Tahukah kamu kalau kedelai merupakan bahan pangan bergizi tinggi? Khasiat dan nilai gizinya telah diakui banyak kalangan untuk menunjang kesehatan tubuh.

Nah, di Kota Surabaya, ada lho kampung yang memanfaatkan kedelai sebagai komoditas usaha masyarakatnya. Kedelai lho, ya. Bukan keledai. Kampung ini adalah Kampung Kalisantri, yang ada di Kecamatan Lakarsantri.

Di sana, banyak warga yang memanfaatkan kedelai untuk diolah menjadi sari kedelai dan tempe. Salah satunya bernama Samuri—bukan Samurai.

Jatuh bangun menggeluti usaha tempa sudah dilaluinya sejak tahun 1998. Usaha Samuri bahkan sempat vakum tak lama ketika dimulai karena pengaruh krisis ekonomi akhir 90an. Tapi tentu saja bukan Samuri namanya kalau lekas menyerah. Terus babat, pantang mundur, kayak Samurai.

“Saat itu, saya benar-benar kesulitan untuk kembali melanjutkan usaha. Jangankan untuk membeli bahan, untuk memenuhi kehiduan sehari-hari saja sulit,” ungkapnya.

Tak mau berlama-lama terjebak dalam keterpurukan, Samuri pun mengajak keluarganya mencari sejuta cara agar usaha tempe kembali berjalan. Dan kini, usaha yang bergerak di bisang pengolahan makanan sehat berbahan dasar kedelai itu telah sukses secara mandiri.

Semangat warga kampung ini juga diakui Armono, ketua RW 04 Lakarsantri. Ia selalu memberi dukungan pada warganya agar senantiasa mandiri. Meskipun, keterbatasan alat produksi jadi salah satu kendala yang akhirnya diakali dengan berbagai inovasi peralatan produksi.

Contohnya, Samuri yang mendaur ulang barang-barang bekas untuk produksi tempe. Meskipun masih terbentur biaya untuk merakitnya.

Tapi toh, usaha tempe miliknya terus memperluas cakupan pasar. Tidak hanya wilayah Kota Surabaya saja, tapi sudah menembus berbagai kota di Jawa Timur.

“Dalam satu hari, saya biasanya bisa menjual produk dari bahan baku sebanyak 1 kwintal 15 ons. Itu juga tergantung kadar air dari kedelainya,” ujarnya.

Dari bahan baku tersebut, dalam satu bulan, Samuri mampu mendapatkan keuntungan kotor hingga sembilan juta rupiah. Maka dari itu, ke depannya, ia ingin menambahkan berbagai variasi di dalam produksi yang bisa menambah minat masyarakat terhadap tempe buatannya.

“Sebagai pelaku usaha ya harus selalu berinovasi. Masyarakat sekarang kan kadang banyak yang makanannya macem-macem variasi. Tidak hanya tempe yang itu-itu saja,” imbuhnya.

Selain tempe, kampung di RW 04 Lakarsantri ini juga memiliki komoditas sari kedelai yang sudah berjalan sejak 2015 lalu. Awal mulanya bisa dibilang suatu kebetulan.

“Ada salah satu warga saya yang ternyata bisa membuat berbagai minuman dari sari kedelai. Waktu itu dia bilang pada saya, ‘Pak, bagaimana kalo saya bersama ibu-ibu kampung bikin usaha sari kedelai?’ Wah, ya saya justru senang karena ternyata ada yang mau memulai wirausaha seperti ini,” kenang Armono.

Sejak saat itu, warga RW 04 seringkali berkumpul pada akhir pekan membuat sari kedelai. Selanjutnya, ibu-ibu setempat juga tetap datang untuk membuat sari kedelai, dari jam tiga sore hingga Maghrib.

“Saya melihat ada potensi yang bisa dikembangkan dari ibu-ibu di RW saya. Jadi mengapa tidak? Saya dukung 100 persen, daripada kumpul-kumpul cuma buat rasan-rasan,” imbuhnya, rodok nyelekit.

Saat ini, penjualan sari kedelai RW 04 Kelurahan Lakarsantri baru dijual lewat online. Kendalanya, mnurut Armono, para warga belum bisa secara penuh fokus di wirausaha bersama dengan berbagai alasan.

Meski begitu, RW ini sudah dua kali didatangi Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Bahkan, dulu beberapa warganya sempat ditawari untuk sinau wirausaha kedelai ke Bali. Wih wih wih..

Yoo ibu-ibu, daripada cuman rasan-rasan ambek petan, mending mulai usaha to..