DNK

Ngertio Talah, Kali Suroboyo Iki Wes Tercemar Rek!

Ngertio Talah, Kali Suroboyo Iki Wes Tercemar Rek!

Sungai di Surabaya kian hari warnanya tampak semakin keruh, tak enak dipandang mata. Padahal, air sungai sejatinya adalah bahan baku air minum yang diolah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Automatically, kamu pun juga ikut mengonsumsinya. Untuk mandi, cuci baju, nggodok mie, bikin kopi, dan sebagainya. Kalau didelok-delok saja sudah keruh, sebenarnya aman nggak sih mengonsumsi airnya? Saya sih nggak yakin.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang apa saja polutan yang terkandung dalam Kali Surabaya, alangkah baiknya saya mengajakmu bertemu kawan-kawan dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON), LSM peduli lingkungan yang selama bertahun-tahun meneliti kondisi sungai Surabaya.

ECOTON  melihat pencemaran, selain karena ulah masyarakat, juga diakibatkan aktivitas industri. Ini sudah diteliti lewat uji limbah dari industri yang beroperasi sepanjang aliran Sungai Brantas hingga Kali Suroboyo.

Uji limbah yang dilakukan Februari lalu ini hasilnya cukup mencengangkan. Ditemukan banyak polusi air berupa mikroplastik—remah-remah plastik yang berukuran 4,8 milimeter, larut bersama air sungai.

Mikroplastik berbentuk serpihan plastik dengan ukuran yang sangat mikroskopis, alias lebih kecil daripada cuilan kuku jari. Partikel itu tidak terlihat mata, tapi jika dilihat dengan alat bantu penglihatan akan tampak jelas.

Partikel itu terjadi akibat pembuangan limbah pabrik, plastik, kosmetik, popok bayi, dan sebagainya, ke dalam sungai. Sisa deterjen dan shampo yang dikonsumsi masyarakat pun juga turut mencemari lingkungan karena partikelnya mengandung mikroplastik.

Sejauh ini menurut pantauan ECOTON, masih ada delapan perusahaan di sekitaran Surabaya, yang masih membuang limbah airnya ke sungai. Dari pabrik kertas hingga pabrik bahan makanan, mereka secara nakal dan curang melakukan pelanggaran lingkungan.

Pembuangan limbah yang dilakukan pabrik ke sungai, dilakukan pada jam-jam yang tidak dicermati orang. Biasanya pada pukul satu dini hari hingga subuh. Adanya kenaikan suhu air pada jam-jam itu, menandakan pelanggaran kegiatan pabrik.

Temuan dari ECOTON juga menyebut, 80% ikan di bantaran sungai di Surabaya sudah terkontaminasi mikroplastik. Jadi, hampir seluruh ikan-ikan di Kali Surabaya tidak layak konsumsi.

Partikel microplastik yang ada di sungai itu dimakan kerang, yuyu, lalu ikan. Kandungan polutan yang berasal dari pestisida dan limbah industri itu, selanjutnya dimakan manusia—layaknya pelajaran biologi soal rantai makanan.

Padahal sampai saat ini, sering kita jumpai banyak masyarakat Surabaya yang memancing ikan di sungai. Ikan tersebut dikonsumsi untuk makanan sehari-hari keluarga.

Bahaya yang bisa didapat masyarakat jika mengonsumsi ikan dari sungai Surabaya diantaranya rusaknya sel peredaran darah, osteoporosis, kerusakan sistem kerja otak, resistensi insulin, dan sebagainya.

Untuk perempuan, bahaya penyakit akibat mikroplastik ini adalah kanker serviks, kanker payudara, kanker ovarium, dan abnormalitas organ produksi.

Bila mikroplastik itu masuk ke saluran pencernaan manusia, berpotensi merobek usus atau lambung karena pecahan ini tidak bisa dicerna. Bisa saja sebagian keluar bersama kotoran, tapi masih ada yang tertinggal.

Apalagi bila masuk sel darah, plastik mikro ini ikut terserap dalam jaringan sel darah dan bisa mengganggu sistem syaraf pusat. Bila terlalu sering bisa menyebabkan gangguan sistem pencernaan atau sistem syaraf, dan perlahan bisa menyebabkan kematian.

Pembicaraan soal bahaya mikroplastik memang sudah jadi pembahasan dunia. Sedangkan di Indonesia, jarang sekali ada pembahasan serius terkait bahaya mikroplastik. Kurangnya kepedulian dan edukasi dari masyarakat, membuat isu ini kurang seksi.

Direktur ECOTON, Prigi Arisandi mengaku pernah menyurati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Tapi sampai saat ini belum ada titik temu.

“Permasalahan ini seharusnya segera diselesaikan dan tidak dibiarkan berlarut-larut. Kewenangannya tidak hanya di daerah, tapi di pusat, di Menteri KLHK. Karena sungai ini merupakan sungai nasional,” ujarnya.

Semestinya, pemerintah daerah memantau keadaan sungai untuk dilaporkan ke pusat. Karena itulah, ECOTON mendorong Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawangsa, ikut serta menjaga sungai-sungai di Jawa Timur.

“Khofifah harus membuat SOP untuk para Bupati atau Walikota agar secara tegas memarahi para pemilik Pabrik yang membuang limbah ke sungai. Karena merekalah yang memberikan izin pembangunan,” ujar Prigi.

Kita seringkali bicara soal laut yang tercemar plastik, seolah lupa dengan keadaan sungai. Bersihnya laut tentu saja dimulai dari sungai. Dari hulu ke hilir, dari sungai ke laut. Kalau sungainya saja sudah sedemikian parah, berharap apa kita pada lautan?


KOMENTAR
Liputan TERKAIT