Saat melakukan transaksi kulak minuman, ada sensasi tersendiri ketika harus sembunyi-sembunyi dan bermain serapi mungkin. Di satu sisi memang sedikit ndredeg, tapi di sisi lain saya kok merasa seperti mafia besar di film The Godfather, yang melakukan segala transaksi seelegan mungkin. Besok-besok mungkin saya coba memakai setelan jas agar lebih menjiwai. Tidak lupa korek berbentuk pistol agar lebih gereget.

Sepertinya, Cak Ilod dan anak buahnya dulu tergabung dalam gugusan Pramuka. Mereka paham betul sandi-sandi. Jika sandi itu terpecahkan pihak polisi, mungkin mereka akan menggantinya dengan kode dari tali temali. Atau sandi morse. Pokoknya, berikut adalah kode-kode transaksi Cak Ilod, king alcohol from Dolly City!

Kepalan Tangan: Dua tangan dengan posisi sendakep serta jari-jari dikepalkan merupakan tanda bahwa situasi sedang tidak aman. Ada intel bahkan SP yang tengah mengawasi. Jika anak buah Cak Ilod mengisyaratkan ini, baiknya kalian harus macak tuku paketan atau sego bebek hingga kondisi membaik.

Lima Jari Kanan: Sendakep rupanya adalah identitas bahwa mereka anggota Anti Cak Illod Cak Illod Club. Itu artinya tahan sebentar. Hal tersebut adalah suatu proses sebelum setelah tangan mengepal yang mengisyaratkan kondisi sedikit membaik, tapi mereka butuh memastikan terlebih dahulu.

Jempol ’Sip’: Tanda ajakan untuk mulai merapat. Kodenya adalah”Onok Aqua” sebelum melanjutkan dengan menu lain. Setelah bertransaksi, kita diwajibkan menunggu di depan gang seberang kantor Cak Ilod Syndicate.

Jari 86: Menunjukkan bahwa penantian telah usai. Tiket neraka cair di dalam botol-botol beling sedang menuju Anda. Jika demikian, saya sarankan segera nyalakan motor karena ini akan berlangsung sangat cepat. Tidak mungkin berlarat-larat seperti kamu berusaha melupakan segala kenangan tentang areknya. Nangisnya ditunda dulu. Biasanya, malikat juru selamat akan muncul dari samping gang. Orangnya pun berbeda-beda. Dan pastikan untuk siap tancap gas.

Berikut adalah tips and trik unfaedah bagi kalian para ahli nereka. Tapi, bagaimanapun, saya masih percaya pada pepatah: ”Kita belum menjadi saudara jika belum pernah menghabiskan malam dengan botol yang sama.”