Mari kita ke Bali. Jaraknya hanya seliter bensin dari sini. Tak sampai ratusan ribu memakan saldo Gopay. Tak perlu menginap karena kita akan pulang-pergi. Mari kita ke Bali. Bukan Bali yang nun jauh di seberang pulau sana. Ini Balinya Surabaya.

Mari kita ke Pura Agung Jagat Karana, di kawasan Perak Surabaya.

Kalau kamu kebetulan sedang di Surabaya dan ingin merasakan suasana Bali, kamu jelas tak perlu jauh-jauh. Cukup datang ke Jl. Ikan Lumba-Lumba no. 1 Surabaya, dekat Makam Mbah Ratu. Pura Agung akan menyambutmu. Dengan segala tradisi, rindu damai, dan semilir sepoi-sepoi.

Nuansanya, Bali asli. Banyak ukiran dan arca dewa-dewi khas pura-pura di Bali. Tak memakai biaya masuk—tempat ini seperti cocok buatmu yang low budget tapi tetap ingin stay eksis di feed Instagram. Tapi jangan norak. Jangan berlebihan. Ini pura, bukan wahana wisata yang bisa kamu jelajahi seenak udel.

Dalam sejarahnya, pura ini diresmikan pada 1968—dan jadi yang tertua di Surabaya. Terdapat tiga bagian pura, yakni Nista Mandala (Jaba Luar), Madya Mandala (Jaba Tengah), dan Utama Mandala (Jeroan).

Pada Nista Mandala, terdapat ornamen patung yang menggambarkan perempuan cantik sebagai ibu ilmu pengetahuan, yakni Dewi Saraswati. Beliau digambarkan berdiri di atas bunga teratai dan punya empat tangan yang masing-masing memegang pusaka sakral.

Sementara di Madya Mandala, kamu bisa melihat dua bale yang berjejer. Di sini, kamu juga bisa melihat gamelan khas Bali. Kalau  lagi beruntung, biasanya ada sekehe gong (penabuh gamelan Bali) dan Pragina (penari)  yang sedang berlatih.

Di Madya Mandala pula kamu bisa menemukan pembatas antara Jaba Tengah dan Jeroan berbentuk bangunan berelief bernama Kori Agung. Bangunan ini jadi andalan spot foto karena bentuknya yang khas dan megah.

Berfoto di sini—kalau-kalau didasari niatan pamer—akan membuat sohib toxic yang kebetulan mengikuti media sosialmu akan merutuk kesal: nang Bali ta arek iki? Tapi toh atas dasar gengsi sosial, mereka tak akan bertanya, hanya akan pindah platform untuk nyinyiri kamu.

Mari masuk ke bagian pura utama, Utama Mandala. Di sini adalah area umat Hindu bersembahyang karena terdapat Padmasana sebagai tempat berstananya Hyang Widhi Wasa, Tuhan dalam Agama Hindu.

Kamu tentu sebagai kaum beradab tahu harus berbuat apa. Jaga sikap adalah nomor satu.

Selain itu, ada pula tempat pemujaan Dewa Ganesha atau Ganapati di sisi kanan Utama Mandala. Tapi perlu diingat, tak semua orang bisa masuk karena area ini bisa dibilang sakral.

Pada hari raya tertentu, kamu bisa menyaksikan ritual melasti, yakni penyucian Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (diri sendiri) dalam rangka menyambut Nyepi. Sementara Melasti hanya diadakan setahun sekali dan salah satu rangkaian acaranya adalah pawai ogoh-ogoh.

Kamu bisa melihat pawai ogoh-ogoh di Pura Kenjeran yang diadakan setiap tahun.

Pura Agung ini memang termasuk wisata religi di Surabaya, jadi kamu bisa berkunjung untuk sekadar foto-foto di Madya Mandala dan Nista Mandala. Tapi ingat, jangan berisik. Bila butuh pendamping, kamu bisa kontak dulu pengurus pura melalui Yayasan Pura Agung Jagat Karana.

Kalau mau masuk, kamu juga jangan kebiasaan mbablas ae. Harus izin dulu ke Pak Pecalang di area parkir. Nanti kamu akan diarahkan untuk pakai kain dan senteng (selendang pengikat pinggang).

Saran terbaik: lebih enak sih berkunjung pas weekdays. Ini karena pada hari Minggu biasanya ramai umat beribadah dan siswa sekolah minggu.

Kita sudah ke Bali. Jaraknya hanya seliter bensin dari sini. Tak sampai ratusan ribu memakan saldo Gopay. Tak perlu menginap karena kita akan pulang-pergi. Kita sudah ke Bali. Bukan Bali yang nun jauh di seberang pulau sana. Ini Balinya Surabaya.

Dan benar, Pura Agung Jagat Karana memang bagaikan oase.