Di Surabaya, zero waste bukan cuman koar-koar belaka. Ada rencana, aksi nyata, dan banyak diskusi buat bikin publik sadar bahaya sampah.

Masalah sampah memang menjengkelkan. Sampah, yang udah jadi barang yang tidak kita inginkan, ketika sudah dibuang dampaknya malah kembali ke kita sendiri. Bahkan, bisa punya efek berkepanjangan di kehidupan sehari-hari.

Kita bisa saja cuek membuang barang ini itu sesuka hati. Tapi, dampaknya bisa luas dan cukup panjang. Padahal jika kita bijak, banyak cara yang menanggulangi wabah sampah yang kian merajalela. Salah satunya: zero waste!

Obrolan menarik mengenai zero waste ini kebetulan digelar di  Universitas Surabaya (Ubaya), kemarin (14/1). Diskusi ini mengambil tema rodok abot: “Apakah Zero Waste Itu Mungkin?”. Acara ini diinisiasi Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (Walhi Jatim), Aliansi Zero Waste Indonesia, dan tentunya Ubaya.

Hadir sebagai pembicara, Prof. Paul Connett (penulis buku Zero Waste Solution), Dian Noeswantari (peneliti Pusham Ubaya), dan Rizal (Pusat Pemberdayaan Komunitas Perkotaan Ubaya).

Acara ini langsung menyuruh para peserta membawa botol minum sendiri. Para pegiat acara ini juga menyampaikan pesan, bahwa kalau kamu belum bisa bawa tumbler, botol bekas minummu jangan dibuang. Bisa dipakai ecobrick atau ditabung, dan nanti dijual buat beli botol minum.

Prof. Paul menyatakan, zero waste adalah solusi paling ideal di abad 21 ini. Membuat teknologi canggih untuk pembakaran sampah sebenarnya sia-sia. Biaya yang mahal dan racun sisa pembakaran sampah berupa partikel nano, tetap bisa lepas ke udara.

“Kamu tahu bagaimana kedai-kedai minuman memproduksi banyak plastik. Restoran-restoran itu. Sebenarnya kita harus menginggalkan (pemakaian plastik sebagai calon sampah) yang tidak perlu. Kita tidak boleh memperbanyak sampah, kita tidak boleh membuatnya,”

Paul juga mengemukakan penemuan yang tidak menggembirakan. Pada tahun 2000 lalu, ada penemuan partikel-partikel berukuran nano yang memiliki kandungan logam berat dari teknologi pembakaran sampah.

Partikel nano tersebut memunculkan banyak masalah kesehatan. Partikel sisa pembakaran sampah itu amatlah kecil sehingga bisa masuk dalam tubuh dan jaringan darah, melalui sel-sel tubuh.

“Konsekuensinya, pada 18 Desember 2019 ada riset, partikel nano itu masuk lewat pernafasan. Berakibat pada pembengkakan otak, kerusakan jaringan syaraf, kanker otak, hingga gangguan mental,” bebernya.

Paul mencontohkan, untuk pengelolahan sampah sendiri, Aliansi Zero Waste Indonesia sudah memiliki beragam kontruksi pengelolaan sampah. Salah satunya sudah diterapkan di Desa Wringin Anom, Gresik. Di sana sedang dikembangkan gaya hidup zero waste, seperti pengumpulan sampah terpilah komposan komunal dan daur ulang setempat.

“Ini pun bisa dilakukan, meskipun tanpa bantuan pemerintah, bantuan dana, atau aturan dari nasional. Model ini sudah berjalan meskipun masih pilot project,” bebernya.

Paul menambahkan, pada 2017, 40 dari 108 provinsi di Italia sudah memilah sampahnya. Mereka menolak pembakaran sampah, dan lebih memilih daur ulang.

Paul, yang pernah memaparkan dua presentasi mengenai gerakan zero waste pada Komisi PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan pada 2010 lalu, menegaskan bahwa masyarakat Italia sudah memilih tidak menggunakan calon sampah-sampah plastik. Menggantinya dengan sesuatu yang bisa didaur ulang.

Mereka sadar bahwa solusi pembakaran sampah yang ditawarkan negara-negara maju bukan solusi terbaik. Teknologi yang baik seperti daur ulang, memang menguras biaya yang mahal. Dan harusnya, biaya itu bisa saja diambil dari pajak-pajak sampah yang wajib dibayarkan masyarakat.

“Eropa bukan berarti baik dalam pengelolaan sampahnya. Mereka masih banyak masalah. Tapi negara-negara di dunia sudah memulai. Di India, plastik sekali pakai di larang, Costa Rica sudah melarang stereoform,” ujarnya.

“Tentang bagaimana mengolah sampah, investasinya bukan ke mesin tapi ke masyarakat, dengan menambah lapangan pekerjaan, mengurangi emisi, dan lainnya,” tambahnya.

Sementara, Walhi Jatim yang diwakili Wahyu Eka Setyawan menyatakan, dirinya kurang setuju bila PLTSa diberlakukan di Surabaya.

“Karena sampai saat ini pemerintah belum mempunyai studi tentang pencemaran udara yang akan dihasilkan nantinya,” ujarnya.

Dian Noeswantari juga sepakat bahwasan sampah semestinya jadi perhatian dari pemerintah. Harus ada regulasi baru yang mengatur sampah. Saat ini, Indonesia mempunyai tujuh regulasi terkait sampah, tapi toh tak memberikan dampak apa-apa.

“Di Surabaya saja, pembangkit listrik tenaga sampah yang ada di Benowo pun kita belum mengerti dampaknya. Memang ada pemisahan sampah organik, sampah plastik, dan sampah daur ulang. Tapi jika kita lihat, semua tetap masuk satu truk yang sama. Pemisahan sampah-sampah ini toh tidak berguna,” pungkasnya.