Ada kalanya mengurai benang kusut akan lebih mudah daripada memaklumi segala keruwetan Kota Surabaya. Kemacetan di sudut jalan manapun dan birokrasi tetek bengek yang ruwet merupakan akar dari depresi dini yang banyak menerpa remaja Kota Pahlawan.

Celakanya, saya adalah salah satunya.

Tatkala hidup tak pernah lebih daripada hanya menunda kekalahan, jalan pintas eskapik kerap saya tempuh. Setidaknya, hal itu membuat sedikit lupa tentang masalah yang mendera saya. Tekek Sobo Laut! Gelas didekek ndang disaut! Biasa diucapkan kawan-kawan dugal saya saat alkohol mulai mengenang tipis di Aqua gelas bekas takjil tadi sore.

Waktu mencair seiring congor kami mulai cekakan sampai pagi.

Alkohol dan pertemanan menyimpan banyak memori di sekitar gelas-gelas kosong yang kami tenggak habis hingga lupa diri. Tapi, akhir-akhir ini mencari alkohol bukan perkara mudah. Kios yang biasa menjadi langganan kami ludes tidak bersisa. Mulai perempatan Manyar hingga kakak beradik Sa Mo Hung —begitu kita menyebutnya— tutup.

Gerai alkohol di Jembatan Kalisumo stoknya sering kosong. Sedangkan Toko 32, gerai alkohol paling lengkap yang dijaga sepasang engkong-nenek, tidak berani mengeluarkan stok.

”Setelah banyak olang yang mati ndek dalan, kami ndak belani buka. Stok e seh banyak. Nanti ae lho, abis Lebalan,” kata Ai —begitu kami menyapanya— dengan aksen khas keturunan Tionghoa yang kepelat-pelatan.

Kami kerap depresi. Sebagai kaum mursal, tutupnya kedai-kedai alkohol merupakan duka yang mendalam. Setelah pintu hati areknya tertutup rapat, akankah satu-satunya pintu yang akan menghantar kami menuju neraka tertutup juga?

Ini adalah siksaan dunia bagi saya! Tapi, Tuhan selalu berpihak kepada orang-orang nekat. Pembaharuan, konon, akan lahir dari buah pemikiran orang-orang mursal. Kalau tidak, gak mungkin Fadli Zon berada di Senayan. *uhuk*

Serupa agen investigasi, kami menggali informasi dari satu tongkrongan pemabuk ke tongkrongan lain. Saya merasa bak Danny, seorang tokoh yang dibangun John Steinbeck dalam buku Dataran Tortilla.

Ini merupakan “jihad” untuk menyelamatkan teman-teman saya yang ilatnya mulai kecut. Beruntung, ada seorang kawan yang menginfokan bahwa Cak Ilod masih buka.

Saat berada di nadi bekas prostitusi terbesar se-Asia Tenggara itu, pendar lampu Cak Ilod berpendar-pendar dari kejauhan. Botol-botol Aqua besar berjajar di atas. Namun, saya hampir putus asa karena tidak ada warna hijau-hijau di etalase.

Tapi nekat aja, saya mendekat. ”Vodka 2, Amer 2, Bir 3,” kata kawan saya sambil setengah berbisik kepada Cak Ilod.

Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia kembali berbisik kepada orang bertopi yang mangkak di sampingnya. Lamat-lamat ia hanya perlu memuntahkan satu kata. ”Jupukno,” bisik Cak Ilod kepada kawannya.

Ia pun menepuk pundak kami dan memberi intruksi. ”Ngarep konter pulsa, 5 menit,” ujarnya tanpa basa-basi.

Selama di depan konter, saya sedikit ketar-ketir. Kami mengawasi salah satu pegawai Cak Ilod yang memberikan aba-aba lewat jemarinya kepada saya. Kami pun tidak paham. Tapi lama-lama menjadi sedikit mengerti karena sering. Selalu begitu, diulang-ulang.

Ini mirip di film-film mandarin. Di mana seorang cukong bertingkah dingin dan melakukan segala transaksi dengan rapi.

Kami pun berjalan di depan gerai pulsa yang jaraknya tidak lebih dari 10 meter di depan kios Cak Ilod.

Tidak lama berselang, seorang dengan tas selempang besar memberikan kresek hitam besar tanpa berkata apapun. Sebelum kami membuka kresek itu, ia menitipkan kata. ”Wis tah, mosok aku mbujuki? Ndang budal. Jam 8 operasi”.

Saya melirik jam tangan. Rupanya, waktu sudah menginjak pukul 19:50. Sepuluh menit lagi! Waktu kami tingal 10 menit lagi! Saya langsung tancap gas. Gerai Cak Ilod pun ikut mengecil seiring jarak kami yang semakin menjauh.

Malam itu, teman-teman kembali duduk melingkar. Botol-botol gepeng mulai dituangkan pada gelas Aqua bekas takjil semalam. Malam kembali mengutuk kami hingga lupa diri. Dan esok, roda-roda industri sudah siap menggilas kami lagi.