DNK

Memotret Gegap Gempita Imlek di Masjid Cheng Hoo Surabaya

Memotret Gegap Gempita Imlek di Masjid Cheng Hoo Surabaya

Februari sudah di ujung mata, perayaan tahun baru Imlek kian dekat. Warna merah bertebaran di mana-mana. Meriah. Lampion, angpao, lilin, kue keranjang sampai petasan. Beberapa warga keturunan Tionghoa mengunjungi klenteng, melakukan ritual Kimsin setelah sembahyang.

Rupang (patung) dimandikan. Roh dewa-dewi diyakini pergi ke langit, melaporkan amal perbuatan manusia. Merahnya perayaan Imlek.

Imlek sendiri tidak bisa dilepaskan dari sejarah kebijakan negara pada etnis Tionghoa. Imlek baru bisa dirayakan di depan umum pasca Presiden Abdurrahman Wahid, mencabut Inpres Nomor 14/1967, yang melarang segala hal yang berbau Tionghoa, termasuk Imlek.

Surabaya—sebagai kota dengan banyak kampung pecinan dan etnis Tionghoa—juga ikut dalam semaraknya. Lampion dan Barongsai muncul kembali. Membuat merah Kota Pahlawan jelang hari raya Tionghoa.

Saya pun ingin melihat perayaan imlek dari sisi berbeda. Kalau selama ini Imlek didomasi kabar melulu soal etnis Tionghoa beragama Konghucu, bagaimana perayaan Imlek untuk umat muslim Tionghoa di Surabaya?

Selanjutnya saya berangkat ke salah satu masjid terkenal di Surabaya yang digagas Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, Masjid Muhammad Cheng Hoo namanya. Adzan Asar berkumandang ketika saya tiba.

Tampak bangunan perpaduan dari budaya Arab, Jawa dan Cina dengan dominasi warna merah, kuning dan hijau. Sebuah lapangan futsal dan basket nan luas terletak tepat depan masjid. Menambah rasa digdaya dan kemegahan.

Saya memutuskan salat terlebih dahulu sebelum menuju kantor sekretariat masjid, demi mengobrol lebih jauh soal masjid ikonik ini.  

Di sisi kiri sepanjang jalan menuju masjid, terdapat batu prasasti masjid Muhammad Cheng Hoo yang menjelaskan sejarah tokoh muslim Tionghoa itu. Batu berwarna hitam yang ada juga berisi dukungan dari berbagai organisasi.

Sebut saja Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, MUI, Kapolda Jatim, Konsulat Jendral Republik Rakyat Tiongkok dan Konsulat Jendral Amerika kepada Masjid Muhammad Cheng Ho.

Di samping kanan Masjid ada sebuah relief Muhammad Cheng Hoo bersama armada kapal yang digunakannya mengarungi Samudera Hindia.

Usai salat, saya menemui Hasan Basri (Liem Fuk Shan) Ketua Pelaksana Harian Yayasan Muhammad Cheng Ho. Dan cerita pun bergulir.

“Berdasarkan banyak ahli sejarah, Laksamana Cheng Hoo salah satu muslim Tionghoa yang menyebarkan agama islam. Ia membawa pasukan dengan berbagai macam latar sebagian mengikuti ajaran Islam.

"Ketika datang ke Indonesia ada perang saudara antara Blambangan dan Majapahit, Cheng Hoo pun mendamaikan.” 

“Ia datang dengan misi kemanusiaan, membawa teh, keramik dan obat-obatan,” ujar Hasan. 

Sementara soal isu intoleransi yang semakin berkembang, ditambah lagi sentimen anti Cina, Hasan menanggapi dengan bijak. “Kalau isu sara yang bersifat gonjang-ganjing, bagi saya sih nggak usah direken, yang mana bikin hati sakit.

Sejarah Cheng Hoo sebagai sosok yang menjunjung tinggi kemanusiaan, memuat masjid ini punya banyak aktivitas humanis berbalut religi. Di antaranya yang paling kentara: pengajian dan pembinaan mualaf.

Pembinaan ini, menurut Hasan, yakni pemantapan. Mualaf dibina agar ketauhidannya semakin kuat bukan sekedar taklid atau ikut-ikutan. Tidak ada paksaan di sini. Toleransi dan sikap saling belajar, amat diutamakan.

“Jamaah Masjid Muhammad Cheng Hoo pun juga merayakan Imlek, tradisi sesepuh bagi-bagi angpao itu ada. Tapi kalau untuk pergi ke klenteng, ya ndak, cuma doa dan santunan pada anak yatim rutin kami jalankan.”

“Bagi angpao ‘kan termasuk berbagi kebahagiaan dan bersedekah. Yang penting adalah niatnya, kalau Imlek niatnya menyembah selain Allah, itu tidak dibolehkan.”

Sama ketika kita mengadakan Muharraman, kan tahun baru Islam, sebenarnya tidak dianjurkan rasulullah. Kita melakukan niatnya untuk syiar dan membantu orang yang kesusahan,” imbuhnya.

Dari awal berdiri, Masjid Muhammad Cheng Hoo mewajibkan ketua yayasannya berasal dari Muslim Tionghoa. Ini karena di awal terbentuknya organisasi, diprakarsarai oleh etnis tionghoa muslim.

Saya pun tertarik menggali lebih jauh soal peran muslim tionghoa, terutama di tahun politik ini. Termasuk bertanya komentar soal Basuki Tjahaya Purnama BTP, sosok dari etnis tionghoa yang baru saja bebas.

“Yasasan Masjid Muhammad Cheng Hoo tidak boleh berpolitik. Untuk organisasinya tidak boleh memihak namun bagi pribadinya dipersilahkan,” tegasnya.         

Sementara soal isu intoleransi yang semakin berkembang, ditambah lagi sentimen anti Cina, Hasan menanggapi dengan bijak.

“Kalau isu sara yang bersifat gonjang-ganjing, bagi saya sih nggak usah direken, yang mana bikin hati sakit. Lebih baik saya imbau kepada teman beda pilihan nggak usah diomongin nanti akan gondok-gondokan. Yang rugi siapa kalau berujung hukum, ya yang berdua gondok-gondokan,” ujarnya.

Terkait isu toleransi, Hasan menjelaskan, Masjid Cheng Hoo jarang mendapat protes dari warga sekitar. Mungkin pernah ada sesekali, seperti waktu jamaah solat, ban kendaraan sempat ditendang biar bunyi alarmnya.

Waktu itu pelaku mau digeruduk oleh jamaah, namun Hasan dengan tegas melarangnya. Ia hanya mengatakan, sesama manusia harus saling menjaga toleransi.

Dari perbincangan dengan Hasan, saya mengambil satu pelajaran penting: sesama umat beragama harus saling menghormati, bukan membenci atau menganggu. Perayaan hari raya  agama, khususnya imlek, nyatanya bisa menambah keberagaman dan momen untuk berbagai.


KOMENTAR
Liputan TERKAIT