Perkara bagaimana cara sebuah band dinikmati, diam-diam saya selalu mengelompokkan ke dalam dua golongan. Yang pertama, golongan band yang cukup didengarkan dan yang kedua harus ditonton pertunjukkannya secara langsung.

Ada pertimbangan panjang tentang hal itu. Selain dari sikap politis musisi tersebut, aksi panggung menjadi pertimbangan lain. Band dengan materi musik dan penampilan yang menyebalkan, ada. Namun, lebih terhormat band dengan rekaman biasa tapi penampilannya mempesona.

Celakanya, Dandelions adalah golongan kedua. Saya tidak pernah benar-benar terpesona oleh materi musik mereka. Tapi, soal aksi panggung, jangan ditanya.

Saya adalah garda depan barisan sekte pemuja mereka. Dandelions tak pernah ragu dalam memamerkan aksi. Pakaiannya sedikit lusuh. Bandana bermotif bunga terikat di kepala. Kancing atas baju mereka dibiarkan terbuka, seraya celana jeans komprang belel menjuntai ke tanah.

Saya tidak pernah benar-benar terpesona oleh materi Dandelions. Tapi, soal aksi panggung, jangan ditanya.

 

Jet –komandan pemimpin repetoar– kerap tampil ala Mick Jagger. Asap-asap mengepul di sela mulutnya sebelum mulai berpacu dengan nomor-nomor enerjik di atas panggung. Perkara musikalitas, Dandelions dekat sekali dengan blues-roll medio 1960-an.

Ada sentuhan The Rolling Stones, The Who, hingga Slank dalam musik mereka.

Cerita pembentukan Dandelions berawal dari kegemaran Jet merekam inspirasi liar di otaknya. Gayung pun bersambut ketika menemukan rekan yang bisa mewujudkan secuil fantasinya.

“Jauh sebelum membentuk Dandelions, saya sudah mengumpulkan materi lagu-lagu dan membayangkan punya band kayak The Rolling Stones. Terwujudlah impian itu ketika bertemu Adiee. Kami memutuskan untuk membentuk band yang bernama Dandelions. Sayang, dia keluar sebelum punya album”, ungkap Jet.

Kemudian, sosok Bayu dan Rafzan bergabung untuk memenuhi formasi yang ada. Menurut penuturan Bayu, masuknya dirinya dan Rafzan mengingatkan pada prosesi kelahiran Guns N’ Roses di era awal sebelum album terbaik sepanjang masa lahir: Appetite for Destruction!

“Waktu itu Dandelions lagi cari gitaris sama drummer. Nah, di situ saya melihat kesempatan dan mengajak Rafzan bergabung ke band. Hampir sama kaya Slash dan Steven Adler waktu Axl dan Izzy lagi cari personel”, kata Bayu.

Dandelions adalah bunga liar kuning yang merupakan patron dari kaum hippies.

Yang menarik, selain piawai mengokupasi panggung, Dandelions memiliki sikap politis. Beberapa kali mereka turun ke jalan dan ambil bagian saat terjadi aksi massa. Misalnya dalam nomor Kolonialis Bos. Secara revolusif, mereka meruntuhkan perspektif bahwa tidak selamanya generasi bunga adalah sex, drugs, dan rock and roll saja.

Mereka meludahi jargon lawasan dan menolak bahwa musik hanya perayaan bentuk yang selebratis. Dandelions berkonsolidasi dengan ribuan buruh dan mengajak mereka menjadi partisipan dalam video klip.

Soal pemilihan nama Dandelions, mereka bukan tipikal band yang ahistoris, yang memilih nama hanya untuk kepentingan keren-kerenan. Dandelions adalah bunga liar kuning yang merupakan patron dari kaum hippies.

Bunga tersebut dipilih sebagai metaphor bahwa band tersebut menolak sistem pemerintahan yang dugal,  korup, dan mengedepankan revolusi yang dilakukan bersama-sama.

Hal itu sesuai dengan spirit 90-an yang mayoritas pemudanya hanya berkutat pada satu mimpi: meruntuhkan rezim tiran bernama Orde Baru.

Dandelions adalah montase dari memori tentang musik medio 1960-an yang dikemas dengan semangat perubahan hari ini. Sebuah oase di padang tandus gelanggang musik Kota Pahlawan yang cenderung seragam.

Mereka meruntuhkan rambu-rambu sikap estetik dalam bermusik. Meruntuhkan bahwa rock and roll bukan hanya perkara senang-senang saja!