Sore yang indah dan bahagia. Terik mentari menyorot rendah. Dari arah Gunungsari yang hangat, saya banting setir ke arah Wiyung, menuju sebuah destinasi yang kemungkinan akan jadi hype baru. Tempat itu adalah Taman Mozaik, yang dari namanya saja bisa dibayangkan kekerenannya.

Berlokasi di Jl. Wiyung Praja belok kiri—ada plang tanda jalan segede televisi 21”—tentu kamu tak akan kesulitan menemukannya. Kamu bisa ke sini dengan memanfaatkan Google Maps atau sekadar cangkem untuk bertanya.

Memang, sudah banyak taman di tengah kota. Tapi area pinggiran seperti Wiyung dan sekitarnya seolah tak pernah dijamah. Nah, Taman Mozaik inilah yang diharap bisa memberi sentuhan rerumputan rindang yang bisa jadi tempat pacaran di Surabaya Barat.

Ini biar awakdewe nggak melulu ke PTC, Pakuwon Mall, atau Food Junction yang alamak nyepitnya—apalagi pembangunan box culvert di daerah Sememi agak membuat jalan porak-poranda.

Sentuhan macam inilah yang diinginkan. Thanks, Pemkot! Kita semua bisa bergembira secara merata—meskipun harus parkir di kebun bekas tanaman pisang dan suguhan di tamannya sejauh ini masih berupa rumah kaca kopong warna-warni yang berkilatan terkena mentari celelengan pukul empat sore.

Bicara soal pacaran, ada dua sosok yang menarik perhatian saya di antara puluhan orang yang memadati area taman baru ini. Mereka tampak dimabuk asmara, saling jepret, saling gandeng, saling senyum, saling malu-malu. Mengingatkan saya pada cilikanku mbiyen.

Mereka adalah Khoir dan Eva, yang entah karena malu diwawancara atau terkena sindrom kecemasan sosial, mengaku sudah bekerja padahal raut mukanya masih segemas ABG. Malu-malu ini berlanjut saat keduanya mengaku tak berpacaran saat saya tanya.

Malu-malu kucing, malu-malu mau. Mungkin Khoir nantinya akan menjelaskan pada Si Eva lewat chat apa alasannya membantah hubungan mereka, atau mungkin pertanyaan saya bisa membuka jalan baru bagi mereka untuk lebih memperjelas hubungan. Terima kasihlah untuk saya.

“Foto-foto aja, kok. Sama nyari sore,” ujar Khoir yang mengaku baru pertama kali mengunjungi taman unik tepi kota ini. Pun Eva yang tampak gundah-gundah merona.

“Iya, baru pertama kali. Ya mungkin biar lebih enak tamannya bisa ditambahi tumbuhan atau apa gitu ya,” ujar Eva yang kemudian membuat saya melirik lahan yang masih kosongan. Ya, tempat ini sepertinya belum sahih disebut taman karena tak ada bunga-bunga.

Kebahagiaan dua muda-mudi tadi membuat saya sungkan mengganggu lebih jauh dengan pertanyaan nggak penting. Saya pun melabuhkan pandang pada Pak Agus, petugas keamanan perumahan setempat yang anaknya nyambi berjualan Mizone, Teh Pucuk, Aqua, di depan taman.

”Iki ngono bengi wes sepi, Mas, nggak onok lampune,” ujar Pak Agus sambil membetulkan topinya.

“Maklum, Mas. Jek kaet dibangun. Jarene se, bagian iko (sambil menunjuk arah lahan kosongan) arepe dibangun lapangan futsal ta basket ngono. Terus iki dikek’i taman baca sisan,” tambahnya.

Saya mengangguk-angguk. Ingin rasanya bertanya di mana warung penjual rokok terdekat, tapi kok sungkan. Sejauh mata memandang, di pinggiran taman hanya ada penjual minuman dan mungkin, goreng-gorengan. Itu pun sebenarnya dilarang.

“Lah ya’opo, Mas. Iki wingi anakku dodolan dilarang. Padahal gajiku mung sak juta tok, anakku iki yo arek yatim. (Hah? Yatim kan gak duwe bapak, lhah iki sing ngomong sopo??) Ibuke wes nggak onok. (Ooo, piatu maksude) Lak yo butuh gawe tambahan. Akhire tak undurno warunge iki ben nggak dilarang maneh,” ujar Pak Agus.

Beliau bisa saja terus bercerita dan saya akan semakin kesal—entah pada siapa saja yang sok-sokan punya kuasa di sana—tapi karena keterbatasan waktu, saya akhirnya pamit untuk memotret taman.

Kasihan Pak Agus. Untuk siapapun yang berniat membangun taman, perhatikan juga ekonomi warga sekitar. Kalau bisa, taman ini bisa jadi tambahan ekonomi lah bagi mereka.

Saya lantas mulai memotret banyak angle di Taman Mozaik. Saya bukan fotografer pro atau ulung, hanya saja banyak beruntungnya karena tone warna di waktu hampir senja selalu bagus. Senja memang selalu menipu turunnya mentari amat membantu. Jadi foto-foto saya sedikit gagalnya.

Mungkin kamu yang amatir bisalah foto-foto asal jepret di sini dan hasilnya toh tetap bagus—kalau tak cuman lumayan.

Cuaca mulai gelap dan saya mulai tertekan karena kehabisan batang tembakau. Saya memutuskan pamit ke Pak Agus, pura-pura tak menoleh pada Khoir dan Eva—ceileh—dan say goodbye pada panorama sore Wiyung yang akhirnya, bisa tampak seindah ini.

“Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan.”
(Chairil Anwar – “Senja di Pelabuhan Kecil”)