Surabaya besar di tangan santri. Dalam sejarahnya, santri di kota ini punya peran dalam banyak momentum penting. Mulai dari berdirinya Nahdatul Ulama (NU), sampai peristiwa 10 November yang konon melibatkan banyak santri dari berbagai penjuru.

Berbicara santri di Surabaya juga tak bisa lepas dari Kampung Ndresmo yang di wilayah Jagir Sidosermo. Di sini, ada riwayat KH Sayyid Ali Akbar dan para santrinya yang punya peran penting dalam mengusir penjajah.

Dalam satu kisah disebut, Belanda sampai kebingungan karena banyak bala tentaranya tewas misterius tiap kali melintasi Ndresmo. Kepalang pontang-panting karena tak bisa mengatasi kekuatan santri. Pating pecotot tak karuan, ledeh karepe dewe, hingga akhirnya minggat dari Indonesia.

Ndresmo sejatinya adalah fenomena unik: sebuah kampung santri di antara riuh-rendah kota. Di kampung teduh ini, banyak pondok pesantren berdiri. Para santri juga tampak mendominasi aktivitas kampung. Jadi jangan heran kalau suasana di sini amatlah santuy dan tenang.

Mungkin inilah yang membuat Eri Cahyadi, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, menyiapkan kawasan Ndresmo sebagai Kampung Santri. Penataan ini akan menjadikan lokasi bersejarah dan legendaris tersebut sebagai jujukan wisata religi.

Jadi kamu punya opsi lain kalau ingin bertamasya sekaligus beribadah. Sambil menyelam minum air. Sambil dolan sambil ngalap berkah!

Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober ini bisa jadi momentum yang pas untuk memulai. Menurut Eri sih, Ndresmo memang jadi kawasan pondok pesantren legendaris dari era kolonial sampai sekarang. Tak heran kawasan ini akan ditata sebagai Kampung Santri.

“Tahun ini infrastruktur dasarnya sudah kita benahi. Mulai dari pavingisasi, rehab bangunan-bangunan pondok, juga pemugaran makam Assayyid Ali Ashgar Basyaidan,” ujar Eri.

Tak hanya itu, pihaknya juga akan fokus pada potensi pengembangan pondok-pondok di Ndresmo. Ini karena kedatangan para santri yang datang dari berbagai daerah di Indonesia membuat Ndresmo bisa jadi jujukan wisata religi.

“Hampir setiap bulan selalu ada pengajian, mulai sholawatan sampai istighosah. Nah, event-event religi ini bisa kita tata dan kelola agar lebih banyak orang datang. Dengan sendirinya nantinya bisa menggerakkan ekonomi warganya, termasuk para santri,” tambah Eri.

Kalau penataan kegiatannya optimal, akan semakin banyak masyarakat yang mengikuti pengajian di Ndresmo. Eri berharap, ini bisa menggerakkan ekonomi warga, termasuk para santri juga. Potensi ini tak bisa dianggap remeh.

Tak berhenti sampai di situ, jaringan Ndresmo rencananya juga akan dikembangkan dengan pondok-pondok pesantren luar Surabaya. Terutama pondok yang punya inovasi dalam pengembangan ekonomi santri.

“Beberapa pondok yang saya temui memberdayakan santri di bidan perkebunan cokelat, kopi, bahkan sudah memiliki jaringan penjualan kopi hingga ke daerah-daerah,” tambahnya.

Sementara itu Kyai Haji Mas Ahmad Nasrohuddin, salah satu kyai Ndresmo menyatakan, Ndresmo memang sudah layak jadi Kampung Santri. Di samping karena banyaknya santri dan pondok pesantren, keunikan Ndresmo yang berada di tengah kota juga bisa menjadikannya daya tarik.

“Kami sudah mendengar adanya wacana Kampung Santri dari Pemkot. Saya kira ini jadi hal yang positif. Kami dan Pemkot akan membahas lebih jauh lagi rencana ini. Alhamdulillah, beberapa pembenahan sudah dilakukan Pemkot di Ndresmo. Ini jadi langkah yang baik sebelum membahas lebih jauh lagi soal pembangunan Kampung Santri,” kata Kyai Nasrohuddin.

Begitu pula dengan KH Agoes Ali Mashuri alias Gus Ali, pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat. Beliau amat setuju dengan ide Kampung Santri ini.

“Ide Kampung Santri ini menarik. Apalagi Ndresmo merupakan kawasan yang sangat legendaris. Saya setuju. Saya dukung!” kata Gus Ali beberapa waktu lalu saat mengisi pengajian di Ndresmo.

Kamu nggak perlu jadi santri kok buat mampir ke Ndresmo. Tapi kalau kamu pengen merasakan sensasi jadi santri dalam sehari, Ndresmo bisalah dikunjungi. Gimana?