Total Jerks memang ciamik cok! Itulah yang terlihat dari lagu-lagu singkat padat dan mereka. Belum lagi dalam artwork-artwork yang mereka rilis sebagai merchandise. Biasanya berisi gambar-gambar kartun bertemakan kekelaman hidup, dengan warna-warni sungguh sungguh artsy.

Total Jerks merupakan komplotan hardocore punk asal Depok yang berdiri sejak 2012. Mereka bisa dibilang sangat produktif untuk urusan lagu. Meski belum pernah merilis album, mereka sudah menelurkan empat EP dan juga beberapa EP split dengan band-band punk.

Beberapa nama yang sempat berkolaborasi dengan Total Jerks di antaranya taRRkam dan The Kuda. EP ciamik mereka adalah yang bisa kita dengarkan di Spotify adalah Life Is Hate (2016) dan Fear (2019).

Seperti band-band punk kontemporer pada umumnya, Total Jerks memang dikenal dengan nomor-nomor berdurasi singkat dengan komposisi musik padat nan ciamik. Suara gitar yang naik turun, bass yang maju terus pantang mundur, gebukan drum yang membuat ketek kita basah, hingga suara teriakan orang minta tolong.

Kesemuanya jadi paduan yang sungguh enak untuk didengar terus-terusan.

Lagu Total Jerks memang cepat-cepat. Tercatat dalam album Fear, lagu paling panjang dari mereka cuma 1 menit 49 detik.

Total Jerks mungkin mengacu pada 80’s hardcore punk, dengan pengaruh Black Flag, Minor Threat, dan Circle Jerks. Juga beberapa band di era 90 sampai 2000an seperti Amdi Petersens Armé dan Formaldehyde Junkies.

Nah, saya berkesempatan menonton live mereka minggu lalu, dalam penampilan tur yang mengambil tema “Total Addiction Weekend Tour 2019.” Kota yang mereka singgahi saat itu adalah tanah air saya, Lamongan—yang jadi kota pertama dalam tur ini.

Inisiator dari acara tersebut tentu saja adalah LCHC, sekumpulan pemuda pecinta musik hardcore yang tiap malam pekerjaannya mengisi warung-warung kopi sekitaran Kota Lamongan. Pemuda-pemuda yang kebanyakan belum menikah apalagi punya pacar ini, mengadakan LCHC Fest jilid ke 2, setelah Mei lalu juga membuat gelaran serupa.

Tampil dalam acara itu band-band punk, hardcore, dan noise dari Lamongan, Bojonegoro, Gresik, dan Malang. Di antaranya adalah Trashhold, Sticking Out, Sineweed, ABC, Hipster Noise, Kanako Like Fruits, Bungkam, Hansip Toke, No Brain, The Sound og Truth, Brain Noise, dan tentunya Total Jerks.

Acara berjalan cukup meriah—sebagaimana acara-acara underground pada umumnya. Di sana amat terasa ukhuwah indie-niyah antar sesama pelaku gigs-gigs underground. Mereka berbagi apa saja, dari makanan, rokok, stiker, patch, minuman halal, minuman haram, dan lain sebagainya.

Hingga datanglah waktu dimana Total Jerks didapuk menguasai panggung. Waktu menunjukkan pukul 21.30, yang berarti mereka akan tampil selama setengah jam.

Mereka pun tampil membawakan beberapa nomornya yang ajaib. Terhitung dalam setlistnya ada kira-kira 10 lagu. Di antaranya “Jump The Fence” dan “Penjilat” dari EP Life Is Hate. Dilanjut dengan “Depresi,” “Sudah Gila,” “Help Me,” “Tanpa Henti,” “I Hate Myself,” “Fear,” dan “Hilang Arah” dari EP Fear.

Sontak ketika Total Jerks mengakuisi panggung, acara yang diadakan di warkop kecil dibilangan Jalan Pahlawan ini menjadi riuh. Para penonton menjadi bermoshing ria dengan bahagia. Mereka berebut microphone dengan Ricky Morris sang vokalis, bertabrakan antara satu dengan lainnya.

Sementara di belakang ada lingkaran violence dance, saling tindih-menindih karena ada yang berloncatan di atas kepala mereka.

Pada panggungnya kali ini, posisi gitar Total Jerks diisi oleh Tirsa Putra, gitaris Hong dan Jimmy Jazz. Suara gitar yang ia mainkan pun jernih. Sungguh membuat hasrat ingin larut dalam keosnya moshpit.

Menikmati musik-musik hardcore punk memang membuat umur kita menjadi tidak kunjung menua. Terus mendengarkannya di antara kewajiban pekerjaan sehari-hari yang laknat, seperti memberi energi positif untuk awet muda.

Panjang umur kegilaan!

Dokumentasi oleh Siska Puspita Anggraeni – @creamy.cat.cake