Momentum liputan unfaedah yang harus saya alami dengan melata bak siput di sepanjang Waru–Buduran, melahirkan butiran-butiran pertanyaan yang terus membayang di atas kepala. Sekaligus, liputan ini adalah jawaban atas jauhnya dikotomi antara Surabaya dan Sidoarjo.

Berawal dari hal yang paling mendasar, yakni akses saja sudah kelewat jauh. Saya tidak bisa membayangkan migrasi dari 156.893 buruh pabrik, yang mayoritas dari Sidoarjo ini harus berjibaku dengan asap knalpot, di tengah panas kentang-kentang.

Kira-kira, apa masalah yang menjadi akar dari keruwetan yang terjadi saban hari ini? Apakah tentang dana? Atau adakah proyeksi infrastruktur menjanjikan yang akan—setidaknya—menghadirkan sedikit mimpi bagi warga Sidoarjo untuk menikmati jalanan yang oblang-oblang.

Beberapa bagian dinas terkait masalah ini pun beberapa angkat tangan dan saling tuding. Namun untung aku arek’e menter, jadi Saya mengubernya sambil ngiler-ngiler.

Akhirnya, untung saja Sigit Setyawan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang menjabarkan, “Kemacetan yang sering terjadi setiap hari itu karena volume lalu lintas yang tinggi. Sedangkan, kapasitas jalan terbatas. Serta Fungsi lahan di sekitar jalan tersebut, sedang gencar ada industri, perumahan, perdagangan jasa yang tarikan lalu lintasnya juga cukup tinggi pula,” katanya.

 “Di samping itu, sepanjang Waru–Buduran banyak perlintasan kereta api. Hal itu juga mempengaruhi arus lalu lintas, karena harus berkompromi dengan palang yang harus buka-tutup demi keamanan,” imbuhnya.

Tapi masalah tentang kemacetan di sepanjang Waru–Buduran tidak hanya terjadi belakangan ini saja. Pemerintah juga tidak ambil keputusan apapun. 

“Tapi pemerintah juga tidak tinggal diam. Upaya sudah ada dan akan dilakukan Pemkab Sidoarjo mewujudkan frontage road Waru-Buduran. Panjang Frontage Road adalah 9.200 Meter pada tahun 2013. Hingga 2017 lalu, kini sudah terbangun 3 kilometer. Jadi sekarang panjangnya 12,2 KM. Itu semua adalah lahan hibah dari perusahaan yang berkolasi dekat frontage road,” imbuhnya.

Untuk membuat frontage road sepanjang 3 Km saja, membutuhkan waktu hampir setengah dekade bagi Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Jika dilihat secara historis, jelas ini adalah kemunduran. Berkaca pada Candi Prambanan yang hanya dikerjakan semalam saja. Bandung Bondowoso dan seribu candinya. Ini hanya 3KM saja untk 5 tahun. Kesuen, Cak!

Harapan masih belum begitu terang bagi arek Darjo. Sedangkan Surabaya sudah melesat lebih jauh, dengan jalanan lapang dari Waru hingga Ahmad Yani.

Maka tak heran, jika arena frontage road Waru hingga Ahmad Yani menjadi bak Sirkuit Sentul. Semua kendaraan menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Serupa napi yang baru saja satu langkah keluar dari Medaeng.

Sidoarjo adalah neraka bagi para pengendara. Sedangkan frontage road Surabaya, adalah surga. Paling tidak untuk satu dekade ke depan. Sebelum jalanan mulai berkelindaan kendaaraan yang berjubal tak karuan.