DNK

Jurnalrisa: Channel Horor Medeni yang Malah Membuat Anak Cemen Tak Lagi Takut Hantu

Jurnalrisa: Channel Horor Medeni yang Malah Membuat Anak Cemen Tak Lagi Takut Hantu

Hidup di lingkungan yang percaya hal gaib bagi saya yang punya kecenderungan cemen kadang bisa jadi musibah. Di saat pergaulanmu sangat suka apapun tentang hantu, kamu akan menolaknya sekuat tenaga.

Dan mungkin kalau temanmu bebal, kamu akan digoda-goda, ditakut-takuti, untuk semakin menunjukkan kalau perkara takut hantu hanya pantas diidap anak lima tahun atau orang bermental payah.

Jancok ancene arek-arek. Lagian apa sih menariknya hantu? Wes peteng, medeni, tapi sek digoleki lho..

Tapi seram bagi saya, belum tentu seram bagi Sarah Zaskiani, 20 tahun. Saya mengenalnya baru-baru ini saja, perkaranya simple: saya ingin tahu lebih dalam bagaimana hal-hal mistis bisa menghasilkan fanbase macam sekte, dan itu dimulai dari satu kecintaan pada akun YouTube misteri.

Dimulai dari Risa Saraswati dengan channel horror Jurnalrisa, segalanya bermula. Sarah dan teman-temannya, membentuk Sarasvamily Surabaya—sebuah perkumpulan yang dengan kesadaran penuh, mendukung semua aktivitas Risa Saraswati, termasuk akun YouTube horornya.

Risa Saraswati dalam teaser Jurnalrisa—entah kapan video itu diunggah, nyatanya sampai detik ini saya hanya berani melihat itu dari semua video yang diunggah—Risa mengaku sebagai penulis, musisi, Pegawai Negeri Sipil, dan pemburu hantu asal Bandung.

Aktivitasnya sebagai penulis mudah dijumpai dalam berbagai karya fiksi misterinya yang beberapa kali sempat dibukukan. Di antaranya, Danur dan Maddah. Aktivitas musik Risa, bagi kamu yang indie banget, mungkin pernah mendengar Homogenic. Risa adalah mantan personelnya yang saat ini punya band baru bernama Sarasvati.

Tapi kecintaan Sarah dan teman-temannya pada Risa, sepertinya dipicu passion Risa pada horor, di mana dia berhasil meletakkan hal yang tampak menyeramkan, ke dalam perspektif yang berbeda.

“Mungkin karena banyak yang suka dengan konten beliau yang horror, namun isinya mengajarkan kita untuk tidak takut akan hantu yang biasa Risa sebut ‘mereka’. Terbukti  dengan adanya channel YouTube Jurnalrisa ini, para penontonnya mendapatkan manfaaf itu tadi. Mereka pada nggak takut lagi,” ujar Sarah yang saat ini menjadi Ketua Sarasvamily Surabaya.

Pernyataan Sarah membuat saya tergiur dan ingin menonton Jurnalrisa. Tapi maaf, mungkin lain kali saja. Pernyataanmu masih belum begitu memukau, Sar. Saya toh bagaimanapun juga akan tetap takut pada hantu.

“Banyak fans yang nonton video Jurnalrisa di Youtube jadi nggak takut lagi karena yang ditampilkan Jurnalrisa adalah fakta-fakta yang orang umum tidak ketahui dari hantu. Hantu memang selalu berkesan menakutkan dan bisa membahayakan hidup kita atau menyakiti seseorang.

“Tapi pada kenyataannya, mereka punya pengalaman hidup yang bisa kita buat pembelajaran dan Risa selalu memberi tahu bahwa derajat manusia lebih tinggi dari hantu. Juga fakta bahwasannya hantu tidak bisa menyakiti kita secara fisik, begitupun sebaliknya,” ujar Sarah.

Rasa penasaran saya selanjutnya berganti rasa iba pada diri saya sendiri. Andaikata saya bisa mendapat pencerahan dan perspektif baru soal hantu sejak lama dari video Jurnalrisa, mungkin saya tak akan kerepotan cari alasan saat gebetan minta ditemani nonton Insidious, misalnya.

Saya tak perlu memakai beanie atau merem-merem nggilani demi menutup mata saat setan sialan itu tampak di layar.

“Penonton tidak takut juga karena mungkin Risa selalu menceritakan hantunya dari pengalaman atau sejarah hidupnya. Ini supaya dapat kita pelajari untuk bisa lebih baik lagi. Jangan sampai berakhir seperti mereka,” tambah Sarah.

Masyarakat Indonesia memang dipenuhi banyak kultur yang condong ke arah misteri. Jin, setan, tahayul, bertebaran dalam cerita-cerita supaya anak kecil tidur siang dan menurut pada orang tua. Budaya pop khususnya film, mulai tahun 70an, juga sudah menampilkan horror sebagai jualan utama. Suzanna, bertanggung jawab penuh dalam menyebarkan kultusnya.

Bisa dibilang Risa adalah satu dari sekian perempuan yang, sama seperti Suzanna, punya passion pada dunia mustik dan menjadikannya sebagai hiburan. Di era YouTube dan semua orang bisa saling berkarya sebebas mungkin, pemain yang mengkomodifikasi misteri tentu bukan hanya Risa.

Tapi Jurnalrisa berada pada kelasnya sendiri. Dengan kredibilitas Risa sebagai ‘orang yang diburu hantu’—menurut pengakuannya di teaser—Jurnalrisa bisa amat digemari dan melahirkan banyak fanbase di berbagai kota, selain Bandung dan Surabaya.

Komentar-komentar yang menuduh kalau Jurnalrisa hanya rekayasa dan settingan belaka, belakangan ini memang banyak beredar. Saya pun juga tak tahu kebenarannya. Tapi toh penggemar seperti Sarah di luaran sana tetap solid. Percaya bahwa karya Risa tak akan mengecewakannya.

“Semoga Jurnalrisa tetap ada terus dan tidak terpengaruhi oleh orang orang yang berkomentar tidak benar dan ingin menjatuhkan. Semoga juga bisa tetap menginspirasi banyak orang dan konten kontennya bermanfaat bagi banyak orang,” ujar Sarah.

Demi memungkasi pembicaraan, saya tertantang mengetahui video Jurnalrisa favorit Sarah. Ini bisa saya jadikan referensi untuk saya tonton nanti. Saya sudah scrolling Jurnalrisa dan rasa-rasanya, saya bisa mengatasi ketakutan. Ah, ngene ae mosok wedi rek.

Tapi pernyataan Sarah selanjutnya membuat saya berpikir ulang.

"Kalau menurut saya sih, yang terbaik ya episode Jurnal Asih. Mengajak beberapa orang di luar tim Risa dan terekam juga di videonya, kalau banyak banget yang kemasukan di lokasi itu. Lumayan seram juga saat lihat sosok Asihnya berbicara langsung, cerita panjang banget di episode itu,” pungkas Sarah, bangga.

Hihihi, Podo ae. Merinding disco, bro..


KOMENTAR
Liputan TERKAIT