunduh undangan gratis lewat website resminya.

Tahun ini, Reyog Jazz Ponorogo  menghadirkan FARIZ RM Anthology, yang terdiri dari Fariz Roestam Moenaf (keyboard/vocal), bersama Adi Darmawan (bass), Eddy Syakroni (drum) dan Iwan Wiradz (perkusionis).

Ada pula kolaborasi musik dan reyog, dimana kali ini yang hadir adalah kelompok “Ber6.” Terdiri dari enam personil dan dipimpin oleh Denny Chasmala (gitar), bersama Andre Dinuth, YankJay, dan Zendhy Kusuma. Mereka dijadwalkan akan berkolaborasi dengan penari dan pemusik reyog Ponorogo dari UKM Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

Tak hanya itu, festival ini juga menghadirkan musisi mancanegara, di antaranya drummer Yvon Thibeault (Kanada), gitaris Bennet Brandeis (Amerika Serikat), Brandon Julio (Indonesia) dan penyanyi asal Rusia Gala Ga yang tergabung dalam Batur Band.

Ada juga alunan suara nan lembut-melankolis akan ditampilkan penyanyi cantik lulusan Australia, Sierra Soetedjo, yang hadir bersama duet Tiyo Alibasjah (gitar) dan Dony Koeswinarno (flute/saxophone). Tampil pula komunitas Jazz tuan rumah, Mrs. Holdingsky & The Apprentice – Jazzthilan Community (Ponorogo).

Tak hanya musik, ada juga pojok edukasi dan bersih-bersih Telaga Ngebel dengan menggandeng komunitas Ponorogo Resik-resik. Tujuannya sih mengedukasi pengunjung agar lebih peduli lingkungan—dan demi mewujudkan less waste festival.

Gimana, sudah siap berdansa di telaga?