DNK

Nggak Melulu Vandal, Begini Cara Merayakan Kemerdekaan Ala Arek Mural

Nggak Melulu Vandal, Begini Cara Merayakan Kemerdekaan Ala Arek Mural

Seni mural memang sedang populer di kalangan anak muda. Mulai coffee shop, hotel, hingga rumah, mulai memasukkan mural sebagai bagian dari desain interior.

Dari gambar tokoh beserta dengan kutipan yang sangat menginspirasi, hingga gambar dengan tema kopi dan kuliner, nilai estetiknya selalu bisa dinikmati generasi muda. Café atau restaurant pun bahkan terkesan garing kalau tak ada mural di sekililing temboknya.

Melihat geliat antusiasme generasi millenial terhadap seni mural, maka diadakanlah lomba mural bertajuk AGA Mural Festival 2019. Acara ini disponsori AGA, merek cat terkemuka dan didukung Yello Hotel Jemursari.

Mengambil tema “Indonesia dalam Kemerdekaan NKRI,” ini jadi semacam pesta perayaan kemerdekaan arek mural.

Lomba mural ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu offline dan online. Kategori offline berlangsung hingga 15 Agustus lalu. Kini tahapnya sudah dalam penjurian. Sedangkan lomba online, pendaftarannya sudah rampung 19 Agustus lalu.

Perbedaannya hanya terletak pada teknis lomba dimana lomba offline mengunggah foto hasil karya, sedangkan online mengunggah video timelapse.

Provokator yang membuat kompetisi ini tidak lain adalah Serbuk Kayu, unit para seniman rupa yang telah berdiri sejak 2011 lalu ini. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka dikenal lewat acara Surabaya Move On. Komplotan ini sangat beken di daerah Lidah dan sekitarnya karena mereka kebanyakan digawangi oleh beberapa mahasiswa UNESA.

Menurut mereka, acara ini sesuai dengan visi misi komunitas yang ingin mendistribusikan seni sebagai pengetahuan. Terlebih lagi dengan adanya kategori online yang dapat menjangkau para seniman di luar Surabaya dan sekitarnya.

Adanya sistem online pada perlombaan ini bisa menjangkau daerah Jawa Timur lainnya. Tidak melulu harus ke Surabaya untuk bisa mengikuti kompetisi mural. Ini terbukti dari asal peserta yang berpartisipasi. Ada yang datang dari Kediri, Jombang, Malang, Pasuruan hingga Gresik. Bahkan ada yang dari Lombok.

Semangat para peserta dari kategori offline ini sudah terlihat sejak lomba dimulai (14/8). Ada yang mulai mengerjakan di tengah teriknya matahari, ada pula yang memilih begadang.

Lokasi yang dipilih pun beragam. Ada yang di tembok perkampungan, jalan besar, di dekat kampus, coffee shop, sampai menggunakan jalan sebagai media karena minimnya gedung-gedung tinggi di kampung mereka.

Di dalam lukisannya, mereka mengartikan kemerdekaan Indonesia dengan berbagai makna.

“Lomba kali ini bersifat umum, jadi siapa saja bisa ikut. Untuk lokasinya, para peserta dapat memilih spot gambar di tembok manapun yang mereka inginkan dengan syarat lokasinya strategis,” kata Owan, panitia dari Serbuk Kayu.

“Kami selalu mendukung kreatifitas seniman-seniman lokal. Lomba ini juga sebagai bentuk dukungan AGA terhadap eksistensi mereka. Inovasi-inovasi yang kami ciptakan juga terinspirasi dari seniman-seniman juga. Selain itu, kami ingin mengajak anak muda merayakan kemerdekaan melalui suatu hal yang positif,” ujar Dewi, penggagas acara.

Karya mural yang ditampilkan para peserta pun ajaib. Misalnya Bayu Edi Iswoyo dari tim Khadjie Mural. Ia menyampaikan tentang keberagaman Indonesia melalui karyanya yang berjudul “Indonesia Keberagaman Imajinasi Nyata”.

“Indonesia itu punya apa aja sih, kebudayaannya banyak kan, itu kami masukkan di sini. Ada pensil juga yang melambangkan imajinasi. Juga kumpulan orang dalam satu wajah yang melambangkan orang Indonesia. Orang Indonesia kan macam-macam, gimana kalau mereka jadi satu kesatuan orang,” kata Bayu yang biasa melukis mural bertema trick eye 3D di beberapa tempat wisata populer di pulau Jawa.

Demikian juga Firmansyah Adiawan dan Hanifi dari tim Wee Can Works. Mereka memasukkan beberapa figur yang merepresentasikan pemuda saat ini dan daily activity mereka. Sementara tim Wee Can Works, memakai tema flat desain yang kini juga sedang populer.

Banyaknya seniman turut serta dalam kompetisi ini menunjukan bahwa minat mural di Indonesia, terutama Jawa Timur sangat tinggi. Ini mestinya mendapatkan dukungan instansi untuk mewadahi kreatifitas mereka. Karena kalau tidak begitu, anak-anak ini akan bisa melakukan vandalisme di jalanan. Bahkan mungkin, bisa sampai ke rumahmu..


KOMENTAR
Liputan TERKAIT