DNK

Kisah Karomah Mbah Ali Mas’ud Buduran yang Bisa Menyulap Air Jadi Bensin

Kisah Karomah Mbah Ali Mas’ud Buduran yang Bisa Menyulap Air Jadi Bensin

Saya sampai di Desa Pagerwojo, Buduran Sidoarjo, dengan jas plastik yang basah. Hujan baru saja reda, menyisakan genangan di jok belakang motor saya. Dingin lumayan menggigit, tapi area makam Mbah Mas’ud yang saya kunjungi Kamis malam (3/12) ini masih tampak ramai.

Mbah Ali Mas’ud dikenal sebagai satu wali yang menyebarkan Islam di Sidoarjo dan sekitarnya. Selain makam Wali Songo, peziarah juga menjadikan makam Mbah Ud sebagai rujukan untuk sowan.

Di sana, saya segera menjumpai Rifqo, kawan yang kebetulan tinggal di sekitar area makam. Kami pun berbincang sebentar. 

“Waktu aku kecil, guru ngajiku sempat bercerita soal karomahe Mbah Mas’ud. Dulu ada pohon belimbing yang belum matang buahnya. Tapi saat beliau ngomong kalau belimbing ity matang, seketika buah belimbing itu jadi matang beneran,” ungkapnya.

“Bapakku juga pernah cerita kalau setiap bepergian, Mbah Mas’ud selalu nunut orang lain. Entah itu becak sampai orang bawa singkong dalam rengkek. Dan orang yang dinunuti selalu senang karena bakal cepat laku sehabis ditumpangi beliau,” tambahnya.

Saat saya semakin menggigil—mengingat badan saya memang lumayan lemah—Rifqo semakin berapa-api menuntaskan cerita soal karomah Mbah Ud. Bagi warga sekitar, bercerita soal Mbah Ud sudah jadi suatu kebanggaan tersendiri.

Termasuk cerita Mbah Ud muda  saat beliau bepergian ke Pasuruan untuk terbangan. Mbah Ud muda kebetulan menumpangi oplet yang apesnya tiba-tiba mogok karena bensinnya habis.

Lalu kejadian sakti pun dimulai: Mbah Ud menyuruh si sopir mengambil timba dan mengisi tangki bensin dengan air di kali. Kernetnya tidak menolak, tapi masih takut-takut mengisi full.

Tapi setelah di-starter,  oplet itu langsung menyala. Air comberan seketika berubah jadi bensin!

Demi mengorek lebih jauh mengenai Mbah Ud, saya langsung menemui Zarkasih, Staf Sekretariat Makam. Beliau bercerita banyak soal betapa sosok Mbah Ud sudah sedemikan melegenda.

“Jadi Mbah Mas’ud ini dekat dengan wali sembilan, meskipun tidak berada di masanya. Beliau ini juga masih keturunan Sunan Gunung Jati Cirebon kalau menurut silsilah.”

“Mbah Mas’ud ini asli Sidoarjo, lahir tahun 1910-an. Beliau menyebarkan agama Islam di juga daerah Sidoarjo sini. Ayahnya Mbah Ud juga dikenal sebagai salah satu kyai ternama, Kyai Said bin Abdurrochman. Sementara ibunya bernama Nyai Fatma,” ujar Zarkasih.

 “Beliau juga punya keistiqomahan, yang kurang bisa ditiru dan dipelajari. Sehingga banyak dari mereka, hanya ikut-kutan beliau. Tirakatnya Mbah ‘Ud sih lebih ke caranya beribadah dan memberi motivasi orang lain.”

 “Mbah Mas’ud termasuk pengikut Naqsabandiyah. Meski begitu jamaah yang datang ke sini umum, tidak hanya Naqsabandiyah. Kalangan Nahdlatul Ulama juga ada,” pungkas Zarkasih.

***

Area makam Mbah Mas’ud punya kegiatan rutin setiap Jumat Legi. Di antaranya terbangan, tahlilan, salat malam, dan pengajian sampai tengah malam. Di hari Minggu sore, agenda dikhususkan untuk Jamaah Tariqat Naqsabandiyah Kodiriyah.

Sementara, Selasa pukul sembilan sampai 12 malam, ada acara Ishari se-kabupaten Sidoarjo. Untuk hari lain seperti Jumat Wage, tidak ada kegiatan—tapi masjid tetap menggemakan ayat Al-Qur’an.

Peziarah sendiri datang 24 jam setiap hari. Di hari biasa, kira-kira bisa 300 sampai 500 orang. Bahkan kalau weekend dan malam Jumat, bisa sampai ribuan. Peziarah bisa datang dari berbagai kalangan. Mulai dari santri, pelajar, dan warga sekitar.

“Tidak ada yang tahu seperi apa kegiatan istiqomah khusus yang Mbah Mas’ud lakukan selain zikir beliau sendiri di Qodiriyah Naqsabandiyah. Jadi kbisa dibilang, karomah beliau serta-merta kehendak Allah,” ujar Zarkasih.

Semasa hidupnya, Mbah Ud lebih banyak memberi motivasi atau pencerahan pada yang membutuhkan. Bahkan Zarkasih merasa, mimpi dengan Mbah Ud pun bisa jadi suatu kebanggaan.

Malam semakin kelam. Saya masih terjaga. Menelusuri Makam Mbah ‘Ud di tengah dinginnya hawa seperti ini membuat mata saya semakin melek dan sadar: Mbah Ud memang sosok yang penuh karomah, tapi toh segalanya bermula dari Yang Maha Kuasa.

Alhasil, kisah Mbah Ud ini bukan bertujuan memamerkan soal kesaktian manusia, lebih dari itu: kisah ini menunjukkan betapa agungnya Allah SWT, raja dari segala karomah yang pernah dimiliki manusia.


KOMENTAR
Liputan TERKAIT