DNK

Dari Perdana Record Surabaya, Tahta Dangdut Koplo Bermula

Dari Perdana Record Surabaya, Tahta Dangdut Koplo Bermula

Layar gelap itu berganti seketika saat kaset dimasukkan ke DVD Player. Perjalanan baru saja dimulai. Saya baru saja pasang headset dan puluhan playlist sebagai teman sampai ke tujuan. Tapi si kenek—yang saat ini memencet tombol volume—seolah bersiap menganggu lagu yang saya putar di gawai.

“Brengsek, dangdutan iki mariki!” ujar teman seperjalanan saya. Headset dilepas. “Cepoten headsetmu! Percuma, nggak bakal kerungu!”

Benar saja. Logo opening itu. Suara dang-dung-dang-dung itu. Gendang memantul keras seperti akan menjebol dinding bus Surabaya – Probolinggo yang saya tumpangi. Saya hanya bisa terpejam.

“Perdana Record.. Suroboyo!” teriak MC dangdut yang diiringi intro gendang, melepas penampilan sang biduan idola, Nella Kharisma—yang juga ikut berteriak. Goyangan dimulai. Headset tak akan pernah berfungsi dalam situasi seperti ini.

“Turu ae wes bro,” ujar saya lirih. Teman saya terkekeh.

Tapi tidak bisa. Kependem Tresno, goyangan centil Nella, suara gendang yang menggelegar. Bajingan, saya bisa melek sampai tujuan kalau begini.

“Lagistaaa! Perdana Record Surabayaa!”

Teriakkan kembali terulang. Mantap.

***

Dangdut dan bus pariwisata sepertinya sudah jadi saudara. Hampir tak ada bus, terutama di area Jawa Timuran, yang tak memutar DVD dangdut sebagai teman sopir kebut-kebutan. Koplo adalah kunci. Dengan birama 4/4—berbeda dengan dangdut konvensional yang hanya 3/4—koplo bisa lebih memompa libido, meninggikan gairah.

Jangan harap bisa tidur. Jangan harap bisa tidur saat teriakkan Perdana Record Suroboyo menggema. Jangan harap bisa tidur.. kalau ada Nella Kharisma. Saya dan mungkin kamu semua yang pernah mengklaim sebagai jamaah thrash, punk, hardcore, grindcore, lamat-lamat pasti hanyut juga.

Kalau Cak Sodik adalah Raja Pantura—Rhoma Irama tak berkuasa di sini—maka Perdana Record Surabaya, mungkin bisa disebut holy place-nya. Asal muasal penyanyi dangdut ternama. Tempat di mana para biduan ditempa, diasah sampai mengkilat di studionya, kemudian dibombardir ke segala penjuru.

Dan Ditinggal Rabi-nya Nella Kharisma yang terputar di bus waktu itulah yang membawa saya nekat sowan ke kantor Perdana Record Surabaya, Jl. Ploso Timur Tambaksari Surabaya. Kalau bertujuan menemui Nella terlalu muluk-muluk, maka berbincang dengan awaknya pun saya sudah bangga.

Kantor Perdana Record tak ada bedanya dengan rumah-rumah mewah yang ada di kompleks Ploso Timur. Perdana Record berkantor di dua rumah yang berdempetan—dengan salah satunya sangat mewah seperti rumah di kerajaan Romawi Kuno.

Orang yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Wisnu Murti, editor video Perdana Record, menemui saya dengan seragam hitam-hitam. Menurutnya, bekerja di Perdana Record memang punya seragam khas seperti ini.

Waktu masih menunjukkan pukul tiga sore. Duduk di bangku kayu ruang tunggu, Wisnu memulai ceritanya.

“Aku kerja dari jam delapan sampai jam empat,” ujarnya. “Tapi kita sih kadang sampai lembur gitu. Tugasnya nge-shoot artis sama ngeditin. Kalau ngambil gambarnya sih, biasanya di taman-taman deket sini aja. Itu untuk video clip,” ujar Wisnu mengawali.

Berhadapan dengan sosok yang bertanggungjawab atas puluhan video Perdana Record—yang sering diputar di bus dan mengganggu tidur saya—jujur tak membuat saya kesal. Wisnu masih muda, 26 tahun. Tapi dia sudah bisa membuat karya yang punya efek bagi banyak orang.

Bagi saya, tentu efeknya agak menyebalkan kalau diingat-ingat. Tapi bagi sopir bus, truk, maniak Dangdut Pantura, die hard fans koplo, tentu efeknya tak main-main: perasaan wah yang meluap, libido naik, adrenalin terpompa. Intinya, efek koplo yang diedit Wisnu berujung kebahagiaan bagi sesama.

Perdana Records terbentuk pada 1989. Saat itu dunia memang sedang bersiap menyambut britpop dan grunge—sound baru dari Seattle. Tapi Perdana Record dengan berani meneruskan nyala koplo. Dan saat ini, saat rock sudah mati, koplo seolah masih tampak abadi.

“Semua yang dipajang di tembok ini, pernah rekaman di sini,” ujar Wisnu sambil mengarahkan jarinya ke atas. Saya memelototi pajangan yang dimaksud Wisnu: sebuah pigora berisi VCD album dan foto artis bersama petinggi Perdana.

