“Kalo ada yang bilang negara ini thogut, sinio tak paku lambemu, karena negara ini dari dulu berjalan atas asas Islam!” tegas Gus Muwafiq, kyai kharismatik pengasuh salah satu pondok pesantren asal Jogja di acara Malam Tirakatan Resolusi Jihad – Haul Para Syuhada dan Pahlawan yang digelar Selasa (29/10) malam, di pelataran Tugu Pahlawan Surabaya.

Dengan rambut panjang yang tergerai-gerai terkena angin panas area Jl. Pahlawan, orasi tegas dari Gus Muwafiq yang menyindir—ehm you know lah—langsung disambut histeris para santri dari segala penjuru Jatim yang datang berduyun-duyun, memenuhi rumput tugu perjuangan ini.

Kamu yang kebetulan hadir pasti bisa merasakan bagaimana vibe dari crowd ini. Seperti katakanlah, Soundrenaline atau Synchronize Fest. Bedanya, yang datang berjejalan memakai sarung dan kopiah.

Pekik dan kibar bendera di acara yang dimulai sejak pukul delapan malam ini nyatanya tak hanya diisi shalawat dan doa-doa, tapi juga gelegar ceramah penuh semangat juang. Di antaranya dari Gus Reza Lirboyo, dan yang sedang di atas panggung saat ini, Gus Muwafiq.

“Tak ada yang namanya Hari Pahlawan 10 November tanpa 22 Oktober, karena di 22 Oktober-lah, Resolusi Jihad di Surabaya dikumandangkan oleh banyak kyai, salah satunya Mbah Hasyim Asyari!” ujar Gus Muwafiq.

Ulama berusia 45 tahun ini kemudian menunjukkan keahliannya merunut “silsilah murid-kyai-murid-kyai.” Mulai dari Mbah Hasyim, Kyai Cholil, sampai ke Sunan Kalijaga, hingga Sayyidina Ali dan yang terakhir, sampai pada Baginda Rasulullah SAW. Dari nama-nama itu, ada banyak nama kyai penghubung lain, yang tanpa ragu dirapal Gus Muwafiq seolah sudah ngelontok di kepalanya.

Ulama kondang satu ini memang punya kelebihan—yang konon katanya—sebagai penghafal sejarah gaek.

Acara yang juga dihadiri Eri Cahyadi, Kepala Bappeko Kota Surabaya mewakili Tri Rismaharini, Walikota Surabaya yang kebetulan berhalangan hadir ini memang dimaknai untuk merayakan banyak momentum. Ada Hari Santri, Sumpah Pemuda, Resolusi Jihad, dan Hari Pahlawan 10 November mendatang.

Eri Cahyadi sendiri sesaat sebelum acara dimulai menyatakan, Resolusi Jihad adalah pemicu perlawanan sengit rakyat Indonesia melawan tentara sekutu pada 10 November 1945.

“Resolusi Jihad diawali dari pertemuan Bung Karno dan Mbah Hasyim (KH Hasyim Asyari) di Pondok Pesantren Tebu Ireng. Bung Karno bertanya, lebih tepatnya minta fatwa, bagaimana umat Islam menyikapi kehadiran tentara Inggris,” kata Eri.

Pertemuan Bung Karno dan Mbah Hasyim itu akhirnya menandai momen paling bersejarah yang memicu perang besar 10 November. Perang entek-entekan, get-getan, dengan keringat, darah, dan air mata arek-arek Suroboyo saat itu, yang memang didominasi arek santri.

Menurut Eri, saat itu, Bung Karno sejatinya hanya ingin meminta bantuan, namun caranya dengan meminta fatwa.

“’Umat Islam jihad fi sabilillah untuk NKRI. Ini perintah perang,’ begitu kata Mbah Hasyim yang kemudian diikuti Laskar Sabilillah, Laskar Hisbullah, para kyai, dan para santri. Keinginan mereka sudah tak terbendung lagi untuk melawan sekutu di Surabaya,” ujar Eri.

Karena itulah, kata Eri, Resolusi Jihad harus terus diperingati sebagai momen penting sejarah Indonesia.

“Inisiatif Bung Karno dan peran Mbah Hasyim menjadi pendukung utama faktor kemenangan arek-arek Suroboyo di perang 10 November,” tegasnya.

Karena itu, saat memberi sambutan pun, Eri menegaskan bahwa Pemkot akan terus menjadi bagian dari para santri, dengan cara mendukung penuh acara yang digelar NU. Ini lantas disambut pekik ‘NKRI Harga Mati!’ dari puluhan ribu santri yang hadir.

Malam bertambah pekat. Sorak-sorai dan kibar bendera NU dan santri semakin menyemarakkan malam di Tugu Pahlawan. Ramene pol!

Peringatan Resolusi Jihad tahun ini pun menyadarkan saya, yang kebetulan sedari tadi berada di belakang panggung, glendotan di dekat sound, bahwa santri bisa jadi termasuk pilar negeri. Banyak tokoh bangsa lahir dari santri, dan selamanya akan terus seperti itu.

Seperti kata Gus Muwafiq dalam orasinya, “Kita adalah murid pewaris para nabi. Santri selalu ngerti hal itu, dan tidak pernah melupakan guru-gurunya!”

Usai Gus Muwafiq melontarkan orasi juang nasionalisme NU, iringan hadrah dan musik pengiring yang terus digeber sampai malam, membuat saya tak pelak juga sadar bahwa mungkin, ada teknik double pedal atau bahkan hyperblast 300 bpm death metal grindcore dalam permainan rebana para santri.

Sebagai mantan jamaah metalliyah, permainan epik ini mengingatkan saya pada Andyan Gorust, Alvin Noxa, bahkan Abah Andris—yang tentu saja anggapan ini adalah guyonan belaka. Tapi toh santri NU memang doyan bercanda, malas berdebat terlalu serius, untuk lantas mengkafir-kafirkan yang berbeda.

Jadi, why so serious? Wong kyaine ae nyantai, kok!