DNK

Masjid Al Falah: Oase Kaum Urban, 24 Jam Terbuka di Lalu-lalang Raya Darmo

Masjid Al Falah: Oase Kaum Urban, 24 Jam Terbuka di Lalu-lalang Raya Darmo

“Tasku neng endi?”

Teriakan nenek berusia sekitar 60 tahun merayap di antara pengunjung masjid. Suasana diskusi agama dan ngaji di dalam jadi agak terganggu. Beberapa pengunjung —termasuk pemuka masjid dan takmir— langsung mendatangi nenek tersebut.

Situasi semacam itu tentu tidak terjadi setiap hari. Namun, kehilangan tas atau barang lain di masjid -yang mungkin dipicu kecerobohan atau ulah sengaja oknum pencuri- bisa terjadi kapan saja, tanpa diduga.

Peristiwa kehilangan itu terjadi saat saya berkunjung ke Masjid Al Falah, salah satu masjid terbesar dan paling ramai di Surabaya, Rabu (9/1). Masjid tersebut berlokasi di dekat riuhnya lalu-lalang Raya Darmo.

Selain dikenal dengan keramaiannya, Al Falah juga punya aspek yang menarik. Al Falah seperti oase yang berdiri tepat di sumbu ledak kepenatan kota. Membuat keamanan dan penjagaan seakan tak pernah berhenti.

Masjid buka 24 jam. Keamanan mengawalnya terus, tidak pernah tutup. Shift digeber bergantian. Meskipun di malam itu, keamanan mungkin saja luput. Nenek yang kehilangan tasnya itu terus berteriak sambil menangis.

Menurut Hurial Abadi, petugas keamanan yang saya temui, keamanan di masjid tersebut memang harus terus disiagakan. Menjamin kenyamanan pengunjung yang selalu ada 24 jam.

Musibah yang dialami nenek tadi bahkan dianggap lumrah. Barangkali ada yang lengah —meski CCTV terpasang menantang di sekeliling masjid.

Tapi, yang bisa diapresiasi adalah konsistensi Al Falah sebagai masjid di tengah kota yang selalu sedia dan terbuka dalam penjagaan, 24 jam penuh.

“Tujuan kita buka 24 jam itu sebenarnya karena Surabaya kota besar. Sudah pasti warganya banyak masalah. Jadi, daripada jamaah nongkrong di warung kopi atau lainnya, lebih baik datang ke masjid, meskipun hanya duduk iktikaf,” jelasnya.

Masjid Al Falah terinspirasi oleh masjid di Kota Makkah yang buka 24 jam. Membuat jamaah bebas berkunjung kapan saja, karena kebutuhan akan Tuhan bisa timbul setiap waktu.

Kalau diamati, Masjid Al Falah punya bangunan unik berupa persegi panjang. Menaranya yang tinggi menjulang selalu mengumandangkan azan, bersahut-sahutan di tengah decit rem dan pencetan klakson di salah satu titik termacet Kota Pahlawan.

Pantas saja beberapa orang menyebut Al Falah sebagai oase.

Tidak hanya pagi, siang, dan sore. Malam hari selepas isya pun, banyak jamaah yang datang untuk salat, membaca Alquran, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Lokasi masjid yang strategis di tengah kota dan Taman Bungkul membuatnya teramat mudah dijangkau.

Meski tidak semua orang sadar untuk menjamahnya.

Padahal, di Al Falah, semua kebutuhan untuk memanjakan jamaah disediakan secara cuma-cuma. Fasilitas wifi, teh, dan air mineral memang disediakan demi kenyamanan jamaah.

“Masjid juga menyediakan takjil untuk buka puasa. Atau saat puasa Senin-Kamis dan puasa tanggal 13, 14, 15. Di sini juga ada layanan kesehatan untuk warga kurang mampu, seperti pelayanan poli gigi,” jelas Harial.

***

Setelah melihat-lihat masjid di malam hari, esoknya (10/1) saya kembali ke sana untuk menemui sekretariat masjid.

Tanpa diduga, ibu-ibu yang semalam kehilangan tas masih mewek dan teriak-teriak di sana.

Kata orang-orang, ibu itu sampai mendapat predikat legend. Sering nangis, teriak, dan mengaku kehilangan barang di sana. Petugas keamanan hanya geleng-geleng dan tersenyum pahit. Saya paham ironinya.

Mundzir, ketua lembaga kursus di Masjid Al Falah, selanjutnya mempersilakan saya masuk demi meladeni saya yang penasaran tentang seluk-beluk ‘oase’ Al Falah.

“Masjid ini berdiri sekitar tahun 1973. Dari awal memang ramai dipakai, terutama remaja masjid di era tahun 80-an. Kemudian, tahun 1984 mulai ada kursus-kursus seperti ini,” ujarnya.

Mundzir menyatakan, Masjid Al Falah terinspirasi oleh masjid di Kota Makkah yang buka 24 jam. Membuat jamaah bebas berkunjung kapan saja, karena kebutuhan akan Tuhan bisa timbul setiap waktu.

Karena ramainya masjid, pihak pengelola akhirnya membuat beragam aktivitas keagamaan. Salah satunya berupa kursus.

“Di sini ada 17 materi pilihan kursus. Mulai dasar sampai tafsir, hadis, dakwah, dan perawatan jenazah,” terangnya.

Lembaga kursus yang dibawahi Yayasan Al Falah punya santri hingga 4 ribu orang. Jam aktif pembelajaran kursus di hari Senin sampai Sabtu, pukul 17.30-21.00. Dibantu 73 guru/ustad, dengan 400 kelas yang bisa diikuti.

Biasanya, kelas berada di ruangan atau dalam saf setelah salat jamaah. Menerapkan sistem paket empat bulan dan libur setelah pembelajaran selama seminggu. Setahun sekali, ada tiga kali pendaftaran untuk tiap paket.

“Santrinya mulai kalangan bawah sampai atas. Mantan pejabat dan bupati juga ada. Satu orang ada yang tiga sampai empat paket," ungkapnya.

Kemudian saya menemui Hanafi, staf pengajar. Waktu itu dia sedang membimbing jamaah. Waktu menunjukkan hampir pukul 17.00. Magrib akan segera datang. Sebelum kumandang azan, Hanafi mengakhiri sesi bimbingannya.

“Kajian di sini tidak didasarkan pada kitab-kitab atau mazhab tertentu. Istilahnya, kita ngayomi jamaah dan merangkul semua. Ciri khas Al Falah memang begitu. Di sini tidak diajarkan aliran NU atau Muhammadiyah,” kata Hanafi.

“Kita semua satu, yaitu Islam. Itulah yang disenangi santri dan santriwati di sini. Istilahnya, mazhab nasional,” tambahnya.

Selain sebelum magrib, Hanafi juga mengisi kajian umum untuk subuh. Di Al Falah memang ada kajian setelah subuh, duhur, dan magrib.

“Di Al Falah juga ada bidang mu’tadin, yang bagian ngurusi mualaf. Ada ustad sendiri untuk mengikrarkan syahadat. Biasanya ada pembinaan di hari Rabu,” pungkasnya.

Azan magrib menggema. Dari arah Raya Darmo, kamu bisa membayangkan brengseknya keriuhan yang terjadi. Tapi, persis di sebelah lampu merah keparat itu, kamu bisa menjumpai oase. Jamaah datang berbondong-bondong.

Senja mulai memudar. Waktunya kumandang azan untuk kemacetan Surabaya dan sekitarnya.


KOMENTAR
Liputan TERKAIT