Setelah melewati separo dekade, Cotswolds, kuartet post-punk/soaked pop, membayar lunas penantian panjang serta ekspektasi para pendengarnya lewat album bertajuk Tadius. Dengan dibidani Hema Records –label independen asal Solo– cakram padat debut tersebut diluncurkan tepat satu hari menjelang 2017.

Tanggal 31 Desember 2017 menjadi penanda bahwa Cotswolds siap kembali tampil di gelanggang. Sebelumnya, lahirnya Tadius, dua bagian dari montase perjalanan panjang mereka, terdengar cukup menjanjikan. Ekspektasi bertebaran. Rilisnya pun di momen yang tepat.

Ketika post-punk dan shoegaze merekah, semakin banyak sampah yang berceceran. Cotswolds hadir dan menjadi oase di tengah padang tandus skena musik alternatif yang cenderung mandek dan homogen.

I Can’t Make You Feel Better membuka album Tadius. White noise menyeruak perlahan. Atmosfer murung tercipta di ruang-ruang senyap riff gitar minimalis yang sepertinya sengaja mereka ciptakan.

Jauh di tengah lagu, samar-samar suara vokal hadir dengan lirik yang liris. Meski dilafadkan secara datar dan repetitif, hal itu justru menambah kelam nomor tersebut.

Cotswold memiliki keseimbangan antara artistik dan musik.

Untuk segi musikalitas, di antara sekian banyak band shoegaze serta post-punk kacangan, Cotswolds termasuk salah satu yang berhasil. Artistik dan musik sering menjadi jebakan tiap musisi. Ada yang musiknya bagus, tapi merosot pada tatanan lirik dan artistik panggung. Begitu juga sebaliknya.

Berbeda halnya dengan Cotswold. Bukannya ngecap, tapi mereka memang memiliki keseimbangan antara artistik dan musik. Perhatikan lirik yang ditulis Tedi, sang vokalis.

Kedekatan personal antara lirik, depresi, dan hari-hari gelap yang dihadapi banyak remaja seusianya cukup kentara.

Masalah psikis seperti anxiety dan keputusasaan terasa hidup dalam lirik Cotswolds. Kata-kata mereka lebih bernyawa ketika disatukan dengan musik yang murung dan emosional meski cenderung repetitif. Sebab, jika didengarkan secara seksama, ada beberapa part gitar yang sama di lagu yang berbeda.

Spectrum in Our Time, single awal mereka sebelum Tadius tiba, memang tepat dipilih sebagai penanda. Pasalnya, nomor itu paling representatif. Benang merah sebenarnya dapat ditebak lagu ini: jangan harapkan post-punk umum layaknya Joy Division.

Cotswolds telah melewati fase tersebut pada EP Pertama. Pada album ini, mereka lebih dekat dengan soaked-pop seperti DIIV. Tetapi tetap tidak mengingkari post-punk. Saya mendengar napas Rules of Third, Sect, hingga Spectres di sana. Sentuhan shoegaze pun kerap muncul di album tersebut.

Tadius adalah album monumental serta patron dalam perjalanan panjang skena musik di Surabaya. 

Namun, ada yang ganjil dari album ini. Saya mendengar audio rekaman yang berbeda di nomor Fire. Apakah ini dicomot langsung dari EP tanpa direkam ulang? Saya tidak tahu. Entah telinga saya yang salah atau mereka secara cuma memasukkan lagu tanpa dipertimbangkan.

Oke lah jika harus mendengarnya di akhir album. Anggapan saya, mungkin ini adalah bonus track. Tapi kalau di tengah, saya rasa justru mengacaukan mood Tadius. Namun, apapun itu, Marra –nomor favorit saya– menutup album tersebut dengan paripurna sebelum disambut nomor terakhir Realm Of My Mind yang menjadi ladang eksperimen mereka.

Tadius adalah album monumental serta patron dalam perjalanan panjang skena musik di Surabaya. Sedangkan Cotswolds, salah satu band yang paling bernapas, patut ditunggu karya-karya anyarnya. Oke, kalimat terakhir memang cukup basi. Saya sendiri juga mau muntah kok nulisnya.

Yang paling penting, Cotswolds adalah salah satu album terbaik yang sudah saya simpan untuk kembali ditulis pada akhir tahun nanti.