Tak main-main kalau disebutkan. Level yang tak hanya akar rumput, tapi juga legenda.

Dimulai dari Rita Sugiarto, Noer Halimah, Ikke Nurjanah, Evitamala, Mansyur S, Johnny Iskandar, Yus Yunus, Caca Handika, Nella Kharisma, Ega DA 2, sampai Via Vallen, semuanya pernah menjajal rekaman di sini.

Semua dipajang dan dipigora dengan penuh kebanggaan. Mengigatkan saya pada studio legendaris Sound City di Los Angeles sana. Bedanya, ini versi koplonya.

“Untuk artis yang pengen rekaman di sini sih, syaratnya sebenarnya harus orkesnya yang bawa. Jadi misal aku punya artis yang potensial gitu, cara masukinnya itu tinggal lobby orkes yang mau gandeng. Nanti kami lihat, artis yang punya potensi, punya passion, kami terima,” ujar Wisnu membagikan trik.

“Orkesnya sih nggak harus gede kayak Palapa gitu. Biasanya juga dari bawah. Lihat artisnya juga, pinter nggak, lagi rame nggak. Contohnya kayak Jihan (Audy) yang kemarin itu.”

Wisnu yang baru bekerja di Perdana pada 2012 lalu, seolah sudah biasa dengan para artis dangdut yang kamu puja di panggung-panggung orkes. Kata Wisnu, kantor Perdana memang sering didatangi artis kalau kebetulan sedang live di Surabaya.

“Kadang kalau lagi live, biasanya aku yang ikut buat ngeshoot. Itu fans-fans-nya di luar biasanya sampai (ramai) kayak gitu. Padahal yo biasa ae sebenarnya,” ujar Wisnu dengan mimik muka biasa saja. Seolah keglamoran dangdut sudah jadi makanan sehari-hari.

Fans yang dimaksud Wisnu bisa beragam. Dari berbagai kalangan. Tapi yang paling sensasional tentu adalah Pasukan Goyang—sekelompok orang laki-laki perempuan dengan pakaian yang sama, yang berjoget dengan gaya yang sama, dan hampir selalu ada di video Perdana Record.

“Itu Pasukan Goyang sebenarnya dari fans. Dikumpulin, terus di-shoot, jadinya oke, ya udah diterusin,” ujar Wisnu. Dalam otak saya saat ini terbayang tingkah para Pasukan Goyang ini. Bertubuh luwes, dengan gerakan yang kadang absurd dan agak menggelikan, tapi sangat asoy geboy mengikuti irama.

Menjadi seorang editor yang membidani video Perdana, berarti juga ikut bertanggung jawab atas video yang diunggah di YouTube. Dalam hal ini, kamu sebagai fans dangdut mungkin akan menemukan banyak video yang diunggah banyak akun.

Tapi, yang resmi dan official ada dengan nama PT. Musik Perdana Kreativa—nama perusahaan Perdana Record.

“Kalau ada yang bajak tanpa izin, kita punya alat buat nge-track. Jadi kita bisa tahu. Alatnya bisa ngehapus video bajakan itu sendiri. Kalau nggak mau dihapus, ya kita kirim somasi,” ujar Wisnu.

***

Sebagian orang percaya, istilah koplo pertama kali lahir di lokalisasi Jarak, Surabaya, kisaran akhir 80-an—bebarengan dengan tren menjamurnya pil koplo. Lagu dangdut yang dihasilkan, cenderung rancak. Punya potensi memabukkan seperti pil koplo.

Tak semua orang memang menyukai musik jenis ini. Bahkan Wisnu, yang sudah sekitar tujuh tahun bekerja di Perdana, mengaku awalnya tak suka dangdut.

“Pertama kali ke sini, pusing dengerin dangdut setiap hari. Tapi lha wong namanya kerja.  Akhirnya lama-lama ‘kan terbiasa,” ujarnya terkekeh.

Secara jujur, Wisnu mengaku dulunya punya selera sama seperti anak muda lain. Cenderung rock, cadas, keras. Tapi bekerja di Perdana mengubah semuanya.

“Dulu aku sukanya hardcore. Kayak Devadata sama Fraud, gitu. Sekarang sih masih aktif dengerin Asking (Alexandria). Yo ngimbangi lah. Yo dangdut, yo metal,” katanya sambil terbahak.

“Pernah nggak mas di kantor muter Metallica gitu?” tanya saya iseng.

“Ya pernah, mas.”

“Nggak dimarahin?”

“‘Kan pakai headset,” jawab Wisnu lalu kami pun terbahak-bahak.

“Kita tuh nggak bisa memungkiri, ya. Telinganya orang Melayu tuh emang suka lagu dangdut dari sononya karena identik denga kita. Namanya aja musik lokal Indonesia. Mau dangdut lama, dangdut koplo, dangdut pop, itu tetap musik Melayu,”  ujar Wisnu.

“Jadi ya, meskipun orang itu suka metal, tapi pasti nikahannya diputar lagu dangdut.”


KOMENTAR
Liputan TERKAIT