Senin (14/10) lalu, markas kami di daerah Palm Spring Regency Jambangan Surabaya, penuh sesak dengan kehadiran ragam manusia. Mahfud Ikhwan, penulis ciamik yang kami culik dari Lamongan bisa jadi adalah pemicunya.

Dengan kedok diskusi soal apapun—lokalitas sastra, film India, bal-balan, dan hal lainnya—para manusia ini mencoba mengambil celah: kapan lagi coba bisa bertemu Cak Mahfud dengan jarak tak lebih dari seperlemparan buku?

Saya sih belum baca buku karya Cak Mahfud—sama sekali. Jelas saya adalah lulusan sastra bebal yang tidak sastrawi sama sekali. Tapi toh diskusi berjalan cair. Segoblok-gobloknya saya, saya akhirnya sadar bahwa Cak Mahfud sama sekali bukan penulis berlagak top dan formal.

Gayanya nyantai. Kaus abu-abu. Sepatu Vans Authentic. Tas ditenteng sendiri. Buku-buku yang akan dijual dibawa sendiri. Dalam mukanya ada raut muka lelah, tapi senyumnya yang terus dikembang-kempiskan membuat acara ngobrol bareng ini tampak begitu hangat.

Ditambah bergelas-gelas kopi, teh, rujak Lamongan, dan kletikan-kletikan. Rasa-rasanya seperti kunjungan bertamu di mana sang tuan rumah adalah bapak bijak yang bisa mengajarimu tanpa kamu merasa digurui. Ya begini ini Cak Mahfud yang apa adanya.

Diskusi kali ini juga tak lepas dari andil serta Klub Seri Buku (KSB), perkumpulan independen progresif yang bertujuan menumbuh kembangkan literasi di Surabaya. Baskoro, salah satu dedengkot KSB, menyodorkan tema sekaligus moderator untuk mengisi acara. Ini membuat saya malu sendiri karena belum membaca karya Cak Mahfud sama sekali, sementara teman-teman ini canggih benar.

Pada pembuka acara, Cak Mahfud duduk bersila menjamu semua manusia tadi, lantas mulai berbicara ngalor-ngidul soal proses awal kepenulisannya.

Ya seperti diskusi bareng penulis kebanyakan, para peserta penasaran, kok bisa sih Cak Mahfud jadi penulis, apa rahasianya, tekniknya gimana, dan lain sebagainya—seolah semua itu bisa dicopy-paste langsung dan menjadikan para peserta penulis gaek juga.

Cak Mahfud bisa saja membagikan semua rahasianya. Tapi tentu dalam melakukan semua rahasia itu, kalian tetap butuh proses, dong!

“Aku pernah menulis tentang kucing bernama Melati. Ya itu inspirasinya ya dari lagu dangdut ‘melati, melati, harum dan mewangi,’” ujar Cak Mahfud. “Karyaku memang kebanyakan identik dengan pedesaan sih, meskipun kadang juga mencibir kaum perkotaan.”

Intinya, kata Cak Mahfud, karya sastra bisa mengambil sumber inspirasi dari lingkungan terdekat di sekitar. Inilah yang nantinya bisa dinamakan lokalitas sastra. Terasa relate, dekat, dan punya nyawa karena kita sendiri yang mengalami. Nggak tahu lagi sih kalau lingkunganmu melulu kamu dan pacarmu.

Cak Mahfud sendiri banyak terinspirasi dari Pantura—sebuah jalur legendaris bikinan Deandels—yang punya kultur terbuka, gila-gilaan, dan mudah menerima hal baru.

Pantura jugalah yang mengenalkan Cak Mahfud pada musik India, sesuatu yang akhirnya mendorongnya mulai mengkaji tentang budaya India dan menuliskannya dalam buku nonfiksi  Aku dan Film India Melawan Dunia (2017).

“Urip kok mung Jepang-jepangan. Lapo se. Sekali-sekali ndelok film India lah,” ujarnya sambil terbahak lantas dengan bangga mengakui kalau dirinya bisa jadi adalah seorang India Snob.

Cak Mahfud juga percaya bahwa relasi daganglah yang membentuk kebudayaan kita saat ini, termasuk budaya pop. Semuanya dibawa oleh pedagang, entah dari India, Arab, Inggris, Gujarat, dan sebagainya. Lalu lintas Pantura adalah salah satu pintu masuknya.

Selera Mahfud tak berhenti pada sastra atau film India. Di level nonfiksi, Mahfud sempat juga menulis buku yang menyorot bal-balan alias sepakbola, langsung tanpa tedeng aling-aling dalam buku Dari Kekalahan ke Kematian (2018).

Buku ini, sesuai judulnya, berisi “keluhan, makian, ratapan—alih-alih catatan seorang pencinta sepakbola Indonesia yang putus asa.”

“Kalau Papua merdeka, mereka akan naik sepakbolanya. (Ini karena) sepakbola kita (Indonesia), sengaja dibuat busuk. Semua tahu itu,” ujarnya. “Saya cuman bisa marah kalau ngomongin sepakbola Indonesia. Saya lama nggak memikirkan itu semua.”

Membahas bal-balan dengan Cak Mahfud memang butuh waktu lebih panjang. Dirinya mengaku tak bisa terkotakkan pada satu fanbase tim bola tertentu, mengingat banyak laga dan tim yang dia amati. Tapi, Cak Mahfud mengaku lebih suka menulis tim-tim underdog.

“Saya lebih suka nulis memoar tim-tim kasta bawah, kayak memoar salah satu fans Bromley FC, tim paling bawah di kasta liga paling bawah di Inggris sana,” ujarnya.

Diskusi pun berakhir dengan kemenangan Cak Mahfud mendoktrin berbagai ide, insipirasi, dan sudut pandang lain yang belum pernah kita dapatkan sebelumnya. Kami pun tak lantas berhenti di sini. Kami langsung membawa lagi Cak Mahfud lagi, dengan sepeda motor, menuju Depot Bebek Wachid Hasyim Jemursari.

Sepiring bebek kami tandaskan beriring obrolan tentang sastra Jawa Timur yang telah lama mati, kultus Budi Darma, sampai betapa menariknya buku-buku Nick Hornby.

Saya memang belum membaca Cak Mahfud—dan bahkan hampir 80 persen tak paham apa yang sedang dibicarakan. Hanya dengan Nick Hornby-lah saya dan penulis kondang ini bisa tersambung. Inilah yang membuat saya merasa beruntung.

Malam sudah sedemikian pekat. Gantian Diar Chandra dari Jawa Pos yang hadir, seolah membebaskan Cak Mahfud dari aksi penculikan kami. Secangkir kopi dan beberapa cerita kemudian, Cak Mahfud menguap sambil berbisik ke Diar.

“Ngantuk.”

Perjalanan pun dimulai lagi tepat pukul setengah satu dini hari. Diar gantian membonceng Cak Mahfud yang akan kembali menuju Jogja, mengantarnya menuju Bungurasih. Sementara kami, hanya bisa haha-hihi dan tertawa, merencakan aksi penculikan selanjutnya.