Entah mimpi apa saya semalam. Penugasan liputan dari redaktur kali ini benar-benar memberikan kenikmatan yang haqiqi. Tugasnya memang sederhana: menemukan kuliner tersembunyi. Tapi, jenis makanannya alamak lezat sekali.

Rasanya, baru kali ini saya benar-benar menikmati setiap proses liputan dengan nyaman onggu!

Jika kamu adalah penikmat kuliner yang mempertimbangkan rasa dan pengalaman spiritual bertemu di atas meja, sate babi di tengah perkampungan Arab di Surabaya bagian utara ini bisa dipertimbangkan.

Bukan hanya kenikmatan satenya yang terasa begitu dekat dengan surga, tapi juga lokasinya yang berada di persimpangan peradaban kampung Arab dan pecinan.

Selepas menunaikan salat Jumat, matahari tengah terik-teriknya membakar Jalan Kalimati Wetan. Dari jalan yang sudah masuk wilayah Surabaya Utara itulah kita harus menemukan lokasi depot. Dari Jalan Kalimati Wetan, kita bergerak menuju Pasar Pabean.

Nah, gang rumah makan itu berada di seberang mulut Pasar Pabean. Tepatnya gang kecil Gili II. Gang tersebut nyempil di antara kepungan gedung-gedung tinggi di kiri dan kanannya. Untuk menuju Rempah Kitchen, nama rumah makan tersebut, kendaraan harus diparkir di mulut gang dan berjalan kaki kira-kira 200 meter.

Tak perlu khawatir. Usaha tak pernah mengkhianati hasil. Setelah jalan kaki, kenikmatan daging babi dalam potongan dadu yang dibakar arang membara bakal membuat kita lupa susahnya mencari lokasi tersebut.

Rumah makan itu tampak sederhana. Tanpa ada plakat atau banner besar. Dapat dikatakan, Rempah Kitchen cuma usaha kapiran. Jika tidak kenal, kehadiran mereka juga tidak akan dikenal.

Untuk menikmati kudapan itu, kita harus mengirim pesan di nomor Nyonya Indrawati, pemilik Rempah Kitchen, terlebih dulu. Hanya ada penunjuk panggangan sate di beranda rumah bernomor 12 tersebut. Pintu rumah pun jarang terbuka, justru tertutup rapat jika tidak ada tamu.

Saya mengirim pesan singkat untuk memesan satu porsi sate babi dan babi kecap siang itu. Ketika pintu terbuka, di meja makan keluarga, pesanan saya sudah siap. Karena perut ini terlanjur lapar, langsung saja mulut crongoan saya menyantap daging babi yang tampak menggiurkan.

Kecap yang menetes di tengah kilapan daging berwarna kecokelatan itu langsung lumer sejak gigitan pertama. Jika menyantap babi adalah dosa, karena ini tugas liputan, biar redaktur saya saja yang menanggungnya.

Sepanjang gang Gili memang memiliki tradisi unik. Di sini, mayoritas pedagang rumahan tidak mendirikan plang di depan rumah.

Kondisi rumah yang sumuk membuat saya gerah dan membawa makanan ini ke luar. Saya menikmatinya di beranda depan. Sekitar 300 meter dari sini ada masjid.

Saat sedang makan, orang-orang berpakaian serbaputih serta memakai peci berlalu-lalang untuk beranjak salat Ashar. Saya tampak kafir benar. Tapi tak apa, selama saya duduk di sini, dosa ditanggung redaktur.

Jalan Gili berada di antara muara kampung Arab dan pecinan. Sepanjang gang Gili memang memiliki tradisi unik. Di sini, mayoritas pedagang rumahan tidak mendirikan plang di depan rumah.

Saat saya tanya ke Tante Iin, sapaan akrab Nyonya Indrawati, ia hanya menjawab ringan. ”Lho memang sudah dari dulu seperti itu, biar gak ada persaingan. Makanya warga di sini adem ayem,” celetuknya seraya mengurap daging babi dengan rempah.

Babi-babi lucu di atas piring sudah bersemayam dengan damai di dalam perut

Menikmati kudapan di Rempah Kitchen bukan hanya perkara rasa. Kebersahajaan antara masyarakat dan toleransi tampak berkelabatan di depan mata. Saya senyum-senyum sendiri seraya mulut ini terus mengunyah.

Ketika kota lain sibuk gontok-gontokan tentang Tuhan siapa yang paling benar, Surabaya tetap adem ayem tentrem. Setidaknya pada sore itu. Tidak tahu hari lain.

Karena hati ini tengah berbunga-bunga, resep rahasia milik Tante Iin dan keluarga akan saya ungkap segera. Tidak terasa, matahari mulai tergelincir dari arah barat. Hari mulai petang.

Babi-babi lucu di atas piring sudah bersemayam dengan damai di dalam perut dan menyumbat pembulu darah ini lewat kolesterol. Oke, asam urat saya mulai kambuh. Sekian.