DNK

Peringatan Nyepi Surabaya: Pawai Ogoh-ogoh yang Berakhir dengan Santap Babi

Peringatan Nyepi Surabaya: Pawai Ogoh-ogoh yang Berakhir dengan Santap Babi

Arak-arakan itu semakin mendekat. Dari tempat saya berdiri, tampak seperti pasukan perang yang bersiap menyerbu. Warna-warni teriring langit yang abu-abu. Tangan saya bergetar saat mulai mencoba mengambil gambar. Ogoh-ogoh yang diarak tanpa begitu meraksasa. Seolah bersiap memangsa..

Ini pertama kalinya saya menghadiri perayaan Pawai Ogoh-ogoh memeringati Hari Raya Nyepi 1941 Saka di dekat Pura Segara Kenjeran Surabaya (6/3)—yang terasa seperti karnaval. Ribuan orang, baik dari umat Hindu atau non Hindu, berkumpul merayakannya. Masih pukul empat sore, tapi hawa gelap semakin menyelimuti langit.

“Yang begini ini jarang ditemui. Setahun sekali aja. Upacaranya juga unik, nggak umum. Makanya banyak banget yang nonton. Ogoh-ogoh yang mau dibakar ini simbol Bhuta Kala. Jadi harus dibakar untuk menghilangkan sifat Bhuta Kala,” ujar Novi Dianty, anggota Banjar Surabaya, salah satu perkumpulan Umat Hindu Surabaya.

“Tahun ini ada yg beda. ‘Kan ada pura baru di daerah Koarmatim rawa sana. Notabene umatnya Angkatan Laut (AL). Jadi mereka tahun ini bawain theme bajak laut. Terus kostumnya juga ala AL. Tahun lalu nggak ada.”

Novi, yang aktif mengikuti perayaan Nyepi setiap tahunnya menyatakan, sebelum acara Pawai Ogoh-ogoh ini, ada beberapa rangkaian acara. Dimulai dari melasti atau penyucian, yang ilaksanakan dengan mengarak berbagai benda sakral pura seperti pratima (tempat ida bhatara berstana), dan pusaka ke tepi laut atau danau.

Upacara Melasti di Surabaya dilakukan 3 Maret lalu di Pantai Arafuru Kobangdikal.  Prosesinya dipusatkan di Pura Agung Jagad Karana, Perak Surabaya.

“Yang melaksanakan Melasti nggak cuman umat dari pura wilayah Surabaya, tapi juga dari luar seperti Laban, Bongso Kulon, Bongso Wetan, dan Sidoarjo,” ujar Novi.

Seluruh umat dari pura yang berbeda, berkumpul dulu di Pura Agung untuk melakukan persiapan. Setelah persiapan selesai, Pratima dan pusaka dari berbagai pura baru dibariskan sesuai denagn urutan. Selanjutnya mereka bergerakn Kobangdikal sambil mengaraknya diiringi gamelan tradisional.

“Menariknya, gamelannya nggak cuman Gamelan Bali, Umat Hindu Jawa yang tersebar di wilayah Gresik, malah pakai gamelan Jawa dan musik patrol sesuai budaya mereka,” tambahnya.

Sementara Novi berbincang dengan saya, ogoh-ogoh semakin mendekat. Saya dan kerumunan harus minggir sampai pinggiran jalan, menginjak-injak rumput tanaman. Ogoh-ogoh sudah dipersiapkan sebelumnya, dan diangkat beberapa orang memakai bambu. Tampak berat sekali, tapi karena itulah ada gotong royong.

Anak-anak kecil pun juga ikut terlibat. Mereka membawa ogoh-ogoh secara beramai-ramai, dan diiringi nyanyian. Ada banyak nyanyian, tapi saya hanya tahu Hymne Persebaya, diteriakkan saat pawai sambil menggoyang-goyangkan ogoh-ogoh.

Yang menyanyikan anak-anak. Memakai kaus hijau kebanggaan, tentu saja.

“Sebelumnya, sehabis Melasti, ada acara bernama Tawur Agung Kesanga. Persembahyangannya mulai pukul  tujuh (malam) di Nista Mandala Pura Agung Jagad Karana, yang dipimpin Ida Pedanda Gede Negara Jala Karana Manuaba.

“Filosofi Tawur Agung itu menyeimbangkan antara bhuta (makhluk yg lebih rendah dari manusia), dengan Bhuana Agung (bumi) dan Bhuana Alit (tubuh manusia). Proses penyeimbangannya dengan melaksanakan Mecaru atau pembersihan untuk menentramkan kehidupan manusia dari godaan jahat bhuta kala,” ujar Novi.

Saya mangut-mangut dan pura-pura mengerti apa yang dikatakan Novi. Ini terasa sangat awam, hal yang benar-benar baru. Sementara pawai ogoh-ogoh terus bergerak menuju Pura Segara Kenjeran untuk dibakar saat hari mulai gelap, Novi seolah terus mengajarkan ilmu baru pada saya.

“Setelah persembahyangan Tawur Agung, umat akan dapat tiga jenis tirta: Tirta Penglukatan, Tirta Wasupadha, dan Tirta Caru. Tirta pertama dan kedua untuk sembahyang, Tirta yang ketiga untuk Mecaru. Selain dapat tirta, kita juga dapat juga Janton Caru (biji beras)  dan Dupa Caru.

“ Jadii Tirtha caru, Janton Caru, sama Dupa Caru itu untuk Mecaru (membersihkan rumah dari kekuatan jahat). Tiga benda itu nggak boleh dimasukkan ke dalam rumah. Cukup di halaman saja pemakaiannya,” ujarnya. Saya mengangguk-angguk tanda tak paham.

Nyepi tahun ini mengangkat tema Dengan Catur Brata Penyepian, Kita Sukseskan Pemilu 2019. Harapannya, dengan spirit Nyepi, pemilu tahun ini bisa berjalan sejuk.

“Catur brata penyepian itu dilaksanakaan saat puncak Nyepi (hari ini), yang artinya empat macam pantangan yang tak boleh dilakukan saat Nyepi: amati geni, amati karya, amati lelungaan, dan amati lelanguan,” ujar Novi.

Amati geni berarti tidak boleh menyalakan api (kompor, obor, lampu, dan amarah). Amati karya berarti tidak bekerja/mencari penghasilan. Amati lelungaan berarti tidak berpergian keluar rumah. Sementara amati lelanguan artinya tidak bersenang-senang, nafsu duniawi.

Sama halnya seperti bulan Ramadan bagi umat Muslim, perayaan Nyepi hari ini adalah puasanya. Sementara disela-sela dan sesudahnya, ada makanan khas yang sepertinya tak afdol dikonsumsi dalam suasana Nyepi.

“Makanan khas ya sate babi sama lawar, dong,” ujar Novi. “Urutan yang enak, bahannya dari pig intestine: daging babi, lemak babi, minyak babi, base genep. Daging sama lemak dicincang kecil kecil, terus dimasukkan di pig intestinenya sampai padat. Terus dibakar, deh.

Pig intestine-nya kan panjang. Kalo mau makan diiris dulu. Pakai nasi hangat sama jukut ares ditambah tetelan babi.  Mantap abes. Intinya makanan berbahan babi paling dicari kalo hari raya gini,” ujarnya.  Saya mendegut ludah.

Hari mulai gelap. Setelah umat Hindu melakukan ibadah, tepat pukul enam lebih sedikit, ogoh-ogoh yang tak sampai berjumlah sepuluh buah, dibakar satu-persatu. Dari pandangan mata, yang tampak hanyalah api. Bhuto Kala terbakar, berasap, menguap ditelan kabut malam.

Novi yang memandu saya mengikuti serangkaian acara sedari tadi sore, mengajak saya meninggalkan lokasi sambil menunjuk satu depot di seberang sana.

“Sate babi mau?”

Pilihan yang sulit.


KOMENTAR
Liputan TERKAIT