Mendengar cerita perjalanan memang selalu menyenangkan. Di sana, kita bisa mendapatkan khazanah baru tentang kondisi apa yang terjadi di dunia saat ini. Tidak sekadar mendengarkan saja, kita juga bisa mendapatkan pengetahuan yang berguna untuk diterapkan dalam keseharian.

Mendengarkan cerita lewat karya musik lebih menyenangkan lagi. Kita akan dibawa ke sebuah imajinasi liar, di mana kita bisa menginterpretasi sendiri karya tersebut.

Contoh pencerita yang baik itu bagi saya adalah Nova Ruth. Bersama kompatriot sekaligus suaminya, Filastine, Mbak Nova terus berkeliling dunia, menemu hal-hal yang tidak baik-baik saja. Temuan itu diluapkannya melalui karya musik yang bisa kita nikmati sekarang ini.

Drapetomania, album terakhir yang dirilis Filastine & Nova, banyak bercerita tentang kemuraman dunia. Cukup sulit menjelaskan apa genre dari musik yang mereka mainkan. Tapi persetan dengan genre, lagu-lagu dari album ini memang ajaib.

Meskipun dikemas meriah dengan suara elektronik DJ, aura kemuraman tidak akan hilang dalam lagu-lagu mereka.

“Diantara kekacauan dunia
Kehancuran dimana-mana, kepercayaan hilang musnah
Kau dan aku, berlari menuju entah
Lewati perbatasan-perbatasan
Dikejar saudara sendiri”

Penggalan lirik dari lagu yang berjudul “Perjalanan” ini seperti menjelaskan adanya kesedihan yang cukup menakutkan. Dari sebuah mesin pembunuh yang bisa membunuh siapa saja. Tidak peduli orang itu salah atau benar, hingga sebuah pengharapan yang selalu tidak pasti.

Kemarin, Mbak Nova akhirnya pulang ke Indonesia. Setelah beberapa hari mengarungi lautan dengan proyek kapal pinisi terbaru miliknya yang diberi nama Arka Kinari. Tidak sekadar pulang, Mbak Nova yang memang seorang seniman ini, membuat panggung dalam tema ART FO(R)EST.

Acara itu digelar di De Kleine, café di kaki Gunung Panderman yang menyajikan pemandangan alam menakjubkan. Dalam acara tersebut, Mbak Nova berbagi panggung dengan ayahnya, Toto Tewel dan seorang seniman Bandung yang kini tinggal di Swiss, Asep Stone—yang suka kesurupan Jimi Hendrix di setiap panggungnya.

Mbak Nova tampil tepat pukul 21.00, saat suhu udara di Kota Batu sedang sejuk-sejuknya—temperatur  suhu menunjukkan 20 derajat celcius. Ia tampil selama 45 menit, dengan ditonton keluarga, teman-teman, dan para pengamat musik dari Malang Raya.

Berbeda dengan penampilan biasanya bersama Filastine, dalam kepulangannya ini, ia tampil solo dengan berbekal alat akustik dan efek elektronik yang membuat suaranya menjadi sangat menjiwai.

Dalam penampilannya ini, ia membawakan tujuh buah lagu. Empat lagu di antaranya ada di album Drapetomania dan Aphasia bersama Filastine. Ada “Miner”, “Fenomena”, “Perbatasan”, dan “Murka.”

Untuk lagu “Miner”, Mbak Nova mengubah judul lagunya menjadi “Plong”, yang berarti kelegaan hati seseorang.

Sebagai piranti musiknya, Mbak Nova menggunakan gitar, ukulele travel, dan juga kalimba. Ia tampil dengan suara nyinden khas Jawa dengan pembawaan spirit rock n’ roll ala Janis Joplin. Suara yang dipertunjukkannya membuat penonton terhenyak dan diam sementara.

Di sela-sela lagunya, Mbak Nova mengajak semua hadirin untuk berinteraksi. Ia menceritakan perjalanannya keliling dunia, hingga cerita tentang bertahan hidup selama beberapa hari di atas kapal.

“Setidaknya saya telah membuktikan bahwa nenek moyang kita adalah seorang pelaut. Saya sudah bisa membuktikan bahwa hidup di laut itu mengerikan, tapi itu semua bisa dilewati. Teman-teman semua semestinya bisa merasakan kehidupan di laut, Banyak pelajaran yang bisa dipetik meski kita tidak pernah mengerti. Seperti bagaimana cara untuk bertahan hidup,” ujarnya.

“Negara ini seperti memaksa semua hal harus tersentralisasi di Jawa. Orang Jawa menjadi sangat tersentralisasi di sini, sehingga kita tidak perlu untuk mengetahui semuanya. Padahal kita perlu menyebrangi laut untuk bisa mengenali daerah-daerah lain,“ tambahnya.

Mbak Nova juga mempertunjukkan lagu berjudul “Perbatasan.” Ia bercerita bahwa lagu itu adalah hasil implementasiannya terhadap eksploitasi alam yang dilakukan manusia, yaitu pertambangan batu bara dan penanaman kelapa sawit.

“Saya mendapat cerita itu dari Bu Mardiani. Setiap hari, Bu Mardiani selalu merasa hidupnya diancam karena mau dibunuh oleh para pengembang itu. Zaman dulu ketika dijajah kolonial, cukup hanya lari ke hutan pasti aman, karena penjajah tidak tahu filosofinya hutan. Sedangkan sekarang, dijajah bangsa sendiri. Mau lari ke mana?” ujarnya.

Mbak Nova juga bercerita tentang para imigran yang membuat kita seolah harus memegang kepala.

“Ketika ke perkampungan imigran di Perancis, aku melihat banyak sekali orang-orang dari Syria, Afghanistan, dan banyak lagi.”

“Aku ini sering sekali komplain terus masalah visa, karena susah dan ribetnya masalah birokrasi. Tapi ternyata aku masih punya pilihan lain. Di negaraku ini, meski disetiap jengkalnya banyak konflik ekologi, tapi masih ada yang bisa dinikmati, yaitu pulang.”

“Sedangkan para imigran ini tidak bisa pulang ke kampung halamannya sendiri. Antara lari atau bunuh diri. Setelah merasakan itu, aku langsung kena paru-paru basah karena kebanyakan mikir. Daripada gila karena kebanyakan pikiran, ya dibikin aja lagu judulnya “Perbatasan,”” ujar Mbak Nova.

Cerita dari Mbak Nova memang selalu menarik untuk didengarkan. Ia bisa sangat kritis terkait perubahan iklim di Bumi, permasalahan imigran di dunia, dan perjuangan gender dari perempuan.

Untuk album terbarunya, Mbak Nova Ruth rencananya akan memberi judul Napak Tilas. Album ini akan dirilis pada Cassette Store Day Malang 2019. Gelaran pesta merayakan kaset ini akan diadakan pada Sabtu, (12/10) besok, di Svarga, Puskop KBA Malang.

Napak Tilas berisi 10 lagu yang diproduksi oleh rumah produksi legendaris dari Malang, Barongsai Records. Sama seperti karya sebelumnya, lagu ini berisi lirik-lirik berbahasa campuran. Dari Indonesia, Jawa, dan Inggris.

Mbak Nova memang seseorang yang semangat rebelnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Dalam tulisan curhatan pribadinya di buku Ritme Kota (2019) yang berjudul “Lahir di Kampung Gulintung untuk Menantang Perbatasan”, terasa sekali semangat pemberontakannya memang sudah dipupuk sejak dini.

Mbak Nova punya harapan besar akan perubahan, dan tidak butuh orang lain untuk memulainya. Ia bisa memulai dari dirinya sendiri untuk menyebarkan semangat itu ke semua orang.

Mbak Nova memang seorang nasionalis yang tekun membaca Jawa, sebagai kajian dan tentunya ideologi. Jadi patut ditunggu album terbaru dari Nova Ruth Setyaningtias. Sebuah album yang bisa menjadi pengobar semangat pemberontakan, bahan refleksi, media pembelajaran, sampai hiburan bagi orang-orang yang depresi.

Foto/Dokumentasi: Benimage